JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit diakui sebagai puncak prestasi sejarah di Nusantara, mencapai puncak kejaayaannya anatara abad ke-14 dan awal abad ke-16.
Namun, di balik kejayaannya, terdapat informasai yang kurang dikenal luas, yaitu Majapahit mengubah lokasi ibu kotanya sebanyak tiga kali.
Perpindadahn ibu kota ini bukan sekadar perubahan geografis, melainkan mencerminkan pendekatan politik dan militer yang fleksibel serta penyesuaian terhadap kondisi yang senantiasa berubah.
Pada mulanya, Majapahit didirikan pada tahun 1923 dalam sebuah desa bernama Tarik. Terletak di lembah Sungai Brantas dan merupakan area bekas Kerajaan Singasari.
Pemilihan Tarik sebagai pusat administrasi oleh raden Wijaya bukanlah sebuah kebetulan, melainkan merupakan sebuah langkah strategis untuk mendominasi wilayah lawan sebelumnya dan memanfaatkan keadaan geograafis yanng menguntungkan.
Desa ini menjadi fondasi awal Majapahit, dengan nama kerajaan diambil dari buah maja yang melimpah terdapat di daerah tersebut.
Namun, masa damai itu tidak bertahan lama. Pada tahun 1319, terjadi pemberontakan oleh sekelompok tokoh di dalam kerajaan yang mendorong Majapahit untuk meminfdahkan pusat pemerintahan ke Trowulan.
Trowulan kemudian menjelma menjadi ibu kota paling ternama dan bertahan hampir 160 tahun, lokasi ini dipilih karena dianggao lebih aman dan strategis, di Trowulan, pusat pemerintahan Majapahit dirancang dengan infrastruktur lengkap, meliputi istana, pasar, saluran irigasi, dan benteng pertahanan yang kuat.
Menjelang akhir abad ke-15, ketika kerajaan mulai menghadapi ketidakstabilan internal akibat pemberontakan yang dipimpin oleh Giriwardana, ibu kots Majapahit kembali dipindahkan ke Daha, yang berada di kawasan Kediri saat ini.
Perubahan ini mnenandakan dimulainya era baru sekaligus menjadi awal kemunduran Majapahit, Kota daha yang sebelumnya merupakan ibu kota Kerajaan Kediri, menjadi benteng terakhir sebelum jatuhnya Majapahit ke Kesultanan Demak pada awal abad ke-16.
Tiga kali perubahan ibu kota ini menunjukkan kompleksitas politik internal yang tinggi disertai dengan taktik militer serta diplomasi yang senantiasa berubah, perpindahan lokasi ini juga mencerminkan upaya mengendalikan wiayah yang luas dan populasi yang beragam di bawah kekuasaan Majapahit.
Namun informasi penting ini sering kali luput dari perhatian dalam kajian sejarah Nusantara yang populer, peninggalan arkeologi yang ditemukan di Trowulan sampai saat ini menampilkan kehebatan serta kecanggihan tata kota majapahit yang layak dipuji, dilihat dari peninggalan kuil, gerbang, dan sistem pengairan yang mengesankan.
Penelitian yang lebih mendalam mengenai perubahan ibu kota ini akan memperluas pemahaman kita tentang strategi penguasaan, serta ketahanan politik Majapahit yang unik dan kaya akan nilai sejarah.
Dengan menyelami kisah tentang perubahan ibu kota ini, kita dapat lebih menghargai bahwa kejayaan Majapahit tidak hanya tercermin dari kekuatan militer, melainkan juga dari penyesuaian dan kebijakan politiknya yang terus berkembang demi kelangsungan kerajaan besar di Nusantara. (Dzafir Kirana Adelia)
Editor : Martda Vadetya