Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Misteri dan Mitos Candi Gentong, Peninggalan Spiritual Era Majapahit di Mojokerto

Imron Arlado • Minggu, 5 Oktober 2025 | 04:00 WIB
Misteri dan Mitos Candi Gentong, Peninggalan Spiritual Majapahit di Mojokerto
Misteri dan Mitos Candi Gentong, Peninggalan Spiritual Majapahit di Mojokerto

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di tengah reruntuhan keagungan Kerajaan Majapahit di Trowulan, Candi Gentong hadir sebagai salah satu peninggalan bercorak Buddha yang menyimpan banyak kisah dan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar.

Meskipun tampilannya sederhana dibandingkan beberapa candi lain di Mojokerto, cerita di balik candi ini ternyata sarat makna spiritual dan sejarah.

Candi Gentong ditemukan pada tahun 1889 dalam bentuk gundukan tanah menyerupai gentong besar dengan lubang di tengahnya, sehingga nama candi ini diambil dari bentuknya tersebut.

Terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, candi ini terdiri dari dua bagian utama, yakni Candi Gentong I di sisi selatan dan Candi Gentong II di sisi utara, yang berada dalam satu garis lurus.

 

 

Struktur bangunannya berbentuk bujur sangkar berukuran 23,5 x 23,5 meter dengan tinggi sekitar 2,45 meter dan terbuat dari batu bata merah yang dirakit menggunakan teknik gosok dengan spesi tanah liat.

Menurut beberapa analisa dan penelitian, candi ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1370 pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, sebagai tempat pelaksanaan upacara Sraddha untuk mengenang dan menghormati ibunda sang raja, Tribuwana Tungga Dewi.

Upacara ini memiliki makna penting, yaitu memohon kesejahteraan dan kelanggengan pemerintahan Majapahit. Hal ini menambah nilai spiritual candi selain sebagai situs bersejarah.

Mitos yang melekat pada Candi Gentong berkaitan dengan peranannya sebagai tempat penyimpanan air suci kerajaan yang dipakai untuk ritual keagamaan dan spiritual.

 

 

Masyarakat percaya bahwa air tersebut memiliki kekuatan sakral dan mampu memberikan perlindungan serta kemakmuran.

Meskipun bukti fisik mengenai sumber air suci belum ditemukan, cerita ini menjadi bagian penting dari budaya dan kepercayaan lokal yang dihormati hingga kini.

Uniknya, meskipun mayoritas masyarakat Majapahit menganut agama Hindu, candi ini menunjukkan jejak keberadaan Buddha melalui artefak seperti keramik dari Dinasti Yuan dan Ming, fragmen tembikar, mata uang Cina, dan arca Buddha.

 

 

Hal ini menunjukkan bahwa masa kejayaan Majapahit juga ditandai dengan toleransi beragama yang tinggi, di mana berbagai kepercayaan dapat hidup berdampingan secara harmonis.

Kini, Candi Gentong tetap menjadi warisan budaya yang dijaga kelestariannya oleh pemerintah dan masyarakat setempat.

Situs ini tidak hanya menjadi saksi sejarah kejayaan Majapahit, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai toleransi, spiritualitas, dan penghormatan terhadap leluhur yang menjadi bagian dari akar budaya Indonesia. (Devi/Linda)

Editor : Martda Vadetya
#sejarah #hayam wuruk #majapahit #mitos #candi gentong #Upacara Sraddha #kisah