Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Darah Ken Arok, Akar Berdirinya Kerajaan Majapahit

Imron Arlado • Senin, 8 September 2025 | 02:00 WIB

Patung Ken Arok
Patung Ken Arok

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Nama Ken Arok atau Ken Angrok menjadi salah satu figur penting dalam sejarah Nusantara. Ia dikenal sebagai pendiri Kerajaan Singhasari di Jawa Timur pada awal abad ke-13 sekaligus leluhur para raja Majapahit. 

Melalui garis keturunannya, Dinasti Rajasa berdiri dan menjadi dasar legitimasi politik bagi kerajaan besar yang kemudian membawa Nusantara mencapai puncak kejayaan. 

Menurut kitab Pararaton, Ken Arok memiliki ambisi besar untuk berkuasa namun awalnya ia hanya berasal dari kalangan rakyat biasa.

Sejak muda, ia bekerja sebagai pengawal Tunggul Ametung, penguasa Tumapel (daerah yang kelak menjadi Singhasari). Ken Arok kemudian terpikat pada Ken Dedes, istri Tunggul Ametung.

Seorang brahmana bernama Lohgawe menegaskan bahwa Ken Dedes memiliki aura wahyu keraton, siapa pun yang menikahinya ditakdirkan menjadi penguasa besar. Keyakinan inilah yang mendorong ambisi Ken Arok untuk merebut kekuasaan.

 

Baca Juga: Jejak Raja Kecil Majapahit: Kisah dan Keindahan Candi Bajang Ratu di Trowulan

 

Ken Arok akhirnya membunuh Tunggul Ametung sang penguasa Ampel dengan memanfaatkan keris buatan Empu Gandring. Ken Arok akhirnya dapat merebut kekuasaan berkat peristiwa ini.

Tak Tak lama berselang, pada 1221–1222 pecah Perang Ganter antara Tumapel melawan Kediri. Ken Arok berhasil mengalahkan Raja Kertajaya dari Kediri, sehingga berakhirlah dominasi Kediri di Jawa Timur. 

Kemenangan tersebut menandai lahirnya Kerajaan Singhasari dengan Ken Arok sebagai raja pertama bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Amurwabhumi

Dari sinilah Dinasti Rajasa resmi berdiri. Setelah Ken Arok berkuasa, meski sering diwarnai dengan perebutan tahta, Singhasari diteruskan oleh keturunannya.

Ken Arok akhirnya terbunuh oleh Anusapati, putra dari Tunggul Ametung dan Ken Dedes yang berniat merebut kembali kekuasaan ayahnya dahulu. Meski Singhasari diliputi perebutan tahta, Dinasti Rajasa tetap berlanjut.

 

Baca Juga: Seni dan Budaya Majapahit, Warisan yang Menginspirasi Indonesia Modern

 

Setelah Anusapati, kekuasaan diteruskan Tohjaya, kemudian Wisnuwardhana (Ranggawuni), hingga akhirnya mencapai masa kejayaan di bawah pemerintahan Raja Kertanegara (1268–1292).

Pada masa Kertanegara, Singhasari melakukan ekspedisi besar ke Sumatra (Ekspedisi Pamalayu, 1275) dan Bali (1284) untuk memperluas pengaruh politik Jawa ke luar pulau.

Runtuhnya Singhasari justru membuka babak baru dalam sejarah Nusantara. Raden Wijaya, menantu Kertanegara sekaligus cicit Ken Arok, berhasil menyelamatkan diri dari serangan Kediri. 

Dengan kecerdikannya, ia kemudian memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol pada 1293 untuk menumbangkan Jayakatwang. 

 

Baca Juga: Dari Situs ke Reels: Cara Anak Muda Membawa Majapahit ke Era Digital

 

Dari kemenangan inilah berdiri Kerajaan Majapahit, dengan Raden Wijaya sebagai raja pertama bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.

Dengan demikian, peran Ken Arok dalam sejarah tidak hanya berhenti pada lahirnya Singhasari, melainkan juga membuka jalan bagi berdirinya Majapahit, simbol kejayaan Nusantara di bawah satu panji besar. (Tri Yulia Setyoningrum/Linda)

Editor : Martda Vadetya
#Ken Arok #singhasari #sejarah nusantara #Dinasti Rajasa #Mojopahit