JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Majapahit sering diingat karena kejayaan dalam bidang politik dan ketenteraan. Namun, di balik istana megah Trowulan dan nama besar Hayam Wuruk, tersimpan warisan halus yang tak kalah agung yaitu wastra Majapahit, kain tenun yang melambangkan identitas, spiritualitas, dan kekuasaan kerajaan terbesar di Nusantara.
Wastra tersebut bukan sekadar busana, melainkan simbol penting yang menggambarkan kekayaan budaya dan sejarah Majapahit.
Fakta visual mengenai keindahan wastra Majapahit dapat ditemukan dalam relief di berbagai candi seperti Candi Panataran, Candi Tegowangi, dan Candi Sukuh.
Sosok-sosok bangsawan, dewa, dan prajurit digambarkan mengenakan kain berpola rumit, di antaranya parang, kawung, dan patola. Motif-motif ini tak hanya memperindah rupa, tapi menandakan status dan spiritualitas.
Prasasti Waringin Pitu yang berasal dari tahun 1358 M juga secara jelas mencatat pemakaian kain sebagai elemen dari upeti dan persembahan untuk raja.
Tercantum jenis kain seperti sinjang songket, wastra sutra, hingga wastra gading. Informasi ini menunjukkan bahwa kain tidak hanya memiliki nilai estetika, namun juga berhubungan dengan aspek ekonomi dan politik.
Baca Juga: Dyah Pitaloka dan Luka Sejarah, Awal Keretakan Antara Sunda dan Majapahit
Dalam kehidupan keagamaan, wastra memiliki fungsi sakral. Dalam upacara sraddha, yang merupakan penghormatan untuk arwah leluhur, kain digunakan untuk membungkus arca yang melambangkan roh.
Warna dan motifnya dipilih dengan cermat karena dipercaya dapat mengantarkan roh menuju alam yang suci. Tradisi ini mencerminkan kepercayaan bahwa kain berfungsi sebagai penghubung antara dunia manusia dan alam spiritual.
Ia menjadi jembatan antara leluhur, alam, dan kekuasaan raja. Dalam kerangka kosmologi Majapahit, segalanya memiliki unsur keseimbangan, dan wastra adalah gambaran dari harmoni tersebut.
Kekayaan Majapahit sebagai kerajaan maritim membuat mereka mudah mengakses berbagai bahan berkualitas.
Catatan pelaut asal Tiongkok, Ma Huan, di dalam Yingyai Shenglan (1433) menyebutkan bahwa para bangsawan Majapahit mengenakan busana dari sutra halus berwarna merah dan emas.
Warna merah dianggap suci, lambang kekuatan dewa Brahma, sekaligus simbol kekuasaan. Sebaliknya, rakyat biasa mengenakan kain dari kapas dan serat alami yang diwarnai dengan bahan lokal seperti nila, soga, atau akar mengkudu.
Pewarnaan dilakukan dengan teknik tradisional, menggunakan perendaman berulang hingga menghasilkan warna yang tahan lama. Proses ini mengungkapkan kepiawaian masyarakat Majapahit dalam teknologi tekstil yang sangat canggih untuk zamannya.
Warisan wastra Majapahit tidak lenyap bersama runtuhnya kerajaan. Hingga saat ini, di wilayah Tuban, Kediri, Mojokerto, dan sekitarnya, masih terdapat pengrajin batik dan tenun tradisional yang melestarikan motif-motif kuno seperti sawat lar (sayap garuda) dan naga raja.
Baca Juga: Diplomasi Tersembunyi Raden Wijaya, Jadi Pondasi Terselubung Kerajaan Majapahit Capai Masa Kejayaan
Kedua motif itu dipercaya merupakan simbol kerajaan Majapahit yang menggambarkan kekuasaan dan pelindung semesta. Usaha revitalisasi juga terus dilakukan.
Melalui riset, pameran, dan rekonstruksi pola, para perajin muda mencoba menghidupkan kembali spirit Majapahit dalam kain modern.
Bagi mereka, wastra bukan sekadar benda dari masa lalu, tetapi merupakan narasi lembut tentang peradaban yang menenun spiritualitas, politik, dan keindahan dalam satu helai kain.
Dan hingga hari ini, setiap kali kain tradisional Jawa dikembangkan dan dikenakan, bayangan kejayaan Majapahit seolah kembali hidup lembut, sakral, dan tak tergantikan. (Tri Yulia Setyoningrum/Devi)
Editor : Martda Vadetya