Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sosok Mpu Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang Gugur Karena Fitnah

Imron Arlado • Senin, 13 Oktober 2025 | 02:30 WIB
Ilustrasi Sosok Mpu Nambi (Sumber Foto: Instagram /@shokhehchannel)
Ilustrasi Sosok Mpu Nambi (Sumber Foto: Instagram /@shokhehchannel)

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Nama Mpu Nambi tercatat dalam sejarah sebagai patih pertama Kerajaan Majapahit serta figur penting yang mendampingi Raden Wijaya dalam mendirikan kerajaan besar tersebut.

Dirinya dikenal sebagai sosok yang cerdas, setia, dan terampil dalam strategi perang, namun akhir hidupnya berakhir tragis akibat intrik politik di kalangan istana.

Sejak awal berdirinya Majapahit, Mpu Nambi adalah salah satu orang yang paling dipercaya oleh Raden Wijaya.

Ia berperan dalam membuka hutan Tarik yang kemudian dijadikan pusat wilayah Majapahit.

Bersama tokoh lain seperti Lembu Sora, Ranggalawe, dan Kebo Anabrang, Nambi memiliki kontribusi besar dalam mengukuhkan kekuasaan Raden Wijaya setelah mengalahkan Jayakatwang dari Kerajaan Kediri dan mengusir pasukan Tartar dari Jawa.

 

 

Keberhasilannya dalam merencanakan strategi perang membawanya diangkat sebagai Patih Amangkhubumi Majapahit, posisi tertinggi setelah raja.

Sebagai mahapatih, Mpu Nambi dikenal sangat setia dan terampil dalam mengurus pemerintahan.

Ia bukan hanya hebat di medan perang, tetapi juga memiliki keahlian diplomasi dan administrasi yang sangat baik.

Dalam beberapa kisah, strategi militernya bahkan disebut mampu mengelabui pasukan Tartar yang saat itu dikenal sangat kejam dan tangguh.

Namun, masa jabatannya tidak berjalan lancar. Setelah wafatnya Raden Wijaya dan Jayanegara menduduki tahta, ketegangan internal mulai muncul di antara pejabat kerajaan.

Seorang tokoh bernama Mahapati diduga berniat untuk menggantikan posisi Nambi sebagai mahapatih.

 

 

Ia mulai menyebarkan fitnah dan menimbulkan perselisihan, yang membuat Raja Jayanegara curiga terhadap kesetiaan Nambi.

Fitnah ini bermula ketika Nambi meminta izin kepada raja untuk mengunjungi ayahnya yang sakit di Lumajang.

Saat ayah Nambi meninggal, Mahapati memanfaatkan momen tersebut dengan menyarankan agar Nambi menunda kepulangannya ke kerajaan. Nambi pun setuju, lalu Mahapati izin kembali ke Istana untuk menyampaikan berita kepada Raja.

Akan tetapi, Mahapati justru menyebarkan isu bahwa Nambi ingin memberontak. Raja yang terpengaruh oleh fitnah ini akhirnya menuduh Nambi tidak lagi setia. Situasi semakin memburuk hingga terjadi pemberontakan pada tahun 1316.

Dalam insiden ini, Nambi beserta pengikutnya terlibat dalam pertempuran melawan pasukan kerajaan dan akhirnya tewas. Peristiwa tragis ini kemudian dikenal sebagai “Pemberontakan Nambi,” salah satu konflik besar pertama dalam sejarah Majapahit.

Kematian Mpu Nambi menandakan masa kelam pada awal pemerintahan Jayanegara. Banyak orang percaya bahwa tragedi tersebut bukan disebabkan oleh pengkhianatan, melainkan karena intrik politik dan ambisi kekuasaan di pemerintahannya sendiri.

Setelah Nambi tewas, Mahapati berhasil memperoleh posisi penting di Majapahit, tetapi kedamaian tidak bertahan lama karena munculnya pemberontakan lainnya.

Hingga saat ini, kisah Mpu Nambi masih dikenang sebagai contoh kesetiaan yang berakhir dengan pengkhianatan.Mpu Nambi menjadi simbol kecerdasan, keberanian, dan ketulusan dalam pengabdian kepada negara.

 

 

Namun, di sisi lain, cerita ini menjadi pengingat bahwa kejatuhan seorang pahlawan besar biasanya bukan karena kelemahan di medan perang, tetapi akibat tipu daya dan fitnah yang mengintai di balik kekuasaan. (RIZMA/Wulandari)

Editor : Martda Vadetya
#Raden Wijaya #Mpu Nambi #majapahit #nambi #Lembu Sora #fitnah #mahapatih #penghianatan