JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Kerajaan Majapahit bukan hanya dikenal melalui kejayaan politik dan militernya saja, tetapi juga melalui karya sastra yang lahir di masanya.
Salah satu karya sastra yang paling monumental adalah Negarakertagama karya Mpu Prapanca, yang tidak hanya merekam sejarah kerajaan, tetapi juga menjadi bukti tingginya peradaban intelektual Nusantara.
Kitab Negarakertagama dikarang pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, tepatnya pada tahun 1365 Masehi. Naskah dari kitab ini terdiri dari 98 pupuh, yang berarti puisi atau syair.
Kitab ini berisikan kisah keagungan Prabu Hayam Wuruk dan puncak kejayaan Kerajaan Majapahit. Kitab ini juga menceritakan asal usul, hubungan keluarga raja, para pembesar negara, jalannya pemerintahan, serta kondisi sosial, politik, keagamaan, dan kebudayaan Kerajaan Majapahit.
Jejak sastra Majapahit ini hingga kini masih terus menjadi bahan pembelajaran dan dianggap sebagai tonggak penting dalam perjalanan literasi Indonesia.
Selain Negarakertagama, era Majapahit juga melahirkan karya sastra lain seperti Sutasoma karya Mpu Tantular yang terkenal dengan semboyan nya yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”.
Ungkapan ini menjadi warisan yang tak ternilai, karena hingga kini diangkat sebagai semboyan negara Indonesia.
Kitab Sutasoma juga ditulis pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Kitab ini bercerita mengenai Pangeran Sutasoma. Di dalamnya juga mengajarkan toleransi beragama, khususnya Hindu dan Buddha.
Karya-karya sastra Majapahit bukan hanya sekedar memuat nilai sejarah, namun juga memuat filosofi hidup, ajaran moral, serta gambaran harmoni antar agama pada masa itu.
Dunia seni rupa pun turut berkembang pesat. Relief-relief peninggalannya, seperti di Candi Penataran dan Candi Sukuh, memberikan visualisasi kisah-kisah dalam kakawin dan epos Hindu-Buddha.
Seni ukir ini menjadikan bentuk dokumentasi sastra yang di visualisasikan, sehingga masyarakat luas pada masa itu dapat memahami nilai dan cerita yang ingin diwariskan.
Perpaduan antara seni dan sastra di era Majapahiy membuktikan tingginya tingkat kebudayaan yang dimiliki kerajaan tersebut. Hingga kini, jejak itu masih dapat ditemui dan terus dipelajari sebagai salah satu pilar warisan budaya Nusantara.
Warisan seni dan sastra Majapahit bukan sekedar peninggalan masa lalu, tetapi juga cerminan betapa majunya peradaban Nusantara.
Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti hal bertoleransi, persatuan, dan kebijaksanaan, tetap relevan bagi generasi sekarang.
Bagi anak muda, mengenal kembali sastra dan seni Majapahit bukan hanya soal sejarah, melainkan cara untuk memperkuat identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi.(Natasia Reyna)
Editor : Martda Vadetya