JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Situs Trowulan, yang sekarang berada di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dikenal secara luas sebagai lokasi bekas ibu kota Kerajaan Majapahit.
Eksistensinya sebagai pusat administrasi Majapahit telah ditunjukkan melalui berbagai sumber utama seperti Negarakertagama, Pararaton, dan dokumentasi kolonial dalam History of Java oleh Thomas Stamford Raffles.
Dari perspektif sejarah dan arkeologi, Trowulan sangat penting untuk memahami kejayaan Majapahit dan juga sebagai bukti yang jelas mengenai peradaban besar di Nusantara pada abad ke-14 sampai ke-15.
Asal-usul Nama Trowulan
Asal-usul nama Trowulan memiliki catatan yang panjang dalam berbagai referensi. Dalam karya Pararaton, istilah “Antawulan” dapat ditemukan, sedangkan Raffles menyebutkan “Trowulan” atau “Trang Wulan” dalam karyanya, History of Java, yang memiliki arti Bulan yang Bersinar.
Di sisi lain, Negarakertagama pada pupuh 7:3 merujuk kepada suatu bangunan suci yang merupakan tempat keluarga raja, disebut Antara Shashi, yang kemudian dianggap sebagai Antrawulan, yang merupakan nenek moyang dari Trowulan.
Meskipun terdapat variasi dalam interpretasi, semuanya merujuk pada satu tempat yang sama, yaitu Trowulan, yang merupakan pusat pemerintahan Majapahit.
Baca Juga: Onde-Onde, Manisnya Warisan Kuliner Majapahit
Tata Kota dan Struktur Pemerintahan
Trowulan, sebagai pusat kerajaan, dirancang dengan perencanaan kota yang cermat dan mengandung makna filosofis yang mendalam.
Penelitian terkini menggunakan GIS (Sistem Informasi Geografis) mengindikasikan bahwa Trowulan memiliki tata letak bangunan penting yang terstruktur:
- Bagian barat: Area Watangan, Paseban Panjang, serta kediaman para pejabat istana.
- Bagian timur: Permukiman para penyair dan cendekiawan serta kompleks istana.
- Bagian utara: Lokasi Kubur Panggung, Pendapa Agung, dan gerbang utama.
- Bagian selatan: Parit, saluran air, serta komplek Keraton Bacingah serta bangunan tempat ibadah.
Tata ruang ini menunjukkan bahwa Trowulan dibangun tidak hanya untuk fungsi administratif, tetapi juga dengan mempertimbangkan aspek-aspek militer, ekonomi, dan spiritual.
Aliran sungai yang mengelilingi Trowulan berperan sebagai jalur perdagangan yang sangat penting, yang menghubungkan kota dengan wilayah lain di sepanjang Sungai Brantas.
Simbolisme Hindu-Buddha dalam Tata Kota
Majapahit merupakan sebuah kerajaan yang memiliki ciri Hindu-Buddha, sehingga perencanaan kota Trowulan dipenuhi dengan nilai-nilai keagamaan. Konsep Triloka (Bhurloka, Bhuwarloka, Swarloka) terlihat dalam layout kota:
Baca Juga: Ini Deretan 5 Destinasi Wisata Sejarah di Mojokerto yang Menyimpan Rahasia Kejayaan Majapahit
- Pasar berfungsi sebagai cerminan Bhurloka, yaitu dunia manusia yang masih terhubung dengan keinginan duniawi.
- Alun-alun (Wanguntur) berperan sebagai Bhuwarloka, tempat di mana rakyat dapat bertemu dengan raja yang dipersepsikan sebagai reinkarnasi dewa.
- Keraton melambangkan Swarloka, yang merupakan simbol tempat tinggal suci pemimpin yang dianggap sebagai manifestasi dewa di bumi.
Tata letak horizontal ini menunjukkan bahwa Majapahit tidak hanya mengedepankan aspek politik, tetapi juga memperkuat legitimasi raja sebagai pemimpin yang bersifat sakral.
Keagungan Arsitektur Majapahit
Relief-relief dari candi seperti Penataran dan Tegowangi memperlihatkan gambar-gambar gerbang, batasan, serta pintu masuk yang besar yang diyakini juga ada di Trowulan.
Proses virtualisasi 3D yang dilakukan oleh peneliti masa kini menunjukkan gambaran istana dan kota Trowulan yang memiliki bangunan megah, gerbang yang monumental, serta tata ruang yang menggambarkan kemajuan arsitektur di era Majapahit.
Adanya bangunan-bangunan suci Siwa-Buddha, ruang pertemuan, hingga sumber air suci menunjukkan kombinasi antara aspek spiritual dan politik dalam satu area perkotaan.
Ini menegaskan bahwa Majapahit memiliki kekuatan tidak hanya dalam hal militer dan ekonomi, tetapi juga memiliki basis religius yang solid.
Situs Trowulan merupakan bukti nyata kejayaan Majapahit sebagai kerajaan terbesar di Nusantara.
Dari sumber sastra klasik hingga penelitian arkeologi modern, Trowulan tampil sebagai representasi ibu kota yang maju, terencana, dan sarat makna filosofis.
Tata kota yang berorientasi pada konsep Hindu-Buddha menunjukkan betapa eratnya hubungan antara agama, politik, dan kehidupan masyarakat Majapahit.
Sebagai warisan dunia yang tak ternilai, Trowulan bukan hanya saksi bisu masa lalu, tetapi juga identitas budaya bangsa Indonesia.
Baca Juga: Bubur Sumsum, Jejak Kuliner Era Majapahit yang Masih Jadi Primadona hingga Saat Ini
Melalui pelestarian situs ini, generasi masa kini dapat terus mempelajari nilai-nilai kejayaan Majapahit yang menjadi fondasi peradaban Nusantara. (Tri Yulia Setyoningrum)
Editor : Martda Vadetya