JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Pada saat mencapai puncak kemakmurannya, Kerajaan Majapahit (dari abad ke-13 hingga ke-16) tidak hanya terkenal sebagai kekuatan di bidang politik dan laut, tetapi juga sebagai pusat bagi budaya kuliner yang beragam.
Meskipun dokumentasi tertulis cukup terbatas, jejak tradisi makan pada zaman tersebut dapat dipahami melalui sastra, catatan para pedagang, serta kesinambungan bahan makanan dalam budaya lokal yang masih ada sampai sekarang.
Warga Majapahit menjalani kehidupan dalam sebuah kerajaan yang mengutamakan pertanian dan kegiatan laut.
Oleh karena itu, makanan mereka umumnya terfokus pada beras, umbi-umbian, sayuran liar, serta ikan dari perairan tawar dan laut, lengkap dengan berbagai rempah.
Beras menjadi makanan inti, aneka lauk seperti ikan (termasuk dari laut dan perairan tawar), udang, kerang, atau kepiting menjadi sumber protein pelengkap.
Selain itu, tumbuhan macam sayuran liar dan umbi seperti talas dan ubi serta variasi sayuran pendamping (gulai sayur atau tumisan yang sederhana) juga tersedia.
Rempah-rempah merupakan elemen penting dalam setiap masakan. Bahan-bahan seperti lada, jahe, kunyit, kencur, kayu manis, dan cengkeh digunakan bukan hanya sebagai penyedap rasa namun juga berfungsi sebagai cara mengawetkan secara alami.
Gula aren dan madu juga digunakan sebagai pemanis bukan dalam jumlah yang berlebihan, melainkan secukupnya untuk menciptakan keseimbangan rasa.
Kemungkinannya besar, sentuhan rasa asam dari asam jawa atau asam kandis, serta sedikit rasa pedas dari cabai atau lada juga menjadi bagian dari bumbu masakan tersebut.
Dalam catatan pedagang luar negeri pada masa tengah termasuk dari Tiongkok dan Arab ada cerita yang menyebutkan bahwa kuliner Jawa dikenal karena cita rasanya yang “manis dan lembut”.
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh penyesuaian rasa agar disukai oleh pengunjung asing serta kalangan elit kerajaan.
Di dalam lingkungan keraton, penampilan dan cara penyajian juga sangat diperhatikan,Hidangan mungkin disajikan dalam mangkuk atau wadah anyaman dari bambu, dilapisi dengan daun pisang, serta dilengkapi dengan rempah-rempah dan daun aromatik.
Beberapa jenis hidangan yang mungkin pernah ada:
- Bubur beras (nasi lembek atau bubur )
Sajian yang sederhana dan mudah dicerna, terutama untuk mereka yang sedang sakit atau istirahat.
- Ikan yang dikukus atau dipanggang
Ikan berukuran besar, seperti ikan laut, bisa dipanggang di atas bara api atau diasapi, atau dikukus dengan berbagai rempah.
- Sayuran berkuah ringan
Sayuran lokal dan umbi-umbian direbus atau dikukus dengan bumbu seperti bawang, jahe, kunyit, dan serai.
- Urap sayuran / urap biji-bijian
Campuran antara sayuran yang telah direbus bersama parutan kelapa yang dibumbui.
Hidangan daging atau unggas yang direbus meskipun tidak semua orang mengonsumsinya secara rutin, di lingkungan kerajaan atau dalam acara tertentu bisa tersedia hidangan daging kambing, kerbau, ayam, atau unggas air.
Makanan ringan atau jajanan, contohnya nasi ketan yang disajikan dengan parutan kelapa (mirip tape uli atau kue sederhana) atau camilan dari tepung jagung atau singkong yang dipanggang atau digoreng dengan cara ringan.
Salah satu bahan menarik adalah jewawut (foxtail millet) yang dalam konteks modern ditemukan kembali sebagai bahan autentik dari era Majapahit, konon dulunya digunakan sebagai nasi khusus untuk raja.
Penggunaan varietas padi serta sereal seperti jewawut menunjukkan bahwa masyarakat Majapahit memiliki keragaman dalam hal pangan yang luas, tidak hanya terfokus pada padi putih saja.
Cara memasak di masa itu mungkin meliputi memanggang, merebus, mengukus, dan menggoreng dengan cara ringan, tergantung pada alat yang tersedia serta suhu api.
Alat memasak tradisional yang terbuat dari tanah liat, bambu, dan logam sederhana menjadi dasar praksispengolahan makanan.
Penyajian di janji kerajaan menjadi momen penting, di mana kekayaan alam, keseimbangan rasa, dan keindahan kuliner ditampilkan kepada para tamu dan utusan.
Rasa masakan di era Majapahit, menurut penilaian modern dari ahli dan koki rekontruksi, cenderung memberikan keseimbangan yaitu rasa manis lembut sebagai elemen dasar, dipadukan dengan sedikit pedas, asam yang ringan, dan aroma harum rempah.
Penggunaan rempah tidak berlebihan agar cita rasanya tetap konsisten dan dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat, termasuk tamu dari luar.
Meskipun kita tak dapat merekonstruksi hidangan tetap sama seperti dulu, warisan rasa Nusantara dari Majapahit tetap bertahan dalam tradisi kuliner lokal yaitu urap, sayur dengan bumbu, ikan panggang disertai sambal, nasi ketan, dan kue tradisional berbahan kelapa.
Melalui eksplorasi sejarah kuliner dan kreativitas masa kini, kita dapat merasakan jejak cita rasa dari kerajaan hebat ini, sebuah hidangan masa lalu yang hidup lagi dalam sajian masa kini. (Okta/Devi)
Editor : Martda Vadetya