Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Dewi Suhita, Sosok Ratu Kencana Wungu yang Pulihkan Krisis Ekonomi yang Melanda Majapahit

Imron Arlado • Senin, 6 Oktober 2025 | 01:00 WIB
Ilustrasi Dewi Suhita
Ilustrasi Dewi Suhita

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Majapahit terkenal sebagai salah satu dari kerajaan paling berpengaruh di Nusantara, tetapi di balik kejayaannya, kerajaan ini juga pernah mengalami masa-masa sulit akibat perang saudara dan kemunduran ekonomi.

Di saat situasi tersebut, muncul sosok wanita yang berani mengambil alih peran kepemimpinan, yaitu Prabu Sri Suhita atau Dewi Suhita, yang lebih dikenal dengan sebutan Ratu Kencana Wungu.

Asal usul Sri Suhita masih menyimpan misteri. Sebagian sumber menyebutkan bahwa ia merupakan anak dari Wikramawardhana dan Kusumawardhani, yang merupakan cucu Raja Hayam Wuruk. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa ibunya adalah seorang selir yang bergelar Bhre Daha.

Dewi Suhita mulai berkuasa sekitar tahun 1429, setelah menggantikan ayahnya yang telah meninggal sehabis perang besar melawan Bhre Wirabhumi, yang dikenal dengan nama Perang Paregreg.

 

 

Perang saudara tersebut membuat Majapahit mengalami kemunduran, baik dalam hal politik maupun ekonomi. Pada masa itu, Sri Suhita mengambil inisiatif untuk memulihkan stabilitas kerajaan.

Gelar Kencana Wungu diberikan padanya berkat kebiasaan berkendara dengan kereta berwarna ungu, yang mengartikan kepemimpinan dan juga keindahan.

Salah satu langkah pentingnya adalah mengembangkan kembali ekonomi Majapahit. Dia menata kembali sistem perpajakan agar lebih terstruktur, memperkuat jalur perdagangan dengan wilayah-wilayah sekitarnya, serta memfasilitasi pengembangan infrastruktur seperti jalan dan jembatan untuk memudahkan distribusi barang.

Selain itu, perhatian besar juga diberikan pada sektor pertanian dengan memperbaiki sistem pengairan dan mendorong pemanfaatan benih unggul. Usahanya ini berhasil meningkatkan hasil panen dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat setelah masa paceklik yang panjang.

 

 

Dalam bidang hukum, Dewi Suhita dikenal memiliki sikap yang tegas. Dia pernah menjatuhkan hukuman mati kepada Raden Gajah, seorang pemimpin militer yang sebelumnya berkontribusi dalam mengalahkan Bhre Wirabhumi.

Keputusan ini diambil karena ia dianggap bertanggung jawab atas kerusuhan dan kematian para bangsawan dalam peperangan. Kebijakan ini menunjukkan komitmen Dewi Suhita terhadap keadilan serta kestabilan pemerintahan.

Di masa pemerintahannya, Majapahit memang tidak lagi mencapai kejayaan seperti pada masa Hayam Wuruk atau Gajah Mada.

Namun, kontribusi Dewi Suhita sangat krusial dalam mengembalikan kepercayaan rakyat dan memastikan kerajaan tetap berdiri tegak di tengah berbagai tantangan. Ia juga menjadi salah satu ratu perempuan yang dihormati dalam sejarah Jawa, di samping Tribhuwana Tunggadewi.

Sri Suhita memerintah hingga meninggal dunia pada tahun 1447. Setelah ia tiada, tahta diwariskan kepada adiknya, Dyah Kertawijaya, karena ia dan suaminya, Ratnapangkaja, tidak memiliki keturunan.

Meskipun kepemimpinannya berakhir tanpa penerus, masa Dewi Suhita dikenang sebagai periode transisi penting yang berhasil mengantar Majapahit keluar dari krisis dan menunda kehancuran kerajaan selama beberapa dekade berikutnya.

Kisahnya menggambarkan bahwa perempuan juga memiliki peran signifikan dalam sejarah Nusantara. Di antara dominasi laki-laki dalam dunia politik dan perang, Dewi Suhita muncul sebagai sosok pemimpin yang mampu menggabungkan ketegasan, kecerdasan, dan perhatian terhadap rakyatnya. (RIZMA/Linda)

Editor : Martda Vadetya
#sri suhita #ratu kencana wungu #krisis ekonomi #perang paregreg #perang saudara #Ratu Suhita