JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Keindahan budaya Nusantara tidak hanya terlihat dari candi, prasasti, atau sistem kerajaan dulu, tetapi juga dari makanan istana.
Makanan para raja zaman Majapahit memiliki makna tersendiri dan menjadi warisan kuliner yang sebagian masih bisa ditemukan hingga sekarang.
Dalam catatan sejarah dan kuliner, makanan raja-raja Majapahit sering disajikan dalam momen penting dan memiliki makna filosofis. Berikut beberapa makanan yang dahulu khas untuk istana dan masih bisa ditemukan saat ini:
- Tumpeng
Pastinya, orang-orang sudah sangat mengenal nasi kuning yang berbentuk seperti kerucut ini. Di puncak nasi tumpeng seringkali ditutupi dengan daun pisang.
Tumpeng adalah salah satu hidangan yang disukai oleh raja, bahkan menjadi favoritnya. Dalam prasasti Majapahit, para raja senang menikmati berbagai makanan yang disajikan dalam satu tempat. Hal ini dianggap sebagai tumpeng.
- Gudeg Manggar
Gudeg manggar adalah versi istimewa dari gudeg biasanya. Bahan utamanya adalah putik bunga kelapa yang disebut "manggar" dalam bahasa Jawa.
Berbeda dengan gudeg biasa yang menggunakan nangka muda, gudeg manggar punya rasa lebih lembut dan tekstur yang lembut.
Biasanya gudeg ini disajikan dengan lauk seperti tahu, telur bebek bacem, dan sambal krecek. Karena bahan dan cara pembuatannya yang khas, gudeg manggar sering dianggap sebagai makanan langka dan istimewa.
Kabarnya, gudeg manggar merupakan hidangan yang diciptakan oleh Putri Pembayun, putri dari Panembahan Senopati, raja Mataram Islam pada masa itu.
Menurut cerita rakyat, siapa saja yang memakan gudeg manggar dipercaya akan dikelilingi oleh aura keraton.
- Nasi Blawong
Nasi blawong adalah makanan yang dianggap cukup sakral dan dulunya hanya disajikan dalam acara keraton, terutama dalam perayaan ulang tahun raja (Tingalan Dalem).
Nasi ini dimasak dengan campuran rempah hingga berwarna merah, lalu ditaburi lauk seperti ayam laos, ayam bacem, daging lombok kethok, telur pindang, dan peyek ikan teri.
- Bistik Galantin
Bistik Galantin merupakan makanan tradisional Belanda yang menjadi sajian spesial di Keraton Surakarta. Hidangan ini adalah favorit di kalangan para penguasa di Keraton Surakarta dan sering disajikan sebagai sambutan untuk tamu kerajaan.
Tampilan Bistik Galantin cukup mewah karena memiliki banyak komponen, yang terdiri dari daging cincang yang dicampur roti dan telur, lalu dikemas dengan wortel, kentang goreng, kacang polong, dan saus.
- Lawar
Lawar adalah salah satu hidangan yang diyakini telah ada sejak masa Majapahit. Lawar terdiri dari berbagai jenis sayuran dan daging yang dicincang halus, semuanya dibumbui dengan merata.
Daging utama yang biasa digunakan dalam pembuatan lawar ini adalah daging babi, namun sebelumnya juga sempat menggunakan daging kura-kura.
Mengingat jumlah kura-kura yang semakin langka dan statusnya sebagai hewan yang dilindungi, sekarang pembuatan lawar tidak lagi menggunakan daging kura-kura.
Meskipun kerajaan Majapahit sudah lama runtuh, rasa dan nama beberapa hidangan kuno masih hidup dalam tradisi kuliner Jawa dan daerah lainnya.
Namun, banyak orang kini lupa atau tidak tahu makna budaya dan simbol yang ada di balik sajian tersebut. (RIZMA/Devi)
Editor : Martda Vadetya