JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di tengah dinamika sosial dan keragaman identitas yang terus berkembang, nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika yang berakar dari peradaban Majapahit kembali menemukan relevansinya.
Prinsip kebhinekaan, persatuan, dan penghargaan terhadap perbedaan yang dahulu menjadi dasar kejayaan Majapahit kini hadir sebagai pedoman penting dalam menjaga harmoni kehidupan berbangsa di era modern.
Semangat toleransi dan keterbukaan itu tampak hidup dalam berbagai inisiatif masa kini mulai dari dialog lintas agama, upaya pelestarian budaya lokal dan minoritas, hingga penguatan pendidikan sejarah di sekolah.
Semua itu menegaskan bahwa warisan Majapahit bukan sekadar catatan masa lampau, melainkan sumber nilai yang menuntun Indonesia untuk terus meneguhkan jati dirinya sebagai bangsa yang besar karena keberagamannya.
Ungkapan legendaris “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” dalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular merefleksikan kebijaksanaan luhur masyarakat Majapahit yang menjunjung tinggi harmoni di tengah perbedaan.
Baca Juga: Jejak Budaya Kerajaan Majapahit yang Bertahan Sampai Saat Ini
Nilai tersebut menegaskan bahwa keberagaman agama, budaya, dan pandangan hidup bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi demi terciptanya kesatuan.
Dalam konteks sejarahnya, Majapahit menjadi bukti nyata bagaimana kerajaan multikultural mampu menyatukan berbagai wilayah Nusantara dengan latar belakang etnis, bahasa, dan keyakinan yang beragam.
Semangat kebersamaan dan toleransi yang tumbuh dari falsafah itu kemudian menjadi landasan filosofis lahirnya semboyan nasional Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, yang terus relevan hingga kini sebagai simbol persatuan dalam keberagaman.
Nilai-nilai kebhinekaan yang diwariskan Majapahit semakin terasa relevan di tengah tantangan intoleransi dan polarisasi sosial yang dihadapi Indonesia saat ini.
Baca Juga: Pindahkan Markas Komando dan Bentuk Benteng Pertahanan di Mojokerto
Warisan pemikiran Majapahit mengajarkan bahwa persatuan sejati tidak berarti menyeragamkan, melainkan membuka ruang untuk memahami dan menghargai perbedaan.
Semangat inilah yang kini tumbuh dalam berbagai inisiatif di masyarakat mulai dari forum dialog lintas agama, kegiatan budaya lintas etnis, hingga pendidikan sejarah lokal yang menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan Nusantara.
Melalui langkah-langkah tersebut, generasi muda didorong untuk memandang Majapahit bukan hanya sebagai simbol kejayaan politik dan militer.
Tetapi juga sebagai peradaban yang menegakkan nilai kemanusiaan, toleransi, dan kebersamaan yang menjadi fondasi Indonesia modern.
Pemerintah daerah bersama berbagai komunitas budaya di Mojokerto kini giat menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Majapahit melalui beragam kegiatan seperti festival budaya, diskusi publik, hingga pameran edukatif yang menonjolkan pesan toleransi, gotong royong, dan persatuan.
Inisiatif ini bukan sekadar upaya pelestarian sejarah, tetapi juga bentuk penerapan nilai-nilai Majapahit dalam konteks kehidupan modern mulai dari kerja sama antarwarga, solidaritas sosial, hingga kolaborasi dalam menjaga kelestarian lingkungan dan budaya.
Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diajak untuk memahami bahwa kejayaan Majapahit tidak hanya terletak pada kekuatan politik dan militernya, melainkan juga pada kedewasaan moral dan sosial yang menjunjung tinggi harmoni, keberagaman, serta semangat kebersamaan yang relevan bagi Indonesia masa kini.
Baca Juga: Riwayat TKR Mojokerto, Jadi Kekuatan Pejuang Mempertahankan Kemerdekaan RI
Kini, semboyan Bhinneka Tunggal Ika tidak lagi sekadar kutipan dari lembar sejarah, melainkan penuntun moral bagi perjalanan bangsa Indonesia di tengah keragaman yang semakin kompleks.
Dalam era modern yang dipenuhi perbedaan pandangan, kepentingan, dan identitas, nilai-nilai yang diwariskan Majapahit mengingatkan bahwa persatuan tidak harus berarti keseragaman, tetapi kemampuan untuk hidup berdampingan dengan saling menghormati.
Dengan menggali kembali semangat Majapahit, Indonesia dapat memperkuat jati dirinya sebagai bangsa yang modern tanpa kehilangan akar budayanya, serta menjaga keberagaman sebagai sumber kekuatan, bukan sumber perpecahan.
Warisan Majapahit pun terus berdenyut—bukan hanya di situs-situs purbakala Trowulan, tetapi juga dalam cara bangsa ini menumbuhkan toleransi, kebersamaan, dan rasa persaudaraan di tengah perbedaan. (BINTANG PURNAMA/Devi)
Editor : Martda Vadetya