JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Jika kita membahas tentang hidangan tradisional dari Jawa, wajik pasti akan menjadi salah satu yang paling utama. Kue yang terbuat dari beras ketan, gula merah, dan santan ini sudah ada sejak era kerajaan Majapahit.
Lebih dari sekedar makanan manis, wajik memiliki arti filosofis, sejarah yang mendalam, dan peranan penting dalam berbagai upacara adat Jawa. Catatan mengenai wajik dapat ditemukan dalam teks antik seperti Serat Nawaruci.
Dalam naskah tersebut, wajik dikenal sebagai kuliner yang tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai sosial. Bahkan hingga saat ini, wajik masih terdapat dalam tradisi, mulai dari tumplak wajik di Keraton Yogyakarta, seserahan saat acara pernikahan Jawa, hingga kegiatan keagamaan.
Proses Pembuatan
Membuat wajik ternyata lebih rumit dari yang dibayangkan. Beras ketan perlu direndam selama beberapa jam lalu dikukus hingga setengah matang. Setelah itu, santan bersama gula merah matang sampai kental, lalu dicampurkan dengan ketan.
Tahap pengadukan bisa berlangsung berjam-jam untuk memastikan adonan tidak terbakar dan menghasilkan tekstur yang lembut sesuai. Setelah matang, adonan ditekan ke dalam loyang, dibiarkan sebentar, lalu dipotong berbentuk wajik.
Baca Juga: Pemkab Mojokerto Resmi Naungi 58 Cagar Budaya, Disbudporapar Tuntaskan Penetapan Tahap I dan II
Umumnya, kue ini dibungkus dengan daun pisang untuk memperpanjang ketahanan serta memberikan aroma yang khas. Hasil akhirnya adalah hidangan manis legit dengan tekstur lengket yang membangkitkan nostalgia bagi siapa saja yang pernah mencobanya.
Bagi masyarakat Jawa, wajik memiliki hubungan erat dengan berbagai acara perayaan. Dalam pernikahan, wajik menjadi lambang harapan agar pasangan pengantin dapat selalu bersama dan saling mendukung.
Saat mengadakan selamatan atau syukuran, wajik hadir sebagai tanda solidaritas dan kebersamaan antar warga. Wajik juga dianggap sebagai lambang persatuan.
Kelekatan ketan dianggap mencerminkan harapan agar masyarakat tetap rukun, bersatu, dan tidak terpisahkan.
Produser Simpan
Meskipun sangat diminati, wajik memiliki satu kelemahan utama, masa simpannya yang singkat. Dengan kandungan air dan gula yang tinggi, wajik hanya mampu bertahan sekitar 2 hingga 3 hari pada suhu ruangan.
Baca Juga: Kerajaan Majapahit Bali, Antara Identitas, Politik, dan Pariwisata
Hal ini menjadi suatu kendala besar, terutama jika ada keinginan untuk memperluas distribusi ke luar wilayah atau bahkan ke pasar internasional. Namun, saat ini berbagai inovasi tengah diterapkan.
Contohnya, penggunaan kemasan modern, pengawet alami dari bakteri baik, serta pemanfaatan bahan tambahan seperti ampas biji nangka untuk memperpanjang masa simpan.
Beberapa produsen juga mulai mengeluarkan varian baru dengan tambahan rasa modern tanpa menghilangkan keunikan wajik tradisional.
Menjaga Warisan, Meraih Pasar
Inovasi sangat diperlukan agar wajik tetap eksis di tengah banyaknya aneka camilan cepat saji dan makanan modern. Namun yang paling penting adalah melestarikan esensi budaya yang terkandung dalam makanan ini.
Wajik tidak hanya berkaitan dengan cita rasa, tetapi juga merupakan lambang kehidupan, harapan, dan nilai - nilai kebersamaan dalam masyarakat Jawa. Diharapkan wajik dapat terus dilestarikan sambil beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Dengan pengemasan yang sesuai, menjaga standar kebersihan, dan promosi yang inovatif, wajik memiliki potensi besar untuk memasuki pasar baik nasional maupun internasional.
Jika hal itu dapat direalisasikan, wajik tidak hanya akan menjadi warisan kuliner Jawa, melainkan juga menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia. (Tri Yulia Setyoningrum)
Editor : Martda Vadetya