JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Pernahkah Anda mencicipi segelas jamu kunyit asam atau beras kencur di sebuah warung pinggir jalan? Rasanya yang unik, kadang-kadang manis dan segar, kadang pula pahit yang menyengat, membuat banyak orang merasa tubuh mereka seolah menjadi lebih ringan.
Namun, apakah Anda tahu bahwa tradisi mengkonsumsi jamu ini telah ada sejak ratusan tahun yang lalu bahkan pada periode kejayaan Kerajaan Majapahit di abad ke-14?
Pada waktu itu, jamu bukan hanya minuman biasa. Ia meliputi aspek budaya, pengobatan, dan filosofi hidup masyarakat.
Sejarah mencatat, ada profesi khusus yang dikenal sebagai "acaraki", yaitu peracik jamu yang tugasnya mirip dengan apoteker modern.
Yang membedakan, sebelum mempersiapkan ramuan, acaraki diwajibkan untuk berpuasa dan menjalani meditasi agar ramuan yang dihasilkan dipenuhi dengan energi positif.
Ramuan Herbal di Balik Tembok Keraton
Majapahit terkenal sebagai kerajaan yang megah dan canggih dalam bidang perdagangan, politik, serta kesehatan.
Bukti dari hal ini adalah kemampuan masyarakat pada saat itu dalam mengolah berbagai tanaman menjadi minuman yang memiliki efek penyembuhan.
Jahe, kunyit, kencur, daun sirih, kayu manis, dan buah mengkudu, semuanya dicampur menggunakan cara yang simpel yaitu, ditumbuk dengan lesung dan gandik, lalu direbus di atas anglo yang terbuat dari tanah liat.
Baca Juga: Warisan Kuliner Nusantara, Berikut Deretan Ragam Makanan Khas Era Kerajaan Majapahit
Apa hasilnya? Minuman jamu yang diyakini mampu mengatasi rasa lelah, meredakan panas, atau sekadar mempertahankan kesehatan tubuh.
Menariknya, jamu memiliki makna simbolis. Delapan jenis jamu terkenal di Majapahit, seperti kunyit asam, beras kencur, cabe puyang, pahitan, kunci suruh, kudu laos, uyup-uyup, dan sinom, dianggap mencerminkan perjalanan kehidupan manusia.
Dari manisnya masa kanak-kanak hingga kepahitan dalam kehidupan dewasa, jamu-jamu tersebut menggambarkan berbagai fase kehidupan.
Oleh karena itu, setiap tegukan bukan sekadar tentang kesehatan, tetapi juga sebagai pengingat akan filosofi kehidupan.
Dari Gendongan ke Botol Modern
Seiring dengan berjalannya waktu, tradisi jamu mulai menjangkau lebih luas dari lingkungan keraton.
Masyarakat Jawa mengenal tradisi ini melalui para wanita yang menjual ramuan dengan botol kaca yang diletakkan dalam keranjang rotan.
Gambaran ini masih dapat ditemukan hingga awal tahun 2000-an di banyak lokasi pedesaan Jawa.
Saat ini, tampilan jamu telah berubah menjadi lebih modern. Mulai dari bubuk instan, kapsul, hingga minuman kemasan yang siap minum di supermarket.
Namun, inti dari jamu tetap tidak berubah: ramuan dari bahan alami yang diyakini dapat memberikan kesehatan tanpa efek samping yang signifikan.
Menariknya, tren "kembali ke alam" yang belakangan ini populer justru membuat jamu kembali terkenal.
Selama masa pandemi COVID-19, misalnya, banyak orang mencari jahe merah, kunyit, dan jeruk nipis untuk diolah menjadi minuman penguat imun secara mandiri di rumah.
Warisan yang Jangan Dibiarkan Hilang
Jamu lebih dari sekadar ramuan kesehatan, ia mencerminkan khasanah budaya. Jamu memberikan pelajaran tentang keseimbangan, penghormatan kepada lingkungan, dan kebijaksanaan dalam merawat kesehatan.
Sejak berabad-abad lalu, Majapahit telah menunjukkan hal ini, dan kini tanggung jawab ada pada kita untuk melestarikan warisan tersebut.
Menanam kembali tanaman obat di halaman rumah, berpartisipasi dalam penelitian herbal, atau sekadar mempertahankan tradisi mengkonsumsi jamu di dalam keluarga merupakan tindakan kecil namun signifikan.
Karena, secangkir jamu saat ini tidak hanya berhubungan dengan kesehatan fisik, tetapi juga dengan mengaitkan sejarah panjang bangsa ini.
Sebagaimana peribahasa Jawa yang menyatakan, urip iku urup hidup mesti bermanfaat. Dan bisa jadi, jamu adalah salah satu cara paling sederhana dan dekat untuk mencapainya. (Leny Ramandhan Oktaviany/Devi)
Editor : Martda Vadetya