JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Majapahit pernah menjadi salah satu kerajaan terbesar di Nusantara. Wilayah kekuasaannya luas, pengaruhnya besar, dan namanya melegenda.
Tapi kejayaan itu tak bertahan lama, bukan karena diserang musuh luar, melainkan karena perang saudara. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Paregreg, terjadi antara tahun 1404 hingga 1406.
Awal Mula Perpecahan
Sumber masalahnya muncul setelah Raja Hayam Wuruk wafat. Saat itu, kerajaan Majapahit terbagi menjadi dua kubu besar yaitu Majapahit Barat yang dipimpin Wikramawardhana dan Majapahit Timur yang dipimpin Bhre Wirabhumi.
Awalnya, pembagian wilayah ini tidak langsung menimbulkan perang. Namun, seiring waktu, dua pihak ini mulai saling curiga dan berebut pengaruh.
Keduanya sama-sama merasa lebih pantas menjadi pemimpin utama Majapahit. Ketegangan makin panas saat terjadi perebutan wilayah Lasem, yang membuat hubungan kedua pihak semakin retak.
Kenapa Disebut “Paregreg”?
Nama “Paregreg” diambil dari bahasa Jawa Kuno yang artinya “bertahap” atau “bertingkat”. Nama ini cocok karena perang ini tidak terjadi dalam satu waktu, melainkan berlangsung perlahan dan panjang.
Pertikaian antara timur dan barat dimulai dengan serangan kecil, tapi lama-lama membesar jadi pertempuran terbuka. Selama dua tahun, pasukan dari dua kubu ini saling serang untuk menunjukkan siapa yang paling berkuasa.
Perang Saudara yang Melemahkan
Dampak perang ini sangat besar. Kedua belah pihak sama-sama kehilangan banyak prajurit dan sumber daya.
Infrastruktur Majapahit rusak parah, dan ekonomi pun terguncang. Sementara mereka sibuk bertikai, daerah-daerah taklukan Majapahit mulai lepas satu per satu, karena pusat kekuasaan melemah.
Selain itu, konflik ini juga membuat masyarakat kehilangan kepercayaan pada pemimpin. Raja dan bangsawan yang seharusnya melindungi rakyat malah sibuk berperang satu sama lain.
Akhir Perang dan Awal Kemunduran
Pada akhirnya, Wikramawardhana dari Majapahit Barat berhasil mengalahkan Bhre Wirabhumi dari Majapahit Timur. Meski menang, kemenangan ini tidak membawa kemuliaan. Majapahit sudah terlalu rusak dari dalam.
Sejak saat itu, kerajaan Majapahit tak pernah benar-benar pulih seperti dulu. Wilayah kekuasaannya semakin menyempit, pengaruhnya merosot, dan perlahan Majapahit kehilangan posisi sebagai kerajaan besar. Perang Paregreg menjadi titik balik yang menandai kemunduran Majapahit.
Pelajaran dari Sejarah
Perang Paregreg menunjukkan satu hal penting, kehancuran besar sering kali datang dari dalam. Majapahit tidak hancur karena invasi asing, tapi karena pertikaian keluarga dan perebutan tahta.
Sejarah ini sering dijadikan pelajaran bahwa kekuatan besar akan runtuh jika tidak ada persatuan di dalamnya. Konflik internal bisa lebih berbahaya daripada serangan dari luar. (Okta/Devi)
Editor : Martda Vadetya