JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit sering disebut sebagai kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara.
Berpusat di Trowulan, Jawa Timur, Majapahit mencapai masa kejayaannya pada abad ke-14, terutama di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk (1350-1389) yang didampingi Mahapatih Gajah Mada.
Saat itu, Majapahit tidak hanya menguasai hampir seluruh wilayah kepulauan Indonesia, tetapi juga menjalin hubungan dagang dengan negara-negara di Asia Tenggara, India, bahkan Tiongkok.
Namun, sebagaimana kerajaan besar lainnya di dunia, kejayaan itu tidak berlangsung selamanya. Perlahan namun pasti, Majapahit melemah dan akhirnya runtuh pada awal abad ke-16.
Proses keruntuhan tersebut berlangsung panjang, penuh dengan konflik internal, tekanan eksternal, serta perubahan besar dalam peta politik Nusantara.
Baca Juga: Triloka dan Dewaraja, Simbol Keagamaan dalam Kebudayaan Majapahit
Awal Keruntuhan: Pasca Hayam Wuruk
Wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389 menjadi titik balik melemahnya Majapahit. Sang raja dikenal bijaksana dan disegani, sehingga berhasil menjaga stabilitas Kerajaan yang luas. Setelah ia mangkat, tahta diberikan kepada menantunya, Wikramawardhana.
Namun, keputusan ini menimbulkan ketidakpuasan, terutama dari pihak Bhre Wirabhumi, salah satu bangsawan Majapahit.
Persaingan mereka berujung pada Perang Paregreg (1404-1406). Perang saudara ini melemahkan fondasi Kerajaan. Banyak prajurit tewas, perekonomian terguncang, dan wilayah bawahan mulai berani memberontak.
Baca Juga: Sekolah Perempuan Pertama di Mojokerto, Bekali Siswi Keterampilan Menjahit hingga Memasak
Faktor Eksternal: Bangkitnya Kerajaan Islam
Sementara itu, di pesisir utara Jawa dan wilayah lain Nusantara, mulai bermunculan kerajaan-kerajaan Islam yang berbasis maritim. Misalnya, Kesultanan Malaka berdiri pada abad ke-15 dan menjadi pusat perdagangan internasional.
Di Jawa, Kesultanan Demak muncul sebagai kekuatan baru. Kerajaan Islam ini lebih mampu menyesuaikan diri dengan arus perdagangan global yang semakin ramai di kawasan maritim. Majapahit, yang masih berorientasi agraris, kalah bersaing dalam aspek ekonomi.
Selain itu, penyebaran Islam yang cepat di kalangan masyarakat pesisir menyebabkan Majapahit kehilangan pengaruh politik dan kultural.
Banyak wilayah taklukan yang sebelumnya setia, kini lebih memilih menjalin hubungan dengan kerajaan Islam yang sedang naik daun.
Raden Patah dan Akhir Majapahit
Menurut beberapa sumber sejarah, termasuk Babad Tanah Jawi dan catatan portugis, akhir Riwayat Majapahit terjadi sekitar tahun 1527. Saat itu, Raden Patah, penguasa Kesultanan Demak, menyerang Majapahit.
Raden Patah sendiri disebut-sebut masih memiliki darah Majapahit karena diyakini sebagai putra Brawijaya V, raja terakhir Majapahit dari seorang putri Tionghoa.
Karena itu, sebagian orang menganggap Demak adalah penerus Majapahit, meski dengan wajah baru sebagai Kerajaan Islam.
Baca Juga: Trowulan, Pusaka Megah Peninggalan Majapahit yang Masih Berdiri di Nusantara
Penyerangan itu membuat Majapahit benar-benar kehilangan pusat kekuasaanya. Istana di Trowulan ditinggalkan, bangsawan-bangsawan tercerai-berai, dan banyak yang melarikan diri ke Bali. Di sanalah sisa-sisa kebudayaan Hindu-Majapahit masih bertahan hingga kini.
Kini, reruntuhan Majapahit masih dapat ditemui di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Situs-situs bersejarah seperti Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, hingga Gapura Wringin Lawang menjadi saksi bisu kejayaan sekaligus keruntuhan kerajaan besar ini. (FADYA/Devi)
Editor : Martda Vadetya