Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Begini Kisah Sumpah Palapa yang Melegenda, dari Ikrar Gajah Mada hingga Semangat Menyatukan Nusantara

Imron Arlado • Jumat, 26 September 2025 | 13:00 WIB

Sumpah Palapa Gajah Mada, janji untuk Menggabungkan Nusantara yang Tercatat dalam Kitab Pararaton dan Menjadi Inspirasi bagi Indonesia
Sumpah Palapa Gajah Mada, janji untuk Menggabungkan Nusantara yang Tercatat dalam Kitab Pararaton dan Menjadi Inspirasi bagi Indonesia

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Sumpah Palapa adalah salah satu pengucapan yang paling dikenal dalam sejarah Nusantara yang diungkapkan oleh Mahapatih Gajah Mada pada abad keempat belas.

Pernyataan ini terdapat dalam Kitab Pararaton, sebuah dokumen sejarah Jawa yang mencatat perjalanan berdirinya Kerajaan Majapahit hingga masa jatuhnya.

Ikrar tersebut mempunyai tidak hanya arti politis, tetapi juga nilai - nilai ideologis yang selanjutnya menjadi roh persatuan bagi bangsa Indonesia.

Kerajaan Majapahit mengalami masa kejayaan tertingginya di bawah kekuasaan Prabu Hayam Wuruk antara tahun 1350 hingga 1389, berkat dukungan Gajah Mada yang menjabat sebagai Mahapatih Amangkubhumi.

Sebelumnya, Gajah Mada telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengatasi pemberontakan Ra Kuti pada tahun 1339, yang membuat Ratu Tribhuwanatunggadewi mengangkatnya menjadi Mahapatih.

Pada saat pelantikannya, Gajah Mada mengucapkan sebuah janji yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Palapa.

Baca Juga: Adat dan Tradisi Warisan Majapahit, Pondasi Kehidupan Nusantara yang Tetap Hidup hingga Kini

Isi sumpah tersebut dicatat dalam Kitab Pararaton bagian VIII sebagai berikut:

''Lamun huwus kalah Nuswantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana isun amukti palapa.'' (Pararaton, Hardjowadojo 1965).

Yang berarti kan Gajah Mada bersumpah bahwa ia tidak akan merasakan kesenangan (amukti palapa) sebelum berhasil menaklukkan daerah-daerah di Nusantara seperti Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik (Singapura).

Dengan kata lain, sumpah ini adalah sebuah deklarasi komitmen politik untuk mengembangkan dan menyatukan wilayah kekuasaan Majapahit.

 

Makna dan Ideologi Sumpah Palapa

Dari segi bahasa, Istilah amukti palapa masih menimbulkan perdebatan. Beberapa pihak mengartikannya sebagai ''pantang untuk bersenang-senang'', sementara yang lain diartikan sebagai ''pantang untuk beristirahat sebelum menyelesaikan tugas''.

Namun, para sepakat sepakat bahwa makna yang paling mendalam adalah komitmen untuk berkorban demi cita-cita persatuan Nusantara.

Sumpah Palapa memiliki nilai yang sejalan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang terdapat dalam Kakawin Sutasoma karya Empu Tantular, serta semboyan Mitreka Satata di Majapahit.

Kesemuanya ini mencerminkan semangat persaudaraan, kebersamaan, dan persatuan dalam keberagaman.

Oleh karena itu, sumpah ini bukan sekedar sekedar janji pribadi Gajah Mada, melainkan merupakan pemersatu ideologi yang resonansinya masih terasa hingga saat ini. 

Baca Juga: Beginilah Gambaran Kehidupan Masyarakat dan Ekonomi Era Kerajaan Majapahit

 

Adanya Reaksi dan Tantangan

Walaupun terlihat mengesankan, janji ini pernah menimbulkan keraguan. Banyak pejabat kerajaan, termasuk Arya Tadah dan tokoh lainnya, mengejek niat Gajah Mada yang dianggap tidak mungkin.

Namun, Gajah Mada menunjukkan keseriusannya melalui berbagai misi penaklukan. Majapahit berhasil memperluas kekuasaan hingga mencapai puncaknya menjadi salah satu kerajaan maritim terkemuka di Asia Tenggara.

Namun, janji ini juga memiliki sisi kelam. Pertempuran Bubat pada tahun 1279 Saka menjadi konsekuensi dari tekad Gajah Mada untuk menaklukkan Kerajaan Sunda.

Peristiwa berdarah ini merenggut nyawa Putri Sunda, yang merupakan calon permaisuri Prabu Hayam Wuruk, dan merusak hubungan antara Majapahit dan Sunda.

Tragedi ini juga menjadi momen penting yang mengakibatkan Gajah Mada dipecat dari jabatan Mahapatih.

 

Dampak dan Warisan

Dalam Kitab Pararaton, tercatat bahwa dampak paling signifikan dari Sumpah Palapa adalah:

  1. Perang Bubat yang menyebabkan luka historis antara masyarakat Sunda dan Jawa.
  2. Pengunduran diri Gajah Mada dari posisi Mahapatih, karena mengecewakan Hayam Wuruk terhadap tindakannya.
  3. Kematian Putri Sunda yang tidak berhasil dinikahi oleh Hayam Wuruk, menyisakan cerita sedih di balik kejayaan Majapahit.

Namun demikian, Sumpah Palapa terus dikenang sebagai lambang tekad dan persatuan.

Ikrar yang diucapkan Gajah Mada menunjukkan bahwa konsep persatuan dalam keberagaman telah ada jauh sebelum Indonesia memperoleh kemerdekaan.

Tidak berlebihan untuk menyatakan bahwa sumpah ini merupakan salah satu dasar yang melahirkan semangat kebangsaan Indonesia. (Leny Ramandhan Oktaviany/FADYA)

Editor : Martda Vadetya
#empu tantular #kitab pararaton #Sumpah Palapa #Amukti Palapa