Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Gejolak Politik dan Perang di Majapahit, Dari Kematian Nambi hingga Pengepungan Sadeng

Imron Arlado • Selasa, 9 September 2025 | 01:00 WIB
Pemberontakan yang terjadi di Sadeng dan Keta sekitar tahun 1331 merupakan suatu peristiwa yang sangat signifikan, menguji sebuah ketahanan dan kestabilan Kerajaan Majapahit.
Pemberontakan yang terjadi di Sadeng dan Keta sekitar tahun 1331 merupakan suatu peristiwa yang sangat signifikan, menguji sebuah ketahanan dan kestabilan Kerajaan Majapahit.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Pemberontakan yang terjadi di Sadeng dan Keta sekitar tahun 1331 merupakan suatu peristiwa yang sangat signifikan, menguji sebuah ketahanan dan kestabilan Kerajaan Majapahit, khususnya wilayah di bawah pemerintahan Ratu Tribhuwana Tunggadewi pada 1328 hingga 1350 M.

Kenangan akan sebuah peristiwa tersebut tidak hanya mencakup bentrokan militer, namun juga latar belakang rasa dendam serta perjuangan politik yang cukup kompleks.

Awal mula dari sebuah pemberontakan tersebut sangat terkait dengan wafatnya Patih Majapahit yang pertama, Nambi, pada tahun 1316.


Nambi, sebagai sosok krusial yang berkontribusi besar terhadap kenaikan status wilayah jajahan Sadeng dan Keta, berakhir tewas akibat serangan yang dirancang dengan intrik oleh seorang pejabat licik yang bernama Dyah Halayudha.


Insiden ini mengakibatkan luka yang mendalam bagi warga Sadeng dan Keta, yang selanjutnya akan menimbulkan keinginan untuk malakukan sebuah balas dendam.

Pada saat itu, Sadeng dan Keta adalah dua wilayah pesisir penting yang terletak di Jawa Timur, yang kini termasuk dalam wilayah Situbondo dan Lumajang, yang tidak termasuk dalam wilayah jajahan biasa.


Kedua wilayah tersebut adalah pusat perdagangan strategis dan penyedia pangan utama bagi Majapahit, maka dari itu, tindakan pemberontakan dari mereka menjadi ancaman serius bagi ibukota Majapahit di Trowulan.


Bertahun-tahun lamanya, Sadeng dan Keta mempersiapkan tentara dan senjata dalam jumlah yang besar, mereka merekrut warga sipil menjadi prajurit yang dilatih untuk melaksanakan pemberontakan yang telah direncanakan dengan baik.


Ketika Ratu Tribhuwana Tunggadewi berkuasa, ketidakhadiran wakil dari Sadeng dan Keta pada pertemuan dengan daerah jajahan lainnya memunculkan kecurigaan dari sang ratu mengenai niat buruk kedua kawasan tersebut.


Guna menanggulangi ancaman yang berkembang ini, Majapahit mengirimkan sejumlah perwira dan prajuri, termasuk Ra Kembar dan Gajah Mada untuk bernegosiasi sambil berusaha menekankan pemmberontakan.


Namun, pada akhirnya perlawanan dari Sadeng dan Keta sangat tangguh, dtambah lagi dengan kepemimpinan tokol lokal yang dianggap memiliki ''Cemeti Sakti'' yang membuat pasukan Majapahit menjadi ragu.


Pada akhirnya, Ratu Tribhuwana Tunggadewi mengambil sebuah keputusan yang tegas untuk turun langsung dalam memimpin pasukan Majapahit di medan tempur.

Dengan kepemimpinan Ratu Tribhuwana Tunggadewi yang berani dan menggunakan strategi yang baik, maka pemberontakan berhasil dipadamkan.


Peristiwa ini menjadi titik penting dalam sejarah Majapahit, yaitu dengan pengangkatan Gajah Mada sebagai Mahapatih pada tahun 1334, dan kemudian dikenal dengan Sumpah Palapanya.


Pengepungan terhadap Sadeng dan Keta bukanlah hanya sekadar masalah peperangan, namun juga merupakan sebuah kisah tentang balas dendam, intrik politik, dan juga pengujian kepemimpinan saat menghadapi situasi krisis.


Keberhasilan Majapahit dalam menumpas pemberontakan ini menguatkan posisi kerajaan di Nusantara dan menjadi salah satu momen penting yang tak akan terlupakan dalam sejarah Kerajaan Maritim terbesar di Asia Tenggara. (Dzafir Kirana Adelia/FADYA)

Editor : Martda Vadetya
#Tribhuwana Tunggadewi #mahapatih gajah mada #Sumpah Palapa #nambi #keta #dan #sadeng #kerajaan majapahit #pemberontakan