Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kerajaan Majapahit Bali, Antara Identitas, Politik, dan Pariwisata

Imron Arlado • Minggu, 28 September 2025 | 01:20 WIB

Diskusi mengenai Majapahit Bali berfungsi sebagai lambang kebanggaan serta sarana politik identitas, menggabungkan sejarah, Hindu, dan wisata budaya.
Diskusi mengenai Majapahit Bali berfungsi sebagai lambang kebanggaan serta sarana politik identitas, menggabungkan sejarah, Hindu, dan wisata budaya.

Jawa Pos Radar Majapahit - Bali telah lama dikenal karena keindahan alam dan sektor pariwisatanya. Namun, di balik kemewahan wisata, terdapat dinamika terkait politik dan identitas yang sangat menarik.

Salah satu topik yang muncul dalam dua puluh tahun terakhir adalah pemikiran mengenai “Kerajaan Majapahit Bali”.

Istilah ini bukan sekedar mencerminkan romantisme masa lalu. Ia dihapus pada sejarah penaklukan Bali oleh Majapahit pada tahun 1343, ketika Gajah Mada berhasil mengalahkan penguasa Bali.

Sejak saat itu, muncul kelas sosial baru yang lebih feodal dengan para bangsawan keturunan Majapahit menduduki posisi teratas.

Dari titik ini, sistem puri istana para raja dan bangsawan lahir sebagai simbol kekuasaan politik sekaligus pusat kehidupan masyarakat.

Hingga saat ini, puri masih memegang peranan penting. Banyak tokoh asal Bali yang lahir dari puri terlibat dalam dunia politik.

Bahkan setelah reformasi, isu mengenai kebangkitan kembali “Kerajaan Majapahit Bali” muncul kembali. 

 

Baca Juga: Petirtaan yang Dibangun Raja Bali di Mojokerto Menyimpan Mitos yang Dipercaya hingga Saat Ini

 

Tokoh utama dalam hal ini adalah Arya Wedakarna, seorang pelajar muda yang berhasil menjadikan dirinya sebagai simbol penerus kejayaan Majapahit.

Pada tahun 2009, ia mendapatkan gelar “Raja Majapahit Bali” dalam sebuah upacara yang diselenggarakan di Pura Besakih.

Wedakarna memanfaatkan sejarah dan simbol - simbol Majapahit sebagai strategi untuk membangun identitas politik.

Ia menghidupkan kembali tradisi-tradisi Majapahit, menyatukan dukungan dari puri-puri di Bali, serta mendirikan The Hindu Center di berbagai daerah di Indonesia.

Tujuannya tidak hanya untuk memperkuat identitas Hindu, tetapi juga untuk membangun kekuatan politik yang kokoh.

Di sisi lain, puri saat ini juga berfungsi dalam konteks pariwisata budaya di Bali. Banyak puri yang dibuka bagi wisatawan, menampilkan berbagai tarian, masakan tradisional, hingga upacara adat.

Dengan cara ini, puri tidak hanya menjadi lambang kekuasaan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan melalui pariwisata.

 

Baca Juga: Lambang Surya Majapahit, Jadi Simbol Kekuatan dan Keseimbangan Kerajaan

 

Namun, pemikiran mengenai Majapahit Bali tidak luput dari kritik. Bagi sebagian orang, pemikiran ini justru memperkuat kembali sistem Kerajaan.

Meski sistem kasta seolah sudah ditinggalkan, dalam praktiknya masih terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Identitas “keturunan Majapahit” tetap dipandang sebagai kebanggaan dan juga sumber legitimasi sosial.

Meskipun demikian, bagi banyak masyarakat Bali, kebangkitan pemikiran ini memberikan rasa bangga dan semangat baru.

Identitas Majapahit dianggap dapat memperkuat posisi umat Hindu di tengah gelombang globalisasi.

 

Baca Juga: Mengulik Rahasia Strategi Besar Gajah Mada Taklukkan Bali Tahun 1343, Yuk Simak Selengkapnya!

 

Bagi kalangan elit politik, simbol-simbol Majapahit menjadi alat untuk meraih simpati masyarakat. 

Fenomena ini menunjukkan bagaimana sejarah dimanfaatkan kembali untuk kepentingan zaman sekarang. Majapahit, yang sebetulnya telah runtuh sejak abad ke-15, kini dihidupkan kembali dalam bentuk simbol, upacara, dan citra politik.

Bali, dengan puri-purinya, menjadi latar sejarah, identitas, politik, dan pariwisata saling berinteraksi.

Dari sini tampak bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar hilang. Ia selalu bisa dihidupkan kembali untuk membangun identitas dan legitimasi di zaman modern ini. (Leny Ramandhan Oktaviany/Linda)

Editor : Martda Vadetya
#budaya #pariwisata #puri #bali #hindu #kerajaan majapahit #politik