JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Meskipun Majapahit dipandang sebagai kerajaan besar yang bercorak Hindu-Buddha, banyak bukti sejarah menunjukkan bahwa ajaran Islam telah ada dan berkembang di wilayah Nusantara sebelum kerajaan tersebut runtuh.
Dengan meningkatnya perdagangan dan interaksi antar kawasan, Islam mulai merambah ke pusat-pusat kerajaan, termasuk di dalam lingkungan bangsawan Majapahit.
Penemuan situs pemakaman di Troloyo, Trowulan, menjadi bukti keberadaan masyarakat Muslim di era Majapahit.
Nisan-nisan di area itu mengandung tulisan berbahasa Arab serta mencantumkan tahun 1376 Masehi, menunjukkan bahwa beberapa masyarakat di sekitar ibu kota kerajaan telah menganut Islam.
Beberapa makam pun menunjukkan simbol-simbol matahari khas Majapahit, yang menandakan bahwa para pemiliknya bukanlah masyarakat biasa, melainkan orang yang memiliki hubungan dengan kalangan istana.
Para arkeolog memperkirakan bahwa umat Muslim di zaman itu hidup berdampingan dengan penganut agama Hindu serta Buddha.
Mereka kemungkinan berasal dari kelompok pedagang, pengrajin, atau pejabat yang memiliki ikatan kuat dengan jaringan perdagangan internasional.
Hal ini sangat mungkin mengingat bahwa Majapahit adalah kerajaan maritim yang terbuka terhadap pengaruh asing, terutama dari Gujarat, Persia, dan Tiongkok, tiga wilayah penting dalam penyebaran Islam pada abad ke-14.
Cerita lain menyebutkan bahwa sebagian keluarga bangsawan Majapahit mulai merangkul ajaran Islam melalui pernikahan dan dakwah ulama.
Di Lumajang, sebagai contoh, makam Arya Wiraraja diyakini sebagai salah satu tanda bahwa keluarga bangsawan di wilayah tersebut telah memeluk Islam.
Dari sini muncul kemungkinan bahwa pengaruh Islam mulai menyentuh kalangan istana, terutama menjelang masa pemerintahan Raja Brawijaya V.
Dalam catatan sejarah lisan dan legenda, Brawijaya V disebutkan pernah berinteraksi dengan para wali penyebar Islam, termasuk Sunan Kalijaga.
Beberapa versi bahkan menyebutkan bahwa raja tersebut kemudian memeluk Islam dengan nama Maulana Hasanuddin.
Meskipun kebenaran cerita ini belum bisa dipastikan secara historis, kisah tersebut memberikan gambaran tentang pertemuan antara tradisi istana dan ajaran Islam yang mulai tertanam di Jawa pada saat itu.
Selain pengaruh di kalangan bangsawan, jejak Islam juga terlihat dalam bentuk arsitektur dan budaya masyarakat Majapahit menjelang masa akhir kerajaan.
Rumah-rumah penduduk mulai menunjukkan ciri-ciri baru, seperti penggunaan teras untuk menyambut tamu dan orientasi bangunan yang lebih sederhana, menggambarkan nilai-nilai Islam yang mengutamakan kesederhanaan dan keterbukaan.
Komunitas Muslim Tionghoa juga tercatat berperan dalam penyebaran Islam di sekitar Majapahit. Catatan perdagangan menunjukkan adanya permukiman Muslim Tionghoa di pelabuhan-pelabuhan penting seperti Surabaya dan Gresik.
Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat lokal dan turut memperkuat jaringan dakwah serta ekonomi Islam di pesisir Jawa.
Meskipun tidak tercatat secara eksplisit dalam karya sastra resmi seperti Nagarakretagama, bukti arkeologis serta tradisi lokal menunjukkan bahwa Islam telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Majapahit menjelang keruntuhannya.
Di antara megahnya candi dan prasasti Hindu-Buddha, jejak-jejak Islam yang tersisa menjadi saksi bahwa harmonisasi antaragama telah berkembang di tanah Jawa jauh sebelum Indonesia dikenal sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. (RIZMA/Devi)
Editor : Martda Vadetya