JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Lembu Suro dan kejayaan masa Majapahit terkait erat dengan pergeseran kekuasaan serta tradisi yang mendalam dalam narasi sejarah Nusantara.
Lembu Suro dikenal sebagai representasi kekuatan dan semangat pertarungan dalam cerita-cerita tradisional masyarakat Jawa.
Di sisi lain, Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar yang ada di Indonesia, mencapai puncak kemakmuran pada abad ke-14 Masehi. Salah satu tokoh penting dalam mengembalikan kejayaan Majapahit adalah Tribhuwana Tunggadewi.
Ia memegang kekuasaan antara tahun 1328 dan 1350 M, menggantikan saudaranya, Jayanegara. Masa pemerintahannya menunjukkan awal mula stabilitas politik setelah era yang penuh gejolak.
Sebelum Tribhuwana naik tahta, Majapahit menghadapi berbagai pemberontakan, seperti Ranggalawe, Lembu Sora, Nambi, dan Kuti. Semua gejolak ini memuat fondasi kekuasaan kerajaan.
Setelah Tribhuwana Tunggadewi berkuasa, langkah awalnya adalah membangun kembali kepercayaan antara pejabat kerajaan dan rakyat.
Ia menikah dengan Sri Kertawardhana yang juga berasal dari keturunan Singasari, yang semakin memperkuat legitimasi posisinya. Dukungan dari kalangan bangsawan Singasari menjadikannya memiliki posisi yang kuat dalam kekuasaan.
Lebih jauh lagi, Tribhuwana dikenal sangat tegas dalam menanggulangi pemberontakan. Pemberontakan besar terjadi di kawasan Sadeng dan Keta pada tahun 1331.
Ia memimpin pasukan Majapahit untuk menumpas perlawanan tersebut. Kemenangan ini menjadi momen krusial dalam mempertahankan kesatuan Majapahit.
Setelah situasi politik dalam negeri menjadi stabil, Tribhuwana melantik Gajah Mada sebagai Mahapatih menggantikan Arya Tadah.
Keputusan ini menjadi langkah strategi untuk memperkuat Majapahit. Gajah Mada kemudian melafalkan Sumpah Palapa, sebuah komitmen untuk menyatukan Nusantara.
Dalam periode pemerintahannya, sistem pemerintahan Majapahit diperkuat melalui beberapa prasasti seperti Prasasti Berumbung dan Batur.
Prasasti ini mencatatkan struktur pemerintahan yang terorganisasi dengan baik dan menunjuk pejabat tinggi. Ini menjadi dasar yang kokoh bagi Majapahit untuk memperluas kekuasaannya.
Tribhuwana juga sepenuhnya mempercayakan Gajah Mada dalam melakukan ekspansi daerah. Pada saat ini, program politik Nusantara mulai dilaksanakan.
Ekspansi dilakukan ke berbagai wilayah, termasuk Bali dan Sumatra. Dengan langkah ini, Majapahit menjelma menjadi kekuatan besar di Asia Tenggara.
Dalam tradisi lisan Jawa, sering kali Tribhuwana dikaitkan dengan tokoh Prabu Kenja dan Damarwulan. Cerita ini menggambarkan dirinya sebagai ratu yang bijak dan tegas.
Lembu Suro dalam tradisi Jawa sering dimaknai sebagai simbol keberanian dalam menghadapi ancaman dan tantangan, mencerminkan semangat Tribhuwana yang berusaha mengembalikan kejayaan Majapahit.
Masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi menjadi dasar bagi zaman keemasan Hayam Wuruk dan Gajah Mada beberapa dekade kemudian.
Ia bukan sekadar ratu perempuan, melainkan juga sosok strategis dalam narasi sejarah Nusantara. Ia berhasil menyatukan kekuasaan, membangun stabilitas politik, dan memperluas wilayah Majapahit secara signifikan.
Kisah ini menunjukkan bahwa kontribusi perempuan dalam sejarah Kerajaan Nusantara memiliki dampak yang besar.
Lembu Suro sebagai simbol perjuangan dan Tribhuwana Tunggadewi sebagai pemimpin yang kuat menjadi dua elemen penting yang membentuk identitas budaya dan politik Majapahit.
Keduanya mencerminkan keberanian, kepemimpinan, serta strategi yang cermat dalam menjaga kejayaan Nusantara. (Okta/Devi)
Editor : Martda Vadetya