JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit diakui sebagai salah satu puncak dari peradaban Nusantara pada abad ke-14 hingga 15 M.
Selain memiliki kekuatan dalam aspek politik dan ekonomi, Majapahit juga meninggalkan peninggalan budaya yang sangat kaya melalui berbagai aspek seperti agama, sastra, dan arsitektur keagamaan.
Menurut Munandar (2008), tradisi kebudayaan Majapahit mencerminkan pencapaian yang tinggi dan terhubung dengan nilai-nilai spiritual.
Sebagai suatu kerajaan dengan pengaruh Hindu-Buddha (Fariza et al., 2018), aspek spiritual Majapahit terlihat dengan jelas dalam artefak, teks, relief, serta struktur bangunan candi.
Akulturasi Agama dan Sastra
Sastra Majapahit memiliki hubungan yang erat dengan sistem kepercayaan yang ada dalam masyarakatnya.
Banyak karya sastra menggambarkan nilai-nilai religius, mitologi, dan simbol spiritual yang berasal dari ajaran Hindu-Buddha.
Bahkan, kehidupan di istana turut mendukung perkembangan sastra yang berfungsi sebagai dasar ajaran agama.
Keunikan Majapahit terletak pada kemampuannya untuk menggabungkan dimensi sastra dan agama tanpa menimbulkan pertikaian.
Sebaliknya, karya-karya tersebut memperkuat persatuan sosial dan menunjukkan peran sastra sebagai sarana untuk menghayati ajaran agama.
Baca Juga: Riwayat Tribhuwana Wijayatunggadewi, Raja Perempuan yang Memperkuat Majapahit
Konsep Dewaraja dan Triloka
Salah satu gagasan spiritual yang signifikan pada era Majapahit adalah dewaraja. Dalam pemahaman ini, raja yang sudah meninggal diyakini bergabung dengan dewa yang dihormatinya.
Oleh karena itu, sosok raja dianggap sebagai penghubung antara dunia manusia dan dunia dewa.
Gagasan ini kemudian diterapkan dalam bangunan suci, terutama candi, yang mencerminkan simbol triloka yaitu, dunia manusia, dunia pertapaan, dan dunia dewa.
Relief yang terdapat pada dinding candi menjadi bukti nyata adanya akulturasi ini. Para seniman memilih cerita-cerita religius untuk diukir, sehingga candi berfungsi sebagai alat komunikasi spiritual serta simbol hubungan antara manusia dan dewa.
Arsitektur Atap Tumpang
Arsitektur dari Majapahit juga menunjukkan dampak dari unsur agama. Banyak tempat ibadah dan bangunan penting menggunakan atap tumpang yang terbuat dari kayu, ijuk, atau ilalang, mirip dengan yang ada di pura Bali.
Baca Juga: Perang Paregreg: Konflik Saudara yang Mengakhiri Kejayaan Kerajaan Majapahit
Model atap dengan tingkat ganjil (3, 5, 7, 9, sampai 11) melambangkan derajat para dewa. Tingkatan paling tinggi, yaitu 11 atap, dikhususkan bagi dewa utama, sementara lapisan yang lebih rendah ditujukan untuk dewa lainnya.
Ini mencerminkan hubungan antara arsitektur Majapahit dan sistem kosmologi Hindu-Buddha.
Representasi Makrokosmos
Doktrin Brahmana mengenai Gunung Mahameru sebagai jantung alam semesta juga terlihat dalam candi-candi dari Majapahit.
Contohnya, Candi Tikus yang terletak di Trowulan menggambarkan Gunung Mahameru yang dikelilingi oleh lautan dan pegunungan.
Kolam yang ada di sekitar struktur tersebut melambangkan lautan kosmik, sementara dinding kolam yang tinggi melambangkan gunung Cakravala.
Dengan demikian, bangunan keagamaan Majapahit bukan hanya berfungsi sebagai tempat untuk beribadah, tetapi juga merupakan representasi mini dari kosmos.
Akulturasi antara agama, karya sastra, dan desain bangunan membentuk kebudayaan Majapahit yang unik.
Setiap relief, naskah, dan bangunan kuil berfungsi sebagai bukti dari kombinasi yang seimbang antara spiritualitas dan pengungkapan budaya.
Baca Juga: Warisan Kuliner Nusantara, Berikut Deretan Ragam Makanan Khas Era Kerajaan Majapahit
Ini menunjukkan bagaimana Majapahit berhasil menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai dasar budaya dan juga lambang peradaban yang megah di Nusantara. (Tri Yulia Setyoningrum)
Editor : Martda Vadetya