JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Penemuan lima jasad di Situs Kumitir, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Mojokerto, telah kembali menyingkap misteri sejarah Kerajaan Majapahit yang sampai detik ini masih menyimpan banyak sekalu teka-teki.
Penggalian yang dilakukan oleh Tim Arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI ini memperlihatkan adanya fakta-fakta menarik dan menimbulkan pertanyaan baru seputar kehidupan dan kematian yang terjadi pada zaman Majapahit.
Situs Kumitir yang diperkirakan sebagai lokasi Istana Timur Majapahit atau Istana Bhre Wengker, berdasarkan Naskah Negarakertagama dan peta yang dibuat oleh peneliti Belanda, menjadi sebuah tempat di mana ditemukannya kelima jasad ini.
Arkeolog yang bertanggung jawab atas penggalian tersebut kala itu, Wicaksono Dwi Nugroho, mengungkapkan bahwa penemuan kelima jadas tersebut mendukung teori bahwa Situs Kumitir merupakan bagian dari kompleks istana besar Majapahit.
Kelima tubuh itu ditemukan dalam posisi yang tidak biasa, dengan posisi telungkup dan kedua tangannya rapi terlipat di depan dada, sementara posisi kepala menghadap ke bawah.
Menurut Delta Bayu Murti, ahli paleoantropologi dari Universitas Airlangga yang turut serta dalam penelitian ini, posisi makam ini bukanlah hal yang umum dan menunjukkan konteks pemakaman yang istimewa dan terhormat.
Kerangka-kerangka tersebut ditemukan dalam susunan yang rapi pada kedalaman kurang lebih satu meter, tepatnya di sebelah timur reruntuhan Istana Bhre Wengker. Kepala jasad mengarah ke utara dengan sedikit miring ke barat, sementara kaki mengarah ke selatan sedikit miring ke timur.
Berdasarkan susunan ini, Delta menduga bahwa kelima individu tersebut mendapat penghormatan dan dimakamkan dengan cara khusus, berbeda dari korban perang atau pemakaman massal yang biasanya ditemukan.
Sebagai tambahan, tidak terdapat batu nisan satupun di lokasi tersebut, sehingga cara pemakamannya berbeda dari tradisi Islam yang datang jauh kemudian.
Temuan ini mencerminkan adat dan ritual pemakaman yang masih sedikit diketahui oleh masyarakat, memberikan wawasan baru mengenai praktik kematian di zaman Majapahit.
Keadaan kerangka-kerangka itu juga relatif utuh, dengan sekitar 70-80% dari tulangnya masih ada meskipun ada bagian kecil tulang yang sudah hilang seperti tulang tangan dan kaki.
Hal ini menunjukkan bahwa tanah dan lokasi penguburan mungkin sangat berperan dalam pelestarian jasad tersebut selama berabad-abad.
Meskipun diperkirakan berasal dari akhir era Majapahit sekitar abad ke-16 hingga ke-18, penentuan usia yang pasti masih akan terus dilakukan melalui metode uji karbon untuk memastikan masa asal kerangka yang ditemukan.
Penemuan menarik ini bukanlah yang pertama di lokasi yang sama. Sebelumnya, pada tahun 2021, satu kerangka dewasa ditemukan tidak jauh dari lokasi penemuan lima kerangka ini.
Tim arkeologi sekarang terus berkolaborasi dengan Tim Paleoantropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga untuk kajian lebih lanjut, termasuk rencana untuk uji DNA guna mengungkap identitas dan asal usul kerangka tersebut.
Penemuan lima kerangka manusia di Situs Kumitir tidak hanya menambah data autentik mengenai Kerajaan Majapahit, namun juga membuka penelitian baru tentang budaya, sosial, dan tradisi pemakaman dalam peradaban besar Nusantara yang pernah berjaya ini.
Ini adalah penemuan penting dalam memahami kerumitan sejarah Nusantara yang masih menyimpan banyak cerita dan misteri yang terpendam dalam tanah. (Dzafir Kirana Adelia/Devi)
Editor : Martda Vadetya