Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Riwayat Tribhuwana Wijayatunggadewi, Raja Perempuan yang Memperkuat Majapahit

Imron Arlado • Jumat, 12 September 2025 | 03:00 WIB
Ilustrasi Tribhuwana Wijayatunggadewi
Ilustrasi Tribhuwana Wijayatunggadewi

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Majapahit.

Ia dikenal sebagai raja perempuan Majapahit yang memimpin kerajaan dengan keberanian dan kemampuan politik yang luar biasa.

Ia adalah putri dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, dan menjadi raja setelah kakak tirinya, Raja Jayanegara, wafat pada tahun 1328.

Raja Jayanegara tidak memiliki anak, sehingga Tribhuwana mengambil alih kekuasaan.

Sebelum menjadi ratu di Majapahit, Ia dikenal sebagai Dyah Gitarja. Setelah memimpin kerajaan ia menyandang gelar Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.

 

 

Selama pemerintahannya, Tribhuwana mampu memimpin kerajaan dengan cara yang stabil dan penuh strategi.

Salah satu keputusan pentingnya adalah menunjuk Mahapatih Gajah Mada sebagai perdana menteri pada tahun 1334.

Gajah Mada lalu berikan sumpah Amukti Palapa, yang berisi janji untuk mempersatukan seluruh Nusantara di bawah Majapahit tanpa menikmati kesenangan duniawi sebelum sumpah tersebut selesai.

Di bawah pembinaan Tribhuwana dan strategi Gajah Mada, Majapahit mengalami ekspansi wilayah yang besar.

Salah satu kemenangan terbesarnya adalah penaklukan Pulau Bali pada tahun 1343. Keberhasilan ini memperkuat dominasi Majapahit di wilayah Nusantara.

Ekspansi ini tidak hanya memperluas kekuasaan, tetapi juga memperkuat posisi Majapahit sebagai kekuatan politik dan ekonomi utama di Asia Tenggara pada masa itu.

 

Tribhuwana mampu menjaga stabilitas dalam negeri, serta terus membangun jaringan kekuasaan yang luas.

Sebagai raja perempuan di masa yang didominasi oleh laki-laki, Tribhuwana dianggap sebagai pelopor yang menunjukkan kemampuan perempuan memimpin dengan baik dalam bidang politik dan militer.

Keberhasilannya membuka jalan bagi masa kejayaan Majapahit yang lebih besar, terutama di bawah pemerintahan putranya, Hayam Wuruk, yang dikenal sebagai raja keempat Majapahit.

Hayam Wuruk memimpin kerajaan dengan dukungan Gajah Mada, yang membawa Majapahit mencapai puncak kejayaannya.

Setelah Tribhuwana pensiun pada tahun 1350, keputusan tersebut diambil seiring wafatnya sang ibunda, Gayatri.

Namun, ia tetap aktif sebagai penasihat dan memegang pengaruh politik yang besar hingga kematiannya.

 

 

Di samping prestasi dalam area politik dan militer, Tribhuwana juga meninggalkan warisan penting dalam hal memperkuat kekuasaan dan membangun dasar pemerintahan Majapahit.

Pemimpinannya menunjukkan bahwa kekuatan sebuah kerajaan tidak hanya tergantung pada luas wilayah, tetapi juga pada kemampuan mengelola sumber daya dengan baik dan menjaga hubungan yang harmonis dengan wilayah di bawahnya.

Tribhuwana Wijayatunggadewi meninggal setelah tahun 1371. Konon jasadnya disucikan di Candi Pantarapura, yang terletak di Desa Panggih, Trowulan, Mojokerto.

Namanya tetap dikenang sebagai raja perempuan yang berhasil melanjutkan amanah pendiri Majapahit.

Ia juga berhasil menaklukkan area Nusantara dan membentuk dasar kejayaan Majapahit, yang menjadi salah satu kerajaan paling besar dan berpengaruh di Asia Tenggara pada masa itu. (RIZMA/Devi)

Editor : Martda Vadetya
#Tribhuwana Wijayatunggadewi #Gayatri Rajapatni #gajah mada #kerajaan majapahit