Jawa Pos Radar Majapahit - Masa Keemasan Kerajaan Majapahit tidak dapat dipisahkan dari kontribusi dua sosok utama yaitu, Ratu Tribhuwana Tunggadewi dan Mahapatih Gajah Mada.
Kedua pemimpin tersebut mendirikan pondasi yang kuat untuk ekspansi wilayah Majapahit, sehingga menjadikan kerajaan ini sebagai salah satu kekuatan utama di Asia Tenggara pada abad ke-14.
Tribhuwana Tunggadewi mulai memerintah pada tahun 1328 M atas instruksi ibunya, Gayatri Rajapatni.
Selama bertahun-tahun pada awal kepemimpinannya, Majapahit menghadapi tantangan serius berupa pemberontakan Sadeng dan Keta yang terjadi pada tahun 1331 M.
Dengan kepemimpinan Tribhuwana dan kecerdikan Gajah Mada, pemberontakan ini dapat ditumpas.
Kemenangan ini tidak hanya melindungi Majapahit dari kemungkinan perpecahan, tetapi juga menjadi awal dari masa kejayaan kerajaan tersebut.
Sebagai bentuk penghargaan, Gajah Mada diangkat sebagai Rakryan Mahapatih pada tahun 1334 M. Pengangkatan ini membawa dampak signifikan karena dari sinilah muncul sumpah yang terkenal, Sumpah Palapa.
Dalam sumpah tersebut, Gajah Mada berjanji untuk tidak menikmati kehidupan duniawi sampai tujuan menyatukan seluruh Nusantara di bawah bendera Majapahit tercapai.
Ekspedisi Pamalayu dan Perluasan Wilayah
Pada tahun 1339 M, ambisi besar itu mulai terwujud melalui ekspedisi Pamalayu kedua. Tribhuwana mengirim Adityawarman untuk menaklukkan Dharmasraya di Sumatera.
Ekspedisi tersebut berhasil merebut kembali daerah Melayu yang sebelumnya berada di bawah kendali Singasari. Keberhasilan ini tidak hanya memperluas pengaruh Majapahit, tetapi juga mengamankan dominasi perdagangan lada di Sumatera.
Empat tahun berlalu, pada 1343 M, ekspansi berlanjut ke Bali yang saat itu berada di bawah pemerintahan Kerajaan Bedahulu.
Gajah Mada memimpin pasukan dengan taktik pintar menyerang dari dua sisi yaitu, timur dan selatan. Akhirnya, Bali jatuh ke tangan Majapahit, menambah panjang daftar wilayah yang ditaklukkan.
Ekspansi tidak berhenti sampai di situ. Pada tahun 1347 M, Adityawarman membangun kekuasaan Majapahit di Sumatera dengan mendirikan Kerajaan Malayapura di Minangkabau.
Sementara itu, Gajah Mada bersama Mpu Nala melancarkan serangan ke Samudera Pasai, yang merupakan pusat perdagangan Islam di pantai utara Sumatera.
Taktik gabungan darat dan laut yang diterapkan berhasil menaklukkan Pasai, memperkuat dominasi Majapahit di jalur perdagangan Selat Malaka.
Masa Hayam Wuruk dan Puncak Kejayaan
Tahun 1350 M merupakan momen peralihan kekuasaan dari Tribhuwana kepada anaknya, Hayam Wuruk. Walaupun terjadi perubahan dalam kepemimpinan, upaya ekspansi politik tetap dilanjutkan.
Di bawah arahan Gajah Mada, Majapahit berhasil menguasai sebagian besar wilayah Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Papua Barat.
Sesuai dengan catatan dalam kitab Negarakertagama, kekuasaan Majapahit meliputi area yang sangat luas, dari Lamuri (Aceh) hingga Wanin (Papua).
Namun, periode kejayaan tersebut tidak lepas dari kejadian menyedihkan, yaitu Tragedi Bubat pada tahun 1357 M. Hayam Wuruk memiliki rencana untuk menikahi Dyah Pitaloka, putri dari Kerajaan Sunda.
Namun, Gajah Mada menginginkan agar Sunda menjadi daerah yang takluk. Perseteruan ini berakhir dengan terjadinya pertempuran di Bubat, yang mengakibatkan tewasnya Dyah Pitaloka beserta rombongannya.
Kejadian ini mencemari reputasi Majapahit dan membuat Gajah Mada sempat mengundurkan diri dari posisi yang dipegangnya.
Meski begitu, semangat untuk melakukan ekspansi tetap tidak pudar. Pada tahun 1359 M, tentara Majapahit berhasil merebut Timor, Sumba, Solor, hingga Flores.
Beberapa tahun setelahnya, wilayah Maluku dan sebagian Sulawesi pun jatuh ke tangan Majapahit, menjadikan kerajaan ini sebagai penguasa terkuat di kawasan Nusantara.
Warisan Keemasan
Era keemasan Majapahit tidak hanya dicirikan oleh luasnya daerah, tetapi juga oleh perkembangan dalam aspek politik, ekonomi, budaya, dan sosial.
Pusat perdagangan global berkembang dengan cepat, karya sastra seperti Negarakertagama dan Pararaton muncul, serta sistem pemerintahan semakin terorganisir.
Sayang sekali, Mahapatih Gajah Mada tidak dapat menikmati puncak kejayaannya yang ia ciptakan. Ia meninggal pada tahun 1364 M, setahun sebelum penulisan Nagarakretagama.
Namun, warisannya terus hidup, impian persatuan Nusantara yang kelak menginspirasi terbentuknya Indonesia modern.
Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Gajah Mada menunjukkan bahwa visi persatuan dan kekuatan politik dapat membawa suatu kerajaan menuju masa kejayaannya.
Hingga saat ini, nama Majapahit tetap diingat sebagai lambang kejayaan peradaban di Nusantara. (Leny Ramandhan Oktaviany)
Editor : Martda Vadetya