Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Minyak Bunga dan Dupa, Wewangian yang Menyertai Kisah Kejayaan Majapahit

Imron Arlado • Rabu, 15 Oktober 2025 | 02:00 WIB

Dupa biasanya digunakan untuk upacara-upacara keagamaan
Dupa biasanya digunakan untuk upacara-upacara keagamaan

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Majapahit sering dikenang karena kekuatan militernya, armada laut yang tangguh, dan kebijakan politik yang sukses menyatukan berbagai wilayah di Nusantara. 

Namun, di balik megahnya istana Trowulan dan kebesaran Hayam Wuruk, ada sisi kehidupan yang lebih halus, lembut, dan spiritual yaitu dunia wewangian.

Buku Nagarakṛtāgama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 M menggambarkan kehidupan di istana Majapahit yang dipenuhi dengan berbagai upacara dan penghormatan bagi dewa-dewa. 

Dalam bait-baitnya, disebutkan bahwa udara istana dipenuhi wangi cendana dan gaharu, terutama saat upacara penyucian atau perayaan besar. Keharuman ini menjadi tanda bahwa tempat tersebut suci dan pantas menerima berkah dari yang ilahi.

Di masa Majapahit, aroma juga berfungsi sebagai simbol status sosial. Bangsawan dan pemimpin tinggi kerajaan memanfaatkan minyak dari bahan-bahan berharga seperti gaharu, cendana, kasturi, dan ambergris yang diimpor dari Timur Nusantara, India, hingga Arab. 

Keharuman tubuh menjadi lambang kemuliaan dan kebersihan jiwa. Catatan Ma Huan, seorang pelaut dari Dinasti Ming dalam Yingyai Shenglan (1433), menceritakan pendapatnya tentang masyarakat Majapahit.

 

Baca Juga: Teknologi LiDAR Ungkap Struktur Tersembunyi di Trowulan, Petakan Ulang Pusat Kota Majapahit

 

“Orang-orang Jawa beraroma harum, sebab mereka senantiasa mengolesi tubuh dengan minyak bunga dan dupa.” 

Pernyataan sederhana tersebut menggambarkan bagaimana aroma menjadi bagian dari identitas budaya Majapahit di hadapan dunia luar. Dalam spiritualitas Hindu-Buddha Majapahit, wangi adalah simbol kesucian.

Dupa, bunga, dan minyak wangi diyakini bisa memanggil roh leluhur dan para dewa. Pada upacara sraddha, pembakaran dupa gaharu dan taburan bunga tujuh rupa menjadi bagian sakral dari persembahan.

Asap dupa yang naik dianggap membawa doa menuju surga.  Begitu pula minyak harum yang dioleskan ke tubuh peserta ritual, dipercaya membersihkan unsur kotor dan memurnikan energi batin. 

Di dalam setiap perayaan besar kerajaan, dari pelantikan pejabat, penyucian pusaka, hingga perayaan panen, aroma harum selalu menjadi elemen yang tak terpisahkan.  

Kejayaan Majapahit sebagai pusat perdagangan membuat kerajaan ini menjadi simpul pertemuan berbagai aroma dunia.

Dari Gujarat datang patola dan kapur barus, dari Arab dan Persia hadir kasturi dan ambar, sementara dari Nusantara sendiri ada gaharu dari Kalimantan, cengkih serta pala dari Maluku, serta cendana dari Sumbawa. 

Semua bahan itu tidak hanya menjadi komoditas dagang bernilai tinggi, tetapi juga diserap dalam budaya istana.

Para pengrajin lokal memadukan bahan-bahan impor dengan ramuan tradisional, menciptakan minyak wangi yang khas dan unik, yang kini dapat kita sebut sebagai “parfum Majapahit. ” 

 

Baca Juga: Penggali Kubur Temukan Arca Dewa Diduga Peninggalan Majapahit, BPKW XI Bakal Beri Rekomendasi

 

Jejak budaya wangi Majapahit masih dapat dirasakan hingga kini. Tradisi siraman pengantin, melasti di Bali, atau sedekah bumi di Jawa selalu melibatkan bunga, dupa, dan air harum sebagai simbol penyucian. 

Unsur itu diwariskan secara turun-temurun dari konsep spiritualitas Majapahit yang memandang aroma sebagai bagian dari keseimbangan alam dan manusia.

Dari bau dupa di pelataran candi hingga semerbak minyak di tubuh raja, Majapahit menuliskan kisah kejayaannya dalam berbagai aroma. 

Setiap wangi adalah doa, setiap asap adalah persembahan. (Tri Yulia Setyoningrum/Devi)

 

Editor : Martda Vadetya
#Wewangian Tradisional #budaya nusantara #majapahit #sejarah indonesia #Spiritualitas Jawa