JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Banyak cerita tentang asal usul Gajah Mada. Begitu pula dengan nama Dewi Andongsari sering kali dirujuk dalam cerita rakyat lokal sebagai ibu kandung Gajah Mada, tokoh legendaris dari Kerajaan Majapahit.
Meskipun tidak ada bukti tertulis yang kuat mendukung status historisnya, bekas makam yang diyakini milik Dewi Andongsari telah menjadi situs religius dan destinasi wisata budaya di Lamongan, Jawa Timur.
Menurut cerita tutur masyarakat, Gajah Mada lahir di Desa Mada (kini berada di Kecamatan Modo, Lamongan), dan ibunya adalah Dewi Andongsari, putri seorang Demang (Kepala Desa) Kali Lanang. Disebutkan bahwa Dewi Andongsari adalah satu diantara selir Raden Wijaya, raja pertama Majapahit.
Dewi Andongsari diasingkan di atas bukit di dalam hutan oleh prajurit kerajaan. Bukit inilah yang sekarang disebut Gunung Ratu. Tak lama tinggal disana, Dewi Andongsari melahirkan seorang bayi laki-laki.
Saat ia ingin turun dari bukit, Dewi Andongsari menyerahkan bayinya kepada dua hewan peliharaannya, yaitu seekor kucing bernama Condromowo dan seekor musang putih. Kedua hewan itu berusaha melawan seekor ular besar yang ingin memangsa bayi Dewi Andongsari, hingga mulut mereka berlumuran darah.
Namun, Dewi Andongsari yang baru saja selesai mandi di sumber air di bawah bukit justru mengira hewan peliharaannya telah memakan bayinya. Padahal bayi itu masih hidup dan tersembunyi di balik daun.
Setelah itu, Dewi Andongsari bunuh diri di Gunung Ratu. Ia merasa bersalah karena telah membunuh kucing condromowo dan musang putih itu.
Ki Gede Sidowayah, seorang pemimpin desa waktu itu, menemukan bayi Dewi Andongsari. Ia juga yang mengubur jasad Dewi Andongsari, juga kucing dan musang yang telah mati.
Kemudian bayi Dewi Andongsari dititipkan kepada adik perempuannya, yakni Janda Wara Wuri, di Modo.
Lokasi bekas makam yang diyakini milik Dewi Andongsari berada di puncak Gunung Ratu, Dusun Cancing, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, Lamongan.
Untuk sampai ke sana, para pengunjung harus mendaki anak tangga menuju puncak selama sekitar 30 menit. Sebelumnya, tempat itu hanya berupa tumpukan batu belaka, namun kini telah diperbaiki oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan.
Di kompleks makam tersebut, terdapat dua pusara khusus, yaitu pusara Kucing Condromowo dan Garangan (musang) Putih, yang menurut kepercayaan masyarakat adalah hewan peliharaan Dewi Andongsari yang menjaga bayinya.
Meski cerita rakyat ini telah menjadi bagian dari identitas lokal Lamongan dan diceritakan secara luas, para ahli arkeologi dan budayawan belum menemukan bukti konkret yang bisa mendukung hubungan historis antara Dewi Andongsari dengan Gajah Mada.
Wicaksono Dwi Nugroho dari Badan Pengelola Museum & Cagar Budaya menjelaskan bahwa meskipun menghargai keberadaan kisah rakyat ini, belum ada bukti arkeologis yang menyatakan bahwa Gunung Ratu benar-benar merupakan makam ibu Gajah Mada.
"Intinya kami sangat menghormati adanya cerita rakyat yang menceritakan situs Gunung Ratu dikaitkan dengan cerita Dewi Andongsari atau Ibunda Mahapatih Gajah Mada. Karena cerita rakyat ini telah berlangsung cukup lama," ujar Wicak, Selasa (4/7/2023).
“Yang mana versi dari arkeologi belum menemukan keterkaitan antara Gunung Ratu dengan tokoh Dewi Andongsari yang merupakan Ibunda Gajah Mada. Atau keterkaitan langsung dengan Gajah Mada sendiri," tambah Wicak. (RIZMA/Linda)
Editor : Martda Vadetya