Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Suku Osing di Banyuwangi, Cermin Peradaban Majapahit yang Tak Pernah Padam

Imron Arlado • Kamis, 16 Oktober 2025 | 01:40 WIB

Osing, cermin Majapahit yang tak pernah padam
Osing, cermin Majapahit yang tak pernah padam

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Saat kita mendengar nama Majapahit, pikiran kita seringkali terbawa pada kemewahan istana Trowulan, sumpah Gajah Mada, atau kejayaan Hayam Wuruk yang menyatukan seluruh Nusantara. 

Namun, di ujung timur Pulau Jawa, di kaki Gunung Ijen dan pesisir Banyuwangi, hidup sebuah masyarakat yang diam-diam mewarisi denyut kebudayaan Majapahit hingga hari ini. 

Masyarakat tersebut adalah Suku Osing, pelindung setia dari nilai-nilai, bahasa, dan tradisi yang berasal dari masa kejayaan kerajaan terbesar di Nusantara tersebut. 

Bahasa Osing menjadi salah satu peninggalan paling nyata dari warisan Majapahit. Dialek ini berbeda dari bahasa Jawa modern maupun Madura. Ia menyimpan beragam kosakata Jawa Kuno yang dulunya digunakan dalam lingkungan kerajaan dan dalam karya sastra seperti Negarakretagama dan Sutasoma. 

Contohnya, kata reng (orang), ireng (hitam), atau kènten (seperti itu) masih dipakai hingga kini. Di Desa Kemiren, Banyuwangi, anak-anak Osing tumbuh dengan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia di sekolah, dan bahasa Osing di rumah.

 

Baca Juga: Minyak Bunga dan Dupa, Wewangian yang Menyertai Kisah Kejayaan Majapahit

 

Bagi mereka, berkomunikasi dalam bahasa Osing bukan hanya sekedar berbicara, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan kepada nenek moyang mereka. 

Tak hanya bahasa, sistem kepercayaan dan ritual mereka pun masih memancarkan nilai-nilai spiritual yang berakar dari masa Hindu-Buddha Majapahit. 

Salah satu contohnya adalah tradisi Labuhan, sebuah upacara penghormatan terhadap kekuatan alam dan roh nenek moyang, yang biasanya dilakukan di pantai atau dekat sumber air. 

Upacara ini melambangkan hubungan antara manusia, alam, dan dunia gaib, konsep keseimbangan kosmos yang dulu sangat dijunjung tinggi di Majapahit. Ada juga Upacara Ruwatan, yang merupakan ritual pembersihan diri dari energi negatif atau nasib buruk, serta Tari Gandrung, tarian sakral yang dibawakan untuk menghormati Dewi Sri, simbol kesuburan dan kesejahteraan. 

Awalnya, Gandrung bukan sekadar hiburan, tetapi bentuk doa dan rasa syukur atas hasil panen. Saat ini, tarian ini telah berkembang menjadi simbol budaya Banyuwangi yang dikenal luas, tetapi akar spiritualnya tetap dihargai oleh masyarakat Osing. 

 

 

Prinsip keterbukaan dan toleransi juga menjadi warisan penting. Meskipun kini mayoritas masyarakat Osing memeluk Islam, elemen-elemen budaya Hindu dan kejawen masih tetap dihormati. 

Tidak ada pertentangan, karena bagi mereka, tradisi bukan sekadar agama, melainkan jati diri. Modernisasi membawa tantangan baru bagi keberlangsungan budaya Osing. 

Generasi muda kini banyak yang terpapar budaya populer dan mulai meninggalkan bahasa serta adat istiadat lama. Namun, berbagai upaya untuk melestarikan budaya tetap dilakukan.

Desa Kemiren dijadikan kampung adat yang dilindungi pemerintah daerah, tempat wisatawan dapat menyaksikan langsung kehidupan masyarakat Osing dari rumah-rumah tradisional, pertunjukan Gandrung, hingga upacara adat.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga secara rutin mengadakan Festival Gandrung Sewu, di mana ribuan penari Gandrung tampil di Pantai Boom, sebagai simbol kebangkitan seni dan budaya Majapahit di era sekarang.

 

Baca Juga: Begini Warisan Wastra yang Menyatu dengan Spirit Kerajaan Majapahit

 

Selain itu, bahasa Osing mulai diajarkan di sekolah-sekolah dasar setempat sebagai muatan lokal, agar anak-anak tidak kehilangan identitas leluhur mereka.

Majapahit mungkin telah lama runtuh, tetapi esensinya masih hidup di desa-desa kecil di Banyuwangi. Di sanalah, di antara hijaunya sawah dan aroma dupa saat ritual, sejarah tak sekadar diceritakan, tetapi dijalani setiap hari. (Tri Yulia Setyoningrum/Devi)



Editor : Martda Vadetya
#budaya banyuwangi #majapahit #suku osing #warisan nusantara #gandrung sewu