Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Jejak Majapahit Nasi Jagung Dari Krisis Pangan Menjadi Identitas Kuliner

Imron Arlado • Kamis, 18 September 2025 | 00:40 WIB

Jejak Majapahit Nasi Jagung Dari Krisis Pangan Menjadi Identitas Kuliner
Jejak Majapahit Nasi Jagung Dari Krisis Pangan Menjadi Identitas Kuliner

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Di sebuah desa dalam Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, aroma nasi jagung yang mengepul dari dandang tua sering menjadi daya tarik di pagi hari.

Kombinasi harum jagung pipilan dengan makanan sederhana seperti tempe orem-orem, ayam goreng, atau tahu bumbu Bali menyambut setiap pengunjung yang datang.

Walau terlihat biasa, namun di balik butiran nasi jagung tersebut terdapat sejarah panjang, dari masa-masa sulit, krisis pangan, hingga kini menjadi simbol kuliner desa.

 

Warisan dari Masa Sulit

Bagi warga lanjut usia di Sawahan, nasi jagung lebih daripada sekadar hidangan. Ia merupakan kenangan pahit sekaligus lambang ketahanan.

Pada era penjajahan Jepang, rakyat diharuskan menyerahkan beras dalam jumlah besar kepada pemerintah pendudukan.

Masyarakat menamakan periode ini sebagai “Zaman Kwintalan.” Di banyak desa, termasuk Sawahan, beras menjadi barang yang sangat sulit didapat.

Di tengah keterbatasan ini, jagung menjadi solusi. Biji jagung dikeringkan, kemudian ditumbuk, dan diproses menjadi nasi. Kadang disajikan hanya dengan lauk seadanya seperti ubi, sayur rebus, atau sambal.

"Ibu saya pernah bercerita, dahulu orang-orang mengkonsumsi jagung karena peperangan. Beras sangat mahal dan sulit dijangkau. Jadi, jika ada jagung, yang ditumbuk menjadi nasi," kata Yuli Astutik, warga lokal juga seorang penjual nasi jagung di Pasar Sawahan.

 

Baca Juga: Triloka dan Dewaraja, Simbol Keagamaan dalam Kebudayaan Majapahit

 

 

Jejak Majapahit di Piring

Kebiasaan menyantap nasi jagung di Sawahan memiliki hubungan yang erat dengan sejarah panjang Jawa. Wilayah ini masih berhubungan kuat dengan jejak-jejak Majapahit.

Tengger, yang terkenal sebagai lokasi perlindungan bagi para penganut Hindu dari tekanan kerajaan Islam, memiliki tradisi kuliner yang serupa dengan Sawahan, keduanya menggunakan jagung sebagai bahan makanan utama.

Adanya Candi Ngetos di daerah ini semakin menguatkan hubungan antara warisan Majapahit dan pola makan masyarakat setempat.

Dari tempat tersebut, nasi jagung tidak hanya dilihat sebagai pengganti beras, tetapi juga sebagai lambang dari keterhubungan budaya.

 

Dari Warung Desa ke Wisata Kuliner

Perubahan zaman telah terjadi, namun nasi jagung tetap memegang perannya. Kini, ia justru menjadi daya tarik wisata.

Deretan tempat makan di Desa Sawahan selalu ramai dengan pengunjung setiap harinya, dengan pelanggan dari beragam latar belakang.

Beberapa orang lokal mengkonsumsinya sebagai menu sarapan, sementara wisatawan dari luar daerah merasa tertarik untuk mencicipi cita rasa khas nasi jagung Sawahan.

Kejadian ini sejalan dengan meningkatnya kembali minat terhadap kuliner tradisional di Indonesia.

Menurut Setyanti (2011), makanan yang menjadi warisan nenek moyang kini tidak hanya terbatas pada warung pinggir jalan, tetapi juga sudah memasuki restoran menengah. Nasi jagung Sawahan merupakan salah satu contohnya sederhana, namun kaya akan cerita dan rasa.

 

Baca Juga: Warisan Kuliner Nusantara, Berikut Deretan Ragam Makanan Khas Era Kerajaan Majapahit

 

Rahasia Dapur Sederhana

Metode memasak nasi jagung Sawahan tetap berpegang pada cara-cara tradisional. Jagung direbus atau dikukus sampai empuk, kemudian dicampur dengan lauk yang dimasak melalui tumisan atau penggorengan.

Meskipun mungkin tampak biasa, dari kesederhanaan inilah muncul cita rasa yang unik.

Sebagai contoh, tempe orek-orek diolah dengan bumbu tumisan yang lezat. Ayam goreng dimasak hingga kering, kemudian disajikan dengan sambal terasi pedas yang menambah selera.

Semua elemen ini berpadu dengan baik bersama tekstur nasi jagung yang sedikit padat namun wangi.

 

Identitas yang Dibanggakan

Saat ini, nasi jagung Sawahan telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar makanan untuk mengatasi rasa lapar saat harga beras melambung atau saat gagal panen.

Ia telah menjadi simbol yang lebih tinggi, identitas budaya dan kebanggaan masyarakat setempat.

Hidangan ini tidak hanya memberikan kontribusi ekonomi melalui pariwisata, tetapi juga melestarikan warisan sejarah agar tidak hilang oleh waktu.

Setiap suapan nasi jagung Sawahan bagai mempersembahkan kisah, mengenai masa-masa sulit yang pernah dilalui, jejak sejarah Majapahit yang masih terasa, hingga semangat masyarakat untuk menjaga tradisi.

Tidak mengherankan jika nasi jagung sekarang bukan hanya sekedar makanan, tetapi juga lambang ketahanan dan kebanggaan suatu komunitas. (Leny Ramandhan Oktaviany/Devi)

 

Editor : Martda Vadetya
#Kuliner Majapahit #jejak majapahit #identitas budaya #nasi jagung #wisata kuliner