JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di balik catatan sejarah Kerajaan Majapahit yang penuh dengan kisah perang, ekspansi wilayah, dan sumpah politik besar, ada seorang perempuan yang juga berperan penting dalam berdirinya dan bertahannya kerajaan tersebut.
Ia adalah Gayatri Rajapatni, seorang putri bangsawan yang cerdas, pandai berstrategi, serta mempunyai pengaruh besar dalam urusan politik, meski lebih sering berperan di balik layar.
Gayatri Rajapatni adalah putri bungsu dari Raja Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singhasari.
Melalui pernikahannya dengan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, ia menjadi jembatan antara Singhasari dan Majapahit.
Dari pernikahan ini lahir putri-putri yang kelak berperan besar dalam kesuksesan kerajaan, salah satunya Tribhuwana Tunggadewi, yang kemudian menjadi raja pertama Majapahit sebelum posisi itu diwariskan kepada Hayam Wuruk.
Meski tidak memimpin langsung sebagai raja, Gayatri berperan sebagai pengatur strategi politik yang menentukan arah perjalanan Majapahit.
Setelah Raden Wijaya meninggal, Gayatri memutuskan untuk menjadi seorang bhiksuni.
Keputusan ini tidak mengurangi pengaruhnya, justru dari balik kehidupan sebagai seorang bhiksuni, ia tetap aktif dalam urusan penting kerajaan.
Salah satu tindakannya yang terkenal adalah sikap tegasnya terhadap Raja Jayanegara yang dianggap lemah dan tidak efektif.
Bersama dengan tokoh-tokoh penting seperti Gajah Mada, Gayatri menjalankan strategi yang tidak terlihat namun sangat berpengaruh, akhirnya mengubah arah kekuasaan.
Perannya semakin nyata ketika ia memutuskan Tribhuwana Tunggadewi untuk memimpin Majapahit.
Keputusan ini bukan hanya sekadar pergantian raja, tetapi juga dimulainya masa kejayaan baru Majapahit.
Tribhuwana, dengan dukungan dari Gajah Mada yang menjadi Mahapatih, berhasil mendorong Majapahit untuk melakukan ekspansi besar.
Hal ini menunjukkan bahwa keputusan Gayatri menjadi dasar penting dalam perkembangan kerajaan hingga mencapai puncak kejayaannya di masa Hayam Wuruk. Kecerdasannya juga terlihat dalam cara ia menjaga stabilitas internal kerajaan.
Menurut catatan sejarah, Gayatri menginisiasi pembentukan pasukan Bhayangkara sebagai pelindung keluarga raja.
Pasukan ini kemudian dikenal sebagai kekuatan elit yang sangat setia terhadap istana.
Dengan langkah-langkah taktis seperti ini, Gayatri memastikan proses peralihan kekuasaan berlangsung lancar tanpa gangguan besar yang bisa membahayakan kerajaan.
Saat Gayatri wafat pada tahun 1350, penghormatan besar diberikan kepadanya. Buku Nagarakertagama mencatat secara rinci bagaimana upacara Sraddha dilakukan untuk mengenang dirinya.
Ia bahkan dihormati sebagai wujud Dewi Prajnaparamita, simbol kebijaksanaan dalam ajaran Buddha Mahayana.
Para ahli sejarah menilai Gayatri Rajapatni adalah sosok yang sering terlupakan dalam catatan sejarah populer, padahal kontribusinya sangat besar.
Ia adalah orang yang menentukan arah politik, memimpin proses penggantian kepemimpinan, serta menjaga stabilitas kerajaan.
Sejarawan dan diplomat Earl Drake bahkan menyebutnya sebagai "wanita di balik kebesaran Majapahit" dan menulis buku khusus untuk mengangkat kembali perannya agar tidak terlupakan dalam sejarah.
Baca Juga: Raden Wijaya, Strategi Politik, dan Lahirnya Kerajaan Majapahit
Kisah Gayatri Rajapatni membuktikan bahwa peran wanita dalam sejarah Nusantara tidak bisa dianggap remeh.
Meskipun hidupnya dihabiskan sebagai bhiksuni, ia tetap mampu mengatur strategi politik, menata proses pewarisan kedudukan, dan membangun fondasi yang kuat bagi kejayaan Majapahit. (Rizma)
Editor : Martda Vadetya