JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Gapura Bajang Ratu, sebuah peninggalan bersejarah dari Kerajaan Majapahit yang megah dan misterius.
Gapura Bajang Ratu menjadi salah satu destinasi wisata sekaligus objek penelitian arkeologi di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Dari keindahan arsitektur hingga nilai mistis yang mengelilinginya, gapura ini menyimpan berbagai kisah dan mitos yang masih dipercaya oleh masyarakat hingga kini.
Gapura Bajang Ratu diperkirakan dibangun pada abad ke-14 sebagai bagian dari kompleks bangunan kerajaan Majapahit.
Secara harfiah, nama "Bajang Ratu" dalam bahasa Jawa memiliki arti "raja kecil" atau "raja cacat."
Nama ini erat kaitannya dengan Raja Jayanegara, raja kedua Majapahit yang memerintah antara 1309-1328 Masehi.
Menurut legenda dan catatan sejarah dalam Serat Pararaton, saat Jayanegara masih kecil ia mengalami cedera akibat terjatuh dari gapura ini, sehingga mendapat julukan "Bajang Ratu."
Selain itu, gapura ini juga dipercaya dibuat sebagai pintu masuk menuju bangunan suci untuk memperingati wafatnya sang raja pada tahun 1328.
Arsitektur Gapura Bajang Ratu sangat khas dengan tinggi sekitar 16,5 meter dan lebar dasar 11,5 meter.
Bangunan terbuat dari batu bata merah dengan ukiran-ukiran relief yang menampilkan cerita Ramayana serta relief Sri Tanjung yang melambangkan pelepasan jiwa.
Keunikan gapura ini adalah bentuknya yang ramping dan tinggi dengan atap bertingkat khas Majapahit yang penuh dengan makna filosofis dan simbolik.
Selain nilai sejarah, gapura ini juga dihiasi oleh mitos yang masih menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat setempat.
Salah satu mitos yang paling populer adalah larangan bagi siapa pun yang melewati gapura ini dengan niatan atau cita-cita besar karena dipercaya akan membawa kesialan atau kegagalan.
Bahkan, pejabat pemerintah sekalipun sangat berhati-hati untuk tidak melangkahi gapura ini agar tidak membawa nasib buruk.
Masyarakat juga percaya bahwa Gapura Bajang Ratu merupakan pintu belakang kerajaan dan saat melayat jenazah, orang-orang di wilayah tersebut diwajibkan melewati pintu belakang sebagai penghormatan dan simbol pelepasan jiwa.
Kini, Gapura Bajang Ratu tidak hanya menjadi saksi keagungan Kerajaan Majapahit pada masa kejayaannya, tetapi juga wujud kekayaan budaya dan spiritual yang dipertahankan secara turun-temurun di Mojokerto.
Situs ini menarik wisatawan untuk tidak sekadar menikmati keindahan sejarah, tetapi juga merasakan aura mistis dari gapura yang menjadi ikon kerajaan besar Nusantara itu.
Pelestarian Gapura Bajang Ratu sangat penting agar generasi masa depan dapat terus belajar dan menghargai warisan budaya bangsa Indonesia, termasuk memahami kisah-kisah dan mitos yang mengiringinya, sebagai bagian dari akar sejarah dan identitas bangsa. (Devi)
Editor : Martda Vadetya