Jawa Pos Radar Majapahit - Saat banyak kisah sejarah penekanan keberhasilan Raden Wijaya dalam mengalahkan Jayakatwang dan mengusir tentara Mongol, terdapat satu elemen krusial yang sering diabaikan, kemampuan diplomasi dan kelincahan strategi sosialnya.
Majapahit tidak hanya muncul dari konflik, melainkan dari keahlian dalam mengatur sumber daya manusia dan politik di tengah keadaan yang kacau.
Setelah jatuhnya Singasari akibat pemberontakan Jayakatwang, Raden Wijaya tampaknya kehilangan segalanya tahta, sekutu, dan juga visi untuk masa depan. Namun , pada saat itulah kepintarannya diuji.
Ia tidak langsung mengangkat senjata, tetapi membangun kemitraan baru dengan siapa saja yang dapat dijangkau.
Salah satu langkah strateginya adalah mewujudkan perdamaian dengan Arya Wiraraja, tokoh Madura yang sebelumnya bersekutu dengan Jayakatwang.
Aliansi ini bukan sekadar politik yang oportunistik; ini adalah upaya untuk menyelamatkan peradaban Jawa dari kehancuran yang berkepanjangan.
Baca Juga: Sosok Mpu Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang Gugur Karena Fitnah
Ketika pasukan Mongol datang pada tahun 1293, Raden Wijaya tidak menganggap mereka sebagai musuh semata, melainkan sebagai sarana untuk diplomasi internasional.
Ia merancang strategi berlapis berpura-pura patuh, bersekutu melawan Jayakatwang, kemudian berbalik menyerang Mongol setelah ia meraih kemenangan.
Tindakan ini mencerminkan prinsip klasik Jawa “nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake” menyerang tanpa operasi secara terbuka, menang tanpa batasan.
Yang menarik, Raden Wijaya dengan cermat menciptakan narasi simbolik. Nama “Majapahit” bukanlah pilihan yang sembarangan.
Buah maja yang pahit melambangkan masa sulit setelah keruntuhan Singhasari, namun juga mengungkapkan keyakinan bahwa dari kepahitan Kebesaran tersebut dapat muncul.
Dalam konteks politik Jawa kuno, simbol seperti ini memiliki kekuatan magis, ia menanamkan rasa kepemilikan pada masyarakat yang sedang kebingungan.
Lebih lanjutnya, Raden Wijaya mengembangkan hubungan sosial yang adaptif. Para pemimpin yang sebelumnya bukan sekutunya diberi peran di dalam struktur pemerintahan. Ini bukan tanda kelemahan, melainkan strategi untuk memperluas dukungan dan pengakuan.
Dalam pandangan kepemimpinan tradisional di Nusantara, ukuran kekuasaan tidak hanya terletak pada kekuatan angkatan bersenjata, tetapi juga pada kemampuan mengatur keseimbangan antar kelompok.
Baca Juga: Kisah Pemberontakan Ranggalawe, Tokoh Penting Majapahit yang Berakhir Ditangan Kebo Anabrang
Aspek lain yang sering diabaikan adalah bagaimana Raden Wijaya membangun pusat pemerintahan yang terbuka serta strategi di Trowulan. Lokasi ini tidak hanya dipilih karena kesuburannya dan kenyamanan dalam konservasi, tetapi juga karena kedekatannya dengan jalur udara dan jalur perdagangan.
Dengan kata lain, sejak awal, Majapahit direncanakan tidak sekadar menjadi kerajaan agraris, tetapi juga sebagai pusat ekonomi dan hubungan diplomatik maritim.
Pendekatan Raden Wijaya dalam menangani pemberontakan dari dalam juga mencerminkan karakter kepemimpinan yang unik. Saat para tokoh seperti Ranggalawe dan Lembu Sora memberontak, ia tidak segera menghancurkan semua keturunan mereka.
Sebagian malah tetap diberikan posisi dalam lingkungan politik. Ia menyadari bahwa perdamaian jangka panjang lebih berharga dibandingkan kemenangan sementara.
Dari semua langkah tersebut, dapat disimpulkan bahwa Majapahit tidak hanya terbentuk dari kekuatan senjata, tetapi juga dari kecerdasan sosial dan diplomasi Raden Wijaya.
Inilah landasan yang kelak menjadikan Majapahit sebagai kerajaan multikultural dan multietnis terbesar di Nusantara. (Okta)
Editor : Martda Vadetya