Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Dyah Pitaloka dan Luka Sejarah, Awal Keretakan Antara Sunda dan Majapahit

Imron Arlado • Selasa, 14 Oktober 2025 | 01:25 WIB
Tragedi Perang Bubat mengubah aliansi kerajaan di nusantara, sebuah kisah tentang cinta, ambisi, dan kehormatan yang terluka abadi.
Tragedi Perang Bubat mengubah aliansi kerajaan di nusantara, sebuah kisah tentang cinta, ambisi, dan kehormatan yang terluka abadi.

Jawa Pos Radar Majapahit - Angin sore yang lembut menyentuh dataran Bubat, lokasi pertemuan yang seharusnya dipenuhi kasih sayang, berubah menjadi tempat yang dipenuhi darah. Di bawah cahaya langit yang gelap, sejarah menuliskan kata-kata paling pahit dalam hubungan antara Sunda dan Majapahit.

Di sisi lain pegunungan, di wilayah Pajajaran, Dyah Pitaloka Citraresmi berkembang seperti bunga istana. Wajahnya damai seperti udara, dan hatinya setia pada martabat bangsanya. Ketika berita tentang lamaran dari Raja Hayam Wuruk sampai, istana Sunda bersuka cita.

Ini bukan sekadar pengumuman cinta, tetapi sebuah jembatan berharga antara dua kerajaan besar ​​harapan bahwa dua dunia akan bersatu tanpa konflik.

Dengan rombongan yang penuh hormat, raja, bangsawan, dan pasukan terpilih berangkat ke timur. Kuda-kuda berlari mengikuti irama doa.

Di dalam hatinya, Dyah Pitaloka menjaga keyakinannya bahwa cinta dan kehormatan dapat bergandeng dalam satu pelukan.

 Baca Juga: Apa Saja Hidangan Khas di Era Majapahit? Yuk, Intip Sederet Kuliner Warisan Nusantara Ini!

Namun, di pusat Majapahit, ambisi mulai mengasah seperti pisau tajam. Gajah Mada, sang Mahapatih yang mengikat janji di Palapa, menilai kedatangannya bukan sebagai lamaran, melainkan sinyal untuk menyerah. 

Ia ingin sejarah mencatat bahwa Sunda tidak datang sebagai sekutu, tetapi sebagai berbagai macam kekuasaan. Dalam ketenangan, ia merancang takdir.

Pesanggrahan Bubat menjadi Saksi hening. Di sana, informasi tentang permintaan Mahapatih sampai ke telinga rombongan Sunda.

"Putri bukan untuk dinikahi, tapi dipersembahkan." Kata-kata itu menggema seperti petir di siang hari. Kehormatan Sunda tercederai, martabat terluka.

Raja Linggabuana menatap putrinya. Dyah Pitaloka membalas dengan tenang. Tiada rasa takut, hanya ada kebanggaan.

Karena mereka mengerti, kehormatan tidak dapat menjanjikan bahkan pada kekuasaan sebesar Majapahit.

 Baca Juga: Dari Temuan Relief Candi hingga Artefak, Begini Isi Dapur hingga Kisah Cinta di Masa Majapahit

Lalu, pertempuran pun meletus. Padang Bubat menjelma menjadi lautan darah. Bercampur debu, teriakan darah membahana menuju langit. Rombongan Sunda kurang jumlah, namun tidak kalah semangat.

Mereka jatuh satu demi satu, mempertahankan kejayaannya tanpa mundur. Di tengah hiruk-pikuk pedang dan tombak, Dyah Pitaloka berdiri  bukan sebagai pengantin, melainkan sebagai lambang perlawanan.

Ia tidak menantikan tangan Hayam Wuruk. Ia menancapkan konde ke dadanya sendiri. Dalam kesunyian, bunga mawar itu jatuh sebelum bisa diambil.

Raja Hayam Wuruk menangis. Ia mencintainya, namun cinta itu telah dirampas oleh ambisi orang lain. Gajah Mada tidak merayakan keberhasilannya, karena yang tertinggal hanyalah kekosongan. Di antara tumpukan jasad, sejarah mencatat bukan kemenangan, melainkan luka - luka.

Sunda membawa pulang kenangan tersebut, luka yang diwariskan dari generasi ke generasi, luka yang tak kunjung sembuh.

Dalam lagu-lagu rakyat, dalam mitos pernikahan, dalam bisikan malam, riwayat Dyah Pitaloka tetap hidup. Ia bukan sekadar seorang putri, ia adalah simbol harga diri yang tidak bisa dinegosiasikan.

 Baca Juga: Lembu Suro dan Majapahit: Legenda, Janji, hingga Larung Sesaji

Majapahit pun tidak terhindar dari bayang-bayang penyesalan. Kejayaan mereka tak pernah lagi dirasakan utuh. Nama Bubat menggantung di angkasa seperti bintang yang redup indah namun menyakitkan untuk diperhatikan.

Bertahun–tahun kemudian, orang-orang mulai menyebutnya “tragedi”. Namun bagi jiwa-jiwa yang lahir dari tanah Sunda, itu lebih dari sekadar kejadian. Itu adalah lagu yang diwariskan dari seorang ibu kepada anak: “Jangan menyerah pada pelanggaran.”

Saat ini, kota-kota telah berubah, Majapahit hanya tinggal nama, Sunda hanya tinggal kenangan. Namun suara Dyah Pitaloka tidak sirna. Ia bertumpuk di antara pepohonan, sungai, dan sejarah.

Perang Bubat mengajarkan bahwa cinta yang terperangkap dalam cengkeraman kekuasaan akan mati sebelum sempat mekar. Sejarah bukan sekedar catatan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah tetapi tentang siapa yang menjaga kehormatan hingga akhir. (Okta)

Editor : Martda Vadetya
#perang bubat #raja hayam wuruk #gajah mada #dyah pitaloka #mitos pernikahan #tragedi #sunda