Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Prabu Brawijaya, Raja Terakhir Majapahit yang Menandai Awal Baru bagi Peradaban Jawa

Imron Arlado • Rabu, 1 Oktober 2025 | 02:00 WIB

 

Prabu Brawijaya, Raja Terakhir Majapahit
Prabu Brawijaya, Raja Terakhir Majapahit

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Sejarah Majapahit senantiasa memikat diskusi, terutama mengenai penguasa terakhirnya, Prabu Brawijaya V. Ia juga disebut sebagai Bhre Kertabhumi, atau Raden Alit sebelum naik takhta.

Namanya tetap tertanam kuat dalam ingatan masyarakat Jawa, karena ia dianggap sebagai representasi dari kemunduran kejayaan Majapahit.  

 Naik Takhta dan Kehidupan Pribadi 

Prabu Brawijaya naik takhta untuk menggantikan ayahnya, Prabu Bratanjung. Dalam narasi tradisional, disebutkan bahwa ia memerintah dalam jangka waktu yang cukup lama, di mana ia menjadi ayah dari banyak keturunan dari berbagai ratu dan selir.

Salah satu ikatan penting adalah pernikahannya dengan Ratu Dwarawati dari Champa, yang mempraktikkan Islam. Hubungan ini menghasilkan anak-anak yang kemudian akan memainkan peran penting dalam sejarah nusantara. 

 Di antara mereka adalah Arya Damar, yang akhirnya menjadi penguasa Palembang, Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, Batara Katong, tokoh kunci di Ponorogo, dan Bondan Kejawan, leluhur raja-raja Mataram.

 

Baca Juga: Museum Trowulan, Pusat Warisan Majapahit di Mojokerto yang Simpan Sejuta Cerita

 

Intinya, meskipun Majapahit jatuh, garis keturunan Prabu Brawijaya terus ada dan mempengaruhi munculnya kerajaan-kerajaan baru. 

 Gelar " Brawijaya " 

Kenyataannya, nama "Brawijaya" tidak hanya dimiliki oleh satu raja. Naskah - naskah kuno menunjukkan bahwa beberapa penguasa Majapahit lainnya juga mengadopsi nama ini, mulai dari Brawijaya I hingga IV, sebelum mencapai Brawijaya V.

Istilah "Bhre" dalam gelarnya berasal dari istilah Bhatara, yang berarti "tuan". Oleh karena itu, "Bhre Wijaya" dapat diartikan sebagai "Tuan Wijaya ". 

Namun, karena Brawijaya V dianggap sebagai penguasa terakhir sebelum keruntuhan kerajaan, nama ini akhirnya dikaitkan erat dengan akhir kejayaan Majapahit. 

 Konflik dan Kejatuhan Majapahit 

Pada masa pemerintahan Brawijaya V, keadaan tidak berjalan lancar. Kerajaan mengalami ketidakstabilan akibat konfrontasi internal, ditambah tekanan yang berasal dari munculnya kekuatan baru yang berbasis Islam di pulau Jawa.

Puncak dari situasi ini adalah perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Raden Patah, putra sendiri, yang mendirikan Kesultanan Demak. Peristiwa tersebut menandai kehancuran Majapahit sekitar tahun 1478.

 

Baca Juga: Fakta Tersembunyi Dibalik Kejayaan Majapahit: Menguak Strategi Politik dan Militer hingga Tiga Kali Berganti Ibu Kota

 

Sejak saat itu, arah sejarah di Jawa berubah, dari dominasi kerajaan Hindu-Buddha menuju munculnya kerajaan-kerajaan Islam. 

 Warisan dan Dampak 

Meskipun Majapahit mengalami kehancuran, dampak dari Prabu Brawijaya masih terasa. Keturunannya menyebar ke sejumlah daerah, bahkan menjadi dasar kekuasaan baru di pulau Jawa dan di luar pulau tersebut.

Oleh karena itu, Brawijaya seringkali dipandang bukan hanya sebagai raja terakhir, tetapi juga sebagai “jembatan” antara dua era kejayaan Majapahit dan munculnya kerajaan-kerajaan Islam. 

 Lebih lanjut, cerita mengenai Brawijaya juga banyak berkembang dalam tradisi lisan dan babad Jawa. Ia digambarkan sebagai seorang raja yang bijaksana, meskipun tidak mampu menahan perubahan zaman.

Sampai saat ini, sosoknya masih sering dibicarakan dalam diskusi mengenai sejarah maupun budaya Jawa. Prabu Brawijaya V tidak hanya merupakan individu yang menandai berakhirnya sejarah Majapahit, tetapi juga merupakan awal dari transformasi signifikan di Nusantara.

 

Baca Juga: Kerajaan Majapahit: Terapkan Sistem Pemerintahan Modern dan Kitab Hukum Kuno Kutaramanawa

 

Dari garis keturunannya lahir pemimpin-pemimpin penting yang memimpin kerajaan-kerajaan yang baru. Kisah sejarahnya berfungsi sebagai pengingat bahwa setiap akhir sebuah era kejayaan selalu membuka kesempatan bagi munculnya sebuah era yang baru. (Tri Yulia Setyoningrum)  

Editor : Martda Vadetya
#majapahit #sejarah jawa #prabu brawijaya #Kerajaan Indonesia #sejarah nusantara