JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Meski telah berabad-abad berlalu sejak runtuhnya Kerajaan Majapahit, jejak tradisi dan kebiasaan masyarakatnya masih terasa hidup hingga kini.
Dari cara masyarakatnya menjaga adat istiadat, hingga ritual budaya yang telah diwariskan turun-temurun, peninggalan Majapahit tidak hanya tersimpan di situs sejarah saja, melainkan juga mengalir dalam kehidupan keseharian masyarakat Jawa.
Nilai-nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, hingga seni dalam upacara tradisional yang menjadi bukti bahwa semangat Majapahit masih berdenyut dalam budaya Indonesia modern.
Majapahit tidak hanya dikenal sebagai kerajaan besar yang menorehkan kejayaan politik dan perdagangan saja, tetapi juga meninggalkan warisan budaya yang masih hidup hingga saat ini.
Di balik catatan sejarahnya yang megah, kebiasaan masyarakat Majapahit telah membentuk dasar dari berbagai tradisi Jawa yang terus lestari.
Salah satu yang paling menonjol adalah tradisi selametan, yang merupakan sebuah bentuk doa bersama untuk memohon keselamatan dan rasa syukur. Tradisi ini mencerminkan nilai spiritual dan kebersamaan yang kuat pada masa Majapahit.
Selain tradisi selametan, terdapat pula tradisi selametan desa atau biasa yang disebut dengan bersih desa, yang hingga kini masih rutin dilakukan di banyak daerah Jawa Timur.
Ritual ini dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil bumi sekaligus memohon perlindungan dari bencana.
Kemudian ada juga upacara tedhak siten yang dilakukan saat bayi berusia 7 atau 8 bulan, saat ia belajar menginjak tanah untuk pertama kali.
“Tedhak” berarti turun, sedangkan “siten” memiliki arti tanah. Upacara ini bertujuan agar si bayi kelak tumbuh menjadi anak yang kuat, mandiri, dan berbakti.
Mitoni yang diambil dari kata “pitu” (tujuh), dilakukan saat usia kehamilan tujuh bulan. Tradisi ini merupakan doa bersama untuk keselamatan ibu dan janin.
Ngapati dilakukan pada saat usia kehamilan menginjak 4 bulan, yang dipercaya sudah ada sejak era Majapahit sebagai simbol penghormatan terhadap kehidupan.
Tidak hanya dalam ritual saja, seni budaya Majapahit pun masih terasa pengaruhnya. Seperti kesenian wayang kulit, tari topeng, dan karawitan gamelan yang berkembang pesat pada masa itu, hingga menjadi media penyampai pesan moral serta spiritual.
Kini, kesenian tersebut terus dijaga dan dipentaskan di berbagai acara budaya di Mojokerto dan sekitarnya, sebagai bentuk penghormatan pada warisan leluhur.
Jejak budaya Majapahit bukan hanya sekedar catatan masa lalu, melainkan nafas yang masih hidup di tengah masyarakat modern.
Melalui tradisi, kesenian, dan nilai gotong royong yang diwariskan, Majapahit seolah masih berbicara dan mengingatkan kita bahwa kemajuan tanpa adanya akar budaya akan kehilangan jiwanya.
Dari selametan hingga bunyi gamelan, dari ritual desa hingga pertunjukan wayang, semuanya menjadi bukti bahwa warisan Majapahit tidak pernah benar-benar hilang, hanya bertransformasi mengikuti zaman. (Natasia Reyna)
Editor : Martda Vadetya