Jawa Pos Radar Majapahit - Kerajaan Majapahit, yang merupakan salah satu kerajaan paling besar dalam sejarah Nusantara, masih menyimpan beragam cerita menarik untuk dijelajahi hingga saat ini.
Jejak keberadaannya dapat dilacak melalui berbagai tulisan kuno seperti Pararaton dan Nagarakretagama, serta sejumlah prasasti yang menggunakan bahasa Jawa Kuno dan catatan dari Tiongkok.
Meskipun sering kali terjalin dengan mitos, sumber-sumber tersebut tetap menyajikan gambaran yang penting mengenai sistem pemerintahan dan kondisi politik di Majapahit.
Pararaton, yang juga dikenal sebagai Kitab Raja-raja, lebih banyak membahas cerita Ken Arok, yang merupakan pendiri Kerajaan Singasari. Namun, di dalamnya juga terdapat informasi singkat mengenai kelahiran Majapahit.
Di sisi lain, Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada abad ke-14, menggambarkan masa kejayaan Majapahit di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk.
Naskah ini memberikan gambaran rinci tentang area kekuasaan, struktur pemerintahan, serta praktik keagamaan.
Selain kedua naskah tersebut, terdapat juga prasasti-prasasti yang ditemukan di berbagai lokasi.
Salah satunya adalah Prasasti Wingun Pitu dari tahun 1447 M yang menyebutkan pembagian wilayah kekuasaan Majapahit menjadi 14 daerah bawahan. Informasi ini semakin memperkuat pandangan bahwa Majapahit memiliki sistem birokrasi yang teratur dan rumit.
Di balik keberhasilan dalam bidang politik dan militer, Majapahit juga dikenal karena sistem pemerintahannya yang terorganisir dengan baik.
Pada tingkat pusat, terdapat institusi yang dinamakan Rakryan Mantri ri Pakira-kiran, yang merupakan dewan menteri yang mengelola pemerintahan.
Baca Juga: Raden Wijaya, Strategi Politik, dan Lahirnya Kerajaan Majapahit
Di samping itu, terdapat Dharmmadhyaksa yang memiliki tanggung jawab dalam mengurus hukum-hukum agama, serta Dharmma-upapatti yang memiliki kuasa dalam aspek-aspek keagamaan lainnya.
Salah satu posisi yang paling berpengaruh adalah Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubhumi.
Pejabat ini berfungsi seperti seorang perdana menteri yang mendampingi raja dalam menjalankan pemerintahan.
Nama yang paling terkenal dalam jabatan ini adalah Gajah Mada, yang berhasil membawa Majapahit menuju puncak kejayaannya melalui sumpah palapa yang legendaris.
Majapahit juga memiliki Bhattara Saptaprabhu, yaitu dewan penasihat kerajaan yang terdiri dari kerabat dekat raja.
Dewan ini menunjukkan bahwa meskipun raja memegang kekuasaan tertinggi, pengambilan keputusan penting tetap dilakukan melalui musyawarah dengan keluarga kerajaan.
Pada tingkat daerah, pemerintahan Majapahit memberikan kekuasaan kepada raja-raja kecil atau bangsawan yang bergelar Bhre.
Baca Juga: Dari Situs ke Reels: Cara Anak Muda Membawa Majapahit ke Era Digital
Mereka memimpin 14 daerah bawahan yang tercatat dalam Prasasti Wingun Pitu. Wilayah-wilayah tersebut mencakup Daha, Kahuripan, Wengker, Tumapel, hingga Tanjungpura.
Para penguasa daerah ini memiliki tanggung jawab untuk mengumpulkan upeti, menjaga keamanan, serta memastikan stabilitas politik di wilayah yang mereka pimpin.
Tidak hanya itu, hubungan diplomatik Majapahit dengan negara lain juga menunjukkan tingkat kemajuan dalam pengelolaan kerajaan.
Catatan dari Tiongkok menggambarkan Majapahit sebagai kerajaan yang aktif dalam membangun hubungan dagang dan politik dengan wilayah Asia.
Ini memperkuat posisi Majapahit sebagai pusat kekuasaan dan pusat perdagangan di kawasan tersebut.
Meski sebagian besar informasi tentang Majapahit dipenuhi dengan unsur mitologis, gambaran umum yang tersedia tetap konsisten dengan catatan dari pihak luar.
Dari sini, bisa dipahami bahwa Majapahit bukan hanya sebagai simbol kebanggaan sejarah, tetapi juga sebagai contoh nyata bagaimana suatu kerajaan di Nusantara dapat menciptakan sistem pemerintahan yang teratur, memiliki birokrasi yang efisien, serta pengaruh besar yang melampaui batas-batas wilayahnya.
Baca Juga: Menelusuri Sejarah Bhinneka Tunggal Ika dalam Kitab Sutasoma
Saat ini, nama Majapahit masih diingat bukan hanya sebagai sebuah legenda, melainkan juga sebagai tonggak penting dalam sejarah Indonesia yang mewariskan tradisi politik, budaya, dan diplomasi kepada generasi mendatang. (Leny Ramandhan Oktaviany)
Editor : Martda Vadetya