Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Ratu Suhita, Tokoh Perempuan Tangguh di Balik Kejayaan Majapahit

Imron Arlado • Kamis, 11 September 2025 | 02:00 WIB
Tokoh Perempuan Tangguh di Balik Kejayaan Majapahit: Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Ratu Suhita
Tokoh Perempuan Tangguh di Balik Kejayaan Majapahit: Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Ratu Suhita

Jawa Pos Radar Majapahit - Menjadi kerajaan besar yang pernah menguasai hampir seluruh Nusantara, Majapahit seringkali diidentikkan dengan nama-nama raja laki-laki seperti Raden Wijaya, Jayanegara, hingga Hayam Wuruk.

Namun, sejarah juga mencatat kehadiran tokoh-tokoh perempuan yang memegang peranan penting dalam jalannya pemerintahan.

Di balik dinamika politik dan kejayaan kerajaan, ada sosok pemimpin perempuan tangguh yang meninggalkan jejak bersejarah, yaitu Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Ratu Suhita.

Tribhuwana Wijayatunggadewi, putri Raden Wijaya, naik tahta setelah wafatnya Jayanegara. Masa pemerintahannya dikenal sebagai periode transisi menuju puncak kejayaan Majapahit.

Tribhuwana tidak hanya berperan sebagai simbol kerajaan, tetapi juga pemimpin yang berani mengambil keputusan besar.

 

Baca Juga: Bubur Sumsum, Jejak Kuliner Era Majapahit yang Masih Jadi Primadona hingga Saat Ini

 

Salah satu momen penting di masa pemerintahannya adalah munculnya Mahapatih Gajah Mada dengan ikrar legendarisnya, Sumpah Palapa. Ikrar ini menjadi tonggak ambisi penyatuan Nusantara di bawah panji Majapahit.

Dengan dukungan penuh dari sang ratu, Gajah Mada menjalankan strategi politik dan militer yang memperluas wilayah kerajaan, sekaligus meningkatkan pengaruh Majapahit di mata dunia luar.

Tribhuwana juga dikenal sebagai pemimpin yang bijak dalam menata struktur pemerintahan.

Stabilitas politik di bawah kepemimpinannya memberi ruang bagi tumbuhnya ekonomi dan perdagangan internasional, terutama karena letak Majapahit yang strategis di jalur perdagangan Asia Tenggara.

 

Baca Juga: Riwayat Kerajaan Majapahit, Dari Sumpah Gajah Mada hingga Keruntuhan yang Tragis

Perannya tidak jarang disejajarkan dengan para raja laki-laki, karena ia berhasil mengantarkan Majapahit menuju masa keemasan yang kemudian dilanjutkan oleh putranya, Hayam Wuruk.

Beberapa dekade setelah itu, Majapahit kembali dipimpin oleh seorang perempuan, yaitu Ratu Suhita, yang memerintah pada paruh pertama abad ke-15.

Berbeda dengan masa Tribhuwana, Suhita berkuasa dalam periode yang penuh tantangan.

Kerajaan mulai menghadapi konflik internal, perebutan kekuasaan, serta tekanan dari munculnya kekuatan baru di pesisir utara Jawa. Meski demikian, Suhita tetap menunjukkan kepemimpinan yang tangguh.

Ia mampu menjaga agar Majapahit tetap berdiri di tengah politik yang tidak stabil sekaligus mempertahankan legitimasi kerajaan sebagai pusat pemerintahan terbesar di Jawa.

Suhita juga tercatat memimpin dalam masa yang sulit, yaitu saat keadaan Majapahit setelah Perang Paregreg usai, sebuah konflik besar antara keluarga kerajaan yang sempat mengguncang Majapahit.

 

Baca Juga: Kisah Gayatri Rajapatmi, Sosok Putri yang Tersembunyi di Balik Kejayaan Majapahit

 

Meski perang ini menjadi awal tanda-tanda kemunduran, kepemimpinan Suhita dianggap berhasil menahan disintegrasi lebih jauh.

Hal ini menunjukkan betapa besar perannya dalam menjaga keberlangsungan Majapahit di tengah masa sulit.

Kehadiran Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Ratu Suhita menjadi bukti bahwa perempuan memiliki kedudukan penting dalam sejarah politik Majapahit.

Mereka bukan sekadar pengisi tahta, melainkan pemimpin yang memainkan peran nyata dalam menjaga stabilitas dan membawa perubahan bagi kerajaan.

Warisan kepemimpinan mereka mengajarkan bahwa peran perempuan dalam sejarah Nusantara tidak kalah penting dibandingkan laki-laki, bahkan turut menentukan arah perjalanan sebuah peradaban besar. (FADYA/Devi)

Editor : Martda Vadetya
#Tribhuwana Wijayatunggadewi #mahapatih gajah mada #perang paregreg #perempuan #Ratu Suhita