JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Jika menyebut Majapahit, kebanyakan orang langsung teringat pada kejayaan kerajaan besar di bawah Hayam Wuruk dan Gajah Mada.
Namun, dibalik kisah politik dan perang, terdapat sisi lain yang jarang dibicarakan yaitu kehidupan sehari-hari rakyat Majapahit yang diam-diam terekam dalam relief dan artefak peninggalan mereka.
Melalui candi-candi seperti Candi Penataran di Blitar, Candi Sukuh di Karanganyar, dan Candi Tegowangi di Kediri, kita dapat menengok bagaimana masyarakat Majapahit hidup, bekerja, dan bahkan tertawa, enam abad yang lalu.
Baca Juga: Dewi Suhita, Sosok Ratu Kencana Wungu yang Pulihkan Krisis Ekonomi yang Melanda Majapahit
Salah satu relief paling menarik terdapat di Candi Surawana, yang menggambarkan kisah Sri Tanjung, cerita tentang kesetiaan seorang istri yang diuji.
Kisah ini dikenal luas di Jawa Timur dan Bali, bahkan menjadi cikal bakal legenda Jaka Tarub dan Banyuwangi. Cerita itu bukan sekadar dongeng, tetapi mencerminkan nilai moral masyarakat Majapahit yang menjunjung tinggi kesetiaan, kehormatan, dan kesucian hati.
Melalui kisah seperti ini, budaya Majapahit menunjukkan bahwa moralitas rakyatnya tidak hanya diatur oleh hukum kerajaan, tetapi juga oleh nilai-nilai etika yang diwariskan melalui sastra dan seni.
Baca Juga: Diplomasi Unggul Mengokohkan Kedigdayaan Majapahit di Asia Tenggara
Dari sisi kuliner, temuan arkeologis di situs Trowulan, yang diyakini sebagai ibu kota Majapahit, memberi petunjuk menarik. Ditemukan pecahan periuk, tungku, dan wadah penyimpanan yang menandakan masyarakat telah mengenal teknik memasak yang kompleks.
Mereka mengolah beras, kelapa, ikan, dan rempah, dengan pola makan yang mirip dengan masyarakat Jawa modern.
Beberapa sejarawan bahkan menyebut bahwa masakan tumpeng dan nasi liwet kemungkinan sudah dikenal sejak masa itu, sebagai bagian dari ritual keagamaan atau perayaan panen.
Kini, enam abad setelah kejayaan Majapahit meredup, kisah kehidupan rakyatnya masih bisa kita baca, bukan dari buku sejarah, tetapi dari batu-batu bisu yang diukir dengan tangan penuh seni.
Baca Juga: Perempuan Majapahit Jadi Komponen Vital di Balik Kesuksesan Kerajaan
Relief dan artefak itu bukan sekadar hiasan, ia adalah cermin kehidupan, bukti bahwa kejayaan sejati tidak hanya lahir dari peperangan dan kekuasaan, tetapi dari budaya yang menghargai manusia dan kehidupan sehari-hari. (Tri Yulia Setyoningrum)
Editor : Martda Vadetya