JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit yang mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14 hingga awal abad ke-16 bukan hanya dikenal sebagai kerajaan besar dengan wilayah yang luas, tetapi juga karena kebudayaan dan tata busana yang sangat berkembang.
Pakaian pada masa Majapahit tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga menjadi simbol kebesaran, status sosial, dan kelas dalam masyarakat.
Pakaian kebesaran raja dan permaisuri di kerajaan Majapahit dikenal dengan nama Mahabhusana Wilwatiktapura.
Untuk raja, pakaian tersebut disebut Mahabhusana Rajakaputran Wilwatiktapura, yang terdiri dari berbagai aksesoris dan perlengkapan mewah seperti makuta (mahkota), sumping (anting-anting), kundala (anting), kalung, upawita (ikat pinggang suci), udarabandha, uncal, katibandha, kilatbahu (pelindung bahu), gelangkana (gelang tangan), kalpika, binggel, nupura (genta kaki), sampet (kain selendang), kampuh, sinjang (kain pengikat pinggang), sabuk, sasampur, dan gamparan.
Sementara untuk permaisuri, pakaian Mahabhusana Rajakaputrian Wilwatiktapura memiliki ragam yang hampir serupa dengan tambahan wastra (kain) dan karah (kerah) sebagai ciri khas wanita bangsawan.
Tidak hanya bangsawan, rakyat biasa di Majapahit pun memiliki pakaian khas yang disebut Bhusana Gagampang.
Pakaian ini berbeda antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki mengenakan Bhusana Gagampang Putra yang terdiri dari gelung cacandyan (ikat kepala), suweng (anting), kalung, kilatbahu, gelangkana, binggel, sinjang, sabuk, dan gamparan.
Sedangkan, perempuan menggunakan Bhusana Gagampang Putri yang meliputi gelung kekendon (hiasan rambut), suweng, kalung, gelangkana, binggel, kampuh dengan sampir (selendang kecil), sinjang, dan gamparan.
Busana pada era Majapahit juga sangat memperhatikan tata rias wajah dan rambut yang disebut Pahyas Wilwatiktapura.
Baca Juga: Jejak Sastra Majapahit, Dari Negarakertagama hingga Karya Abadi Nusantara
Tata rias wajah menggunakan pupur menur (bedak dari bunga melati), bentuk alis melengkung seperti bulan sabit, tilaka (tanda di dahi), serta hiasan bunga dari abu dan lainnya.
Bagian rambut dihias dengan bunga melati serta hiasan bunga anggrek bulan, yang umum dikenakan oleh wanita bangsawan. Rambut wanita pada masa itu biasanya disanggul tanpa menggunakan tusuk konde atau ornamen berat.
Selain sebagai pakaian sehari-hari, busana Majapahit juga memiliki makna sosial dan kasta sangat kuat.
Semakin rumit dan lengkap pakaian, semakin tinggi status sosial pemakainya. Bangsawan dengan aksesori lengkap seperti mahkota, anting, kalung, hingga gelang tangan dan kaki, menandakan kasta tertinggi, sementara rakyat biasa menggunakan pakaian yang lebih sederhana seperti kain sinjang dan sampet.
Para prajurit di kerajaan Majapahit pun memiliki pakaian khusus seperti baju pelindung yang disebut kawaca yang terbuat dari logam atau tembaga untuk perlindungan saat berperang.
Prajurit lebih kaya mengenakan zirah sisik atau siping-siping, serta helm baja yang disebut rukuh. (Wulandari/Linda)
Editor : Martda Vadetya