Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Jejak Budaya Kerajaan Majapahit yang Bertahan Sampai Saat Ini

Imron Arlado • Minggu, 12 Oktober 2025 | 01:13 WIB
Warisan Majapahit masih ada mulai dari bangunan candi, ukiran, karya sastra, sampai tradisi pertunjukan, warisan budaya kuno tetap eksis di zaman sekarang.
Warisan Majapahit masih ada mulai dari bangunan candi, ukiran, karya sastra, sampai tradisi pertunjukan, warisan budaya kuno tetap eksis di zaman sekarang.

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan terkuat dan terbesar dalam sejarah Nusantara.

Didirikan pada tahun 1293 dan mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, Majapahit menjangkau wilayah yang luas hingga oleh sebagian sejarawan dikaitkan dengan pengaruhnya melampaui batas kepulauan Indonesia.

Di balik kekuatan politik dan militer itu, Majapahit juga menyimpan warisan budaya yang hingga kini sebagian masih hidup dan dirasakan keberadaannya dalam kehidupan masyarakat Indonesia modern.

Salah satu aspek budaya yang masih lestari adalah seni dan arsitektur tradisional. Banyak bangunan candi dan situs arkeologi Majapahit yang menjadi daya tarik wisata dan pusat pelestarian.

Misalnya Candi Tikus di Mojokerto, Jawa Timur struktur pertirtaan yang dikelilingi kolam dan air, dianggap sebagai saksi bisu kejayaan Majapahit.

 

 

Bentuk bata merah yang khas, pola ukiran alam seperti motif flora, naga, burung, dan simbol-simbol fauna, menjadi identitas visual yang unik dan tetap diapresiasi hingga sekarang.

Tidak hanya secara fisik, elemen arsitektur Majapahit juga mempengaruhi estetika bangunan di zaman selanjutnya.

Pola ukiran tradisional, hiasan relief, dan ornamen khas Jawa klasik acap kali digunakan dalam renovasi rumah-rumah adat, pura, candi-candi baru, bahkan pada elemen dekorasi interior bangunan publik.

Dengan demikian, akar visual Majapahit menembus batas waktu dan tetap relevan sebagai identitas budaya lokal.

Aspek berikutnya yang masih bertahan adalah sastra dan bahasa klasik. Naskah-naskah seperti Nagarakertagama (karya Mpu Prapanca) yang menggambarkan keadaan kerajaan dan geografi Nusantara.

Serta Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, yang memuat ajaran moral dan nilai hidup, tetap dipelajari di kalangan akademis dan budaya.

Pada tataran tertentu, kutipan-kutipan dari karya-karya itu masih digunakan dalam upacara adat atau sebagai rujukan budaya lokal.

Bahasa Jawa Kuno dan istilah-istilah klasik turut hidup dalam tradisi kesusastraan daerah, sastra lisan, maupun dalam pelajaran sejarah dan kebudayaan di institusi pendidikan.

Selain itu, seni pertunjukan seperti wayang dan tari masih sangat hidup. Wayang kulit dengan cerita Ramayana dan Mahabharata yang juga digunakan pada masa Majapahit masih menjadi bagian dari panggung budaya di banyak daerah.

Tari-tarian tradisional yang menggabungkan elemen tari klasik Jawa kerap menampilkan gaya gerak dan kostum yang mengandung unsur estetika Majapahit.

Dalam upacara adat, pentas seni, atau festival kebudayaan, pertunjukan ini menjadi sarana pengingat bahwa elemen budaya masa lampau tidak hilang begitu saja.

Bagian lain yang masih memiliki relevansi adalah keyakinan, rasa toleransi, dan struktur masyarakat. Majapahit menganut ajaran Hindu-Buddha, namun dikenal cukup ramah terhadap kepercayaan lokal serta pengaruh Islam yang mulai muncul.

Nilai toleransi ini menjadi salah satu bagian dari budaya persatuan yang banyak diterapkan oleh masyarakat saat ini.

Meskipun sistem kasta di Majapahit tidak lagi diterapkan di era modern, warisan dari sistem sosial yang kuat, struktur pemerintahan yang berkuasa, serta interaksi antar kelompok masyarakat menjadi gambaran dari sejarah sosial-politik di Jawa.

 

 

Tradisi seperti upacara panen, ritual keagamaan, dan kegiatan komunitas juga dilestarikan dari generasi ke generasi.

Walaupun bentuk dan mitos yang mengikutinya mungkin telah disesuaikan dengan perkembangan zaman, inti dari hubungan manusia dengan alam, nenek moyang, dan Tuhan tetap terjaga.

Melalui seni, arsitektur, sastra, aspek keagamaan, dan tradisi sosial, budaya Majapahit tetap hidup di tengah kemodernan. Usaha pelestarian, pendidikan, dan peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci agar peninggalan yang berharga ini tidak hilang oleh waktu.

Karena budaya bukan sekedar jejak dari masa lalu, ia adalah identitas yang membentuk diri kita kini dan di masa yang akan datang. (Okta/Devi)

Editor : Martda Vadetya
#kakawin Sutasoma #klasik #Nagara #hindu-buddha #mpu tantular #tradisi #warisan majapahit #karya #candi #mpu prapanca #jawa