JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit tidak hanya diiingat sebagai salah satu kerajaan yang paling berpengaruh di Nusanatara, namun juga menyimpan berbagai kisah cinta dan skandal yang menarik, kaya nuansa dan dramatis.
Di balik kejayaan serta kekuatan politiknya, beragam cerita romantis dan intrik cinta dari para tokoh istana memberikan warna serta menghidupkan sejarah kerajaan ini.
Salah satu romansa yang paling dikenal adalah antara Raden Wijaya, pendiri Majapahit, dan Dyah Lembu Tal, putri Raja Jayakatwang dari Kediri.
Relasi mereka bukan hanya sekadar cinta biasa, melainkan juga terlibat dalam konflik politik dan peperangan pada masa yang penuh tantangan.
Raden Wijaya sukses mengalahkan Jayakatwang dan mengambil Dyah Lembu Tal sebagai istrinya untuk memperkuat legitimasi kerajaan yang baru didirikannya, kisah ini menunjukkan kombinasi antara cinta dan strategi politik yang rumit di awal sejarah Majapahit.
Kisah pahit juga muncul dari peristiwa yang dikenal sebagai Perang Bubat, melibatkan Raja Hayam Wuruk dan Putri Dyah Pitaloka dari Kerajaan Sunda.
Pada awalnya, pernikahan mereka diharapkan dapat menyatukan dua kerajaan yang besar melalui ikatan politik.
Namun, Majapahit Gajah Mada memaksa Kerajaan Sunda untuk menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai simbol ketundukan politik kepada Majapahit.
Tindakan ini ditolak olehKerajaan Sunda, yang berujung pada sebuah perang berdarah di Bubat dan menyebabkan kematian Dyah Pitaloka serta sejumlah bangsawan Sunda lainnya.
Baca Juga: Penetapan Cagar Budaya Tahap Tiga Terus Dikebut, Berkas Kembali Disorong ke Meja Bupati Mojokerto
Tragedi tersebut mencerminkan bentrokan antara cinta, politik, dan kehormatan kerajaan yang berakhir dengan duka.
Sisi romantis lainnya juga terlihat di dalam kisah cinta segitiga dalam istana, Dyah Wiyat, adik Raja Jayanegara, memiliki perasaan untuk Ra Tanca, namun karena perjodohan politik, ia harus menikah dengan Raden Kudamerta, ketegangan perasaan dan politik ini menambah dinamika dramatis dalam kerajaan yang sarat intrik dan perubahan.
Di sisi lain, terdapat kisah Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit yang jatuh hati pada seorang gadis cantik keturunan Tionghoa, Siu Ban Ci.
Kisah cintanya ini menimbulkan kecemburuan di lingkungan istana dan diyakini memiliki dampak signifikan terhadap akhir kekuasaan Majapahit.
Cerita mengenai Brawijaya dan Siu Ban Ci, berfungsi sebagai simbol romantisme sekaligus tragedi yang menjadi penanda berakhirnya kasa kejayaan kerajaan.
Di balik kejayaan Majapahit, kisah cinta dan skandal ini menunjukkan bahwa kerajaan bukan hanya tentang politik dan peperangan, tetapi juga mengenai hubungan antar individu dengan seluruh kompleksitasnya.
Kisah-kisah ini terus ada, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari wwarisan budaya dan sejarah Indonesia. (Dzafir Kirana Adelia)
Editor : Martda Vadetya