Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Bahasa Kawi, Bahasa Kuno Majapahit yang Masih Hidup di Pulau Bali dan Jawa

Imron Arlado • Kamis, 2 Oktober 2025 | 00:41 WIB
Bahasa Kawi dalam naskah
Bahasa Kawi dalam naskah

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Bahasa Kawi atau yang biasa disebut Bahasa Jawa Kuno, digunakan pada masa kerajaan-kerajaan Hindu Buddha di Pulau Jawa, fungsinya sebagai Bahasa sastra, keagamaan, dan hukum.

Bahasa ini merupakan serapan dari kata ‘kavya’ yang artinya puisi atau syair, diambil dari kosakata Sansekerta. Bahasa Kawi digunakan dalam penulisan karya sastra klasik, naskah keagamaan, pengobatan, hingga prasasti pada abad ke-13 hingga abad ke-15.

Bahasa ini berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada abad ke-8 Masehi dan telah menjadi Bahasa utama pada masa kerajaan Hindu Buddha seperti Sriwijaya dan Majapahit.

 

 

Bahasa Kawi juga memiliki pengaruh di Bali dan menjadi Bahasa dasar bagi perkembanngan Bahasa Jawa pertengahan dan modern. Keindahan dan kekayaan kosakatanya membuat Kawi dijuluki sebagai Bahasa sastra yang mengandung nilai filosofis tinggi.

Di Bali, Bahasa ini masih bertahan dalam pembacaan lontar, upacara adat, serta ritual keagamaan Hindu. Sementara di Jawa, Kawi muncul dalam tembang macapat, mantra, dan karya sastra klasik yang diwariskan secara turun-temurun.

Keberadaan Bahasa Kawi juga menunjukkan perannya sebagai jembatan sejarah. Banyak kosakata dalam Bahasa Jawa dan Bali modern yang sumbernya dari Bahasa Kawi, bahkan turut mempengaruhi pembentukan Bahasa Indonesia.

Para peneliti menilai, memahami Bahasa Kawi bukan hanay belajar tentang Bahasa, tetapi juga menelusuri cara berpikir, sistem nilai, dan kearifan lokal nenek moyang Nusantara.

Beberapa contoh kosakata Bahasa Kawi yang memiliki makna indah dan puitis :       

Tak sedikit pula banyak nama anak-anak jaman sekarang yang terinspirasi dari Bahasa Kawi. Karena memang Bahasa ini merupakan Bahasa sastra.

 Banyak naskah lontar di Bali ditulis dalam Bahasa Kawi, seperti Kakawin Ramayana, Kakawin Baratayuddha, dan teks teks keagamaan Hindu lainnya.

Contoh kalimat Kawi dalam naskah lontar : “Ya ta sira Rama ring Ayodhya nagara”, yang memiliki arti “Dialah Rama yang berada di negeri Ayodhya”

 

Di Jawa, Bahasa Kawi kerap digunakan dalam tembang macapat seperti Dhandanggula, Pangkur, dan Asmaradana. Contoh : “Ngelmu iku kalakone kanthi laku”, artinya “Ilmu itu akan tercapai dengan dijalani”.

 

 

Di tengah arus modernisasi ini, keberadaan Bahasa Kawi masih terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Komunitas budaya, lembaga pendidikan, hingga penelitian sejarah berupaya menghidupkan kembali melalui kajian, penerjemahan naskah, serta pengajaran kepada generasi muda.

Dengan demikian, Bahasa Kawi bukan hanya sekedar Bahasa kuno, tetapi juga warisan peradaban Majapahit yang masih bernapas di tengah kehidupan masyarakat Bali dan Jawa hingga hari ini. (Natasia Reyna)

Editor : Martda Vadetya
#sejarah #bahasa kawi #lontar #majapahit #bali #tembang macapat #sastra #jawa