JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kemewahan Kerajaan Majapahit sering dikenang melalui cerita kemenangan Hayam Wuruk dan kebijaksanaan Gajah Mada.
Namun, di balik kejayaan politik dan perdagangan yang mendunia, ada satu sisi lain yang jarang disorot, yaitu spiritualitas air suci, atau yang dikenal sebagai Tirta Amerta, air kehidupan yang dipercaya menjadi sumber kesucian dan keseimbangan kosmos kerajaan.
Dalam kitab Negarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca, dinyatakan bahwa Hayam Wuruk sering melakukan perjalanan suci (tirthayatra) ke berbagai lokasi ibadah dan sumber mata air di sekitar Gunung Penanggungan dan Arjuno.
Tempat-tempat seperti Candi Jolotundo, Belahan, dan sumber-sumber di lereng gunung dianggap suci karena dipercaya menjadi perwujudan energi para dewa. Air dari tempat-tempat ini tidak boleh diambil sembarangan.
Sebelum digunakan untuk ritual kerajaan, para pendeta Siwa-Buddha melakukan mapuja tirta doa dan pemujaan agar air tersebut “dihidupkan” oleh kekuatan spiritual.
Setelah ritual tersebut, air disimpan dalam kendi dari emas atau tembaga dan dibawa ke istana sebagai tanda kesucian dan restu para dewa untuk raja dan rakyatnya.
Dalam kepercayaan Majapahit yang sinkretis antara Siwaisme dan Buddhisme, air melambangkan penyucian lahir batin.
Maka, sangat wajar jika setiap upacara kerajaan utama, mulai dari invasi raja, pembersihan pusaka, hingga upacara sraddha untuk nenek moyang, selalu mengikutsertakan air suci dari sumber tertentu.
Air menjadi medium penghubung antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Dalam Pararaton disebutkan bahwa saat pelantikan raja yang baru, ia akan disirami dengan air dari tujuh sumber suci.
Angka tujuh melambangkan tujuh lapisan langit dan tujuh arah semesta, menandakan bahwa sang raja mendapat legitimasi dari seluruh penjuru kosmos.
Air itu dipercaya menjadikan sang penguasa sebagai rajarsi, raja yang bijak yang terhubung dengan kekuatan ilahi. Dengan demikian, air suci tidak hanya berperan dalam ritual keagamaan, tetapi juga dalam politik kekuasaan.
Ia menjadi simbol legitimasi, kemurnian, dan kelangsungan kerajaan. Menariknya, warisan spiritual ini tidak lenyap bersama runtuhnya Majapahit.
Hingga saat ini, di berbagai daerah yang merupakan bekas wilayah Majapahit seperti Mojokerto, Trowulan, dan Blitar, masyarakat masih melakukan pengambilan air suci menjelang bulan Suro.
Air itu digunakan untuk ruwatan desa atau selametan pusaka, sebagai simbol pembersihan diri dan penghormatan kepada leluhur. Tradisi serupa juga masih ada di Bali.
Dalam upacara Hindu, air suci disebut tirta panglukatan, istilah yang diyakini berasal dari ajaran Majapahit yang menyebar bersama para pendeta dan bangsawan ke Pulau Dewata pada abad ke-15.
Air bagi Majapahit adalah lambang kehidupan itu sendiri, jernih, lembut, namun abadi. Ia mengalir dari gunung ke laut, dari masa lalu ke masa kini, menyatukan manusia dengan alam dan para leluhurnya.
Seperti air yang terus mencari jalannya, semangat spiritual Majapahit pun terus mengalir, melintasi waktu dan generasi. (Tri Yulia Setyoningrum/Devi)
Editor : Martda Vadetya