Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kisah Pemberontakan Ranggalawe, Tokoh Penting Majapahit yang Berakhir Ditangan Kebo Anabrang

Imron Arlado • Senin, 13 Oktober 2025 | 02:00 WIB
Ilustrasi Pemberontakan Ranggalawe
Ilustrasi Pemberontakan Ranggalawe

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Pada awal berdirinya Kerajaan Majapahit, muncul ketidakpuasan internal yang dikenal sebagai Pemberontakan Ranggalawe, salah satu pemberontakan awal yang tercatat dalam sejarah kerajaan ini.

Pemberontakan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan upaya perebutan kekuasaan, tetapi juga menyangkut pengakuan atas kontribusi, posisi, serta intrik politik di lingkup kerajaan.

Ranggalawe, yang juga dikenal sebagai Ronggolawe, merupakan anak dari Arya Wiraraja, seorang pejabat dari Madura yang mendukung Raden Wijaya dalam proses pembentukan Majapahit.

Ia dikenang sejak fase pembukaan hutan Tarik sebagai salah satu pendukung utama Raden Wijaya, serta berpartisipasi dalam misi militer ke Kediri dan menghadapi pasukan Mongol.

Setelah berhasil mengalahkan Kediri, Ranggalawe diangkat untuk menjabat sebagai Bupati Tuban sebagai bentuk penghargaan atas jasanya.

Namun, ketidakpuasan mulai muncul ketika Raden Wijaya mengangkat Nambi sebagai rakryan patih, posisi tinggi yang paling penting di bawah raja. Ranggalawe merasa seharusnya pamannya, Lembu Sora, yang lebih layak mendapatkan jabatan tersebut karena kontribusinya yang lebih besar.

Lembu Sora sempat memberikan nasihat kepada Ranggalawe agar meminta maaf kepada raja demi mencegah konflik yang lebih besar, tetapi Ranggalawe menolak dan lebih memilih untuk pergi dari istana menuju Tuban.

Berdasarkan catatan Pararaton dan Kidung Ranggalawe, pemberontakan ini diperkirakan terjadi pada tahun 1295, meskipun ada referensi lain yang menyebutkan kejadian ini terjadi usai wafatnya Raden Wijaya dan pada masa pemerintahan Jayanegara.

 

 

Raden Wijaya kemudian menginstruksikan Nambi bersama Lembu Sora dan Kebo Anabrang untuk menghentikan pemberontakan dan menghukum Ranggalawe di Tuban. Pertempuran pun berlangsung di sekitar Sungai Tambak Beras, Jombang.

Ranggalawe, bersama pasukannya, menghadang rombongan kerajaan. Dalam pertempuran ini, Ranggalawe sempat melukai kuda yang ditunggangi Nambi, namun Nambi masih dapat selamat.

Serangan juga dilancarkan dari tiga arah mata angin yaitu, timur, barat, dan utara oleh pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Kebo Anabrang. Namun taktik tersebut belum berhasil mengungguli pasukan Ranggalawe.

Akhirnya, terjadi duel antara Ranggalawe dan Kebo Anabrang di tengah sungai. Karena familiar dengan medan air, Kebo Anabrang mampu mencekik Ranggalawe hingga tewas.

Lembu Sora memang berada di barisan kerajaan, tapi Ranggalawe adalah keponakan tercintanya, sehingga dirinya kehilangan kendali dan menikam Kebo Anabrang hingga tewas juga. Kedua jenazah kemudian disucikan dan dibakar lalu abunya dibuang ke laut.

Walaupun Ranggalawe melakukan pemberontakan, warga Tuban tetap menghormatinya.

 

 

Pengangkatan Ranggalawe sebagai Adipati Tuban pada 12 November 1293 hingga kini diperingati sebagai hari jadi Kota Tuban.

Ayah dari Ranggalawe, Arya Wiraraja, kemudian mundur dari posisinya di Majapahit dan mengambil alih separuh wilayah Jawa, mendirikan kerajaan di Lumajang sesuai dengan kesepakatan Raden Wijaya.

Keputusan ini berperan dalam menjaga keseimbangan politik di dalam negeri serta mencegah potensi konfliks lebih jauh. (RIZMA/Devi)

Editor : Martda Vadetya
#Kebo Anabrang #Adipati Tuban #Arya Wiraraja #ranggalawe #Lembu Sora #ronggolawe #pemberontakan