Jawa Pos Radar Majapahit – Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan negara Indonesia yang menjadi simbol utama persatuan di tengah keberagaman suku, budaya, bahasa, agama, dan adat istiadat yang ada di Nusantara.
Namun, tahukah bahwa semboyan ini berakar dari Kitab Sutasoma, sebuah karya sastra klasik yang ditulis pada abad ke-14 oleh Mpu Tantular di masa kejayaan Kerajaan Majapahit?
Kitab Sutasoma merupakan kakawin Jawa Kuno yang bukan hanya berisi kisah epik, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur tentang harmoni dan toleransi.
Di dalamnya terdapat ungkapan terkenal, "Bhinneka Tunggal Ika," yang secara harfiah berarti "Berbeda-beda tetapi tetap satu." Kutipan ini secara tepat merangkum kehidupan berbangsa Indonesia yang pluralistik.
Frasa Bhinneka Tunggal Ika termaktub dalam pupuh 139 bait 5 Kitab Sutasoma, yang menyatakan bahwa meskipun Buddha dan Siwa (Hindu) adalah dua entitas berbeda, keduanya satu dalam kebenaran.
Hal ini merupakan simbol toleransi beragama dan penghormatan atas perbedaan yang ada di masyarakat pada masa itu.
Hal ini sangat relevan mengingat Majapahit merupakan kerajaan besar yang dihuni berbagai kepercayaan dan budaya.
Setelah Indonesia merdeka, semboyan ini diadopsi sebagai identitas resmi bangsa dan tertulis pada lambang negara, yaitu pita yang digenggam oleh burung Garuda Pancasila. Secara konstitusional, Bhinneka Tunggal Ika diatur dalam Pasal 36A Undang-Undang Dasar 1945.
Semboyan ini menjadi pondasi bagi semangat persatuan bangsa Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau, suku bangsa, dan agama.
Makna Bhinneka Tunggal Ika melampaui sekadar perbedaan agama. Hal itu menjadi dasar filosofi persatuan di tengah kemajemukan bangsa Indonesia.
Meski berbeda suku, budaya, agama, dan bahasa, tetapi seluruh masyarakat tetap merupakan satu kesatuan yang utuh.
Makna ini sangat penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar tidak terpecah belah oleh perbedaan-perbedaan.
Semboyan ini juga mengajarkan bahwa keberagaman adalah kekayaan bangsa yang harus dihormati dan dilestarikan.
Dengan adanya Bhinneka Tunggal Ika, masyarakat diingatkan untuk hidup berdampingan secara harmonis, saling menghargai serta mengedepankan toleransi demi mencapai kehidupan yang damai dan bersatu.
Dengan akar sejarah yang kuat dari masa Majapahit dan filosofi yang mendalam, Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar kata-kata di lambang negara.
Melainkan menjadi cermin dan pedoman bangsa Indonesia untuk terus bersatu dan maju bersama meskipun dilimpahi keberagaman yang luar biasa.
Nilai-nilai dalam Kitab Sutasoma menjadikan Bhinneka Tunggal Ika bermakna sebagai janji pentingnya persatuan dalam kebhinekaan.
Hingga kini, semboyan ini menjadi salah satu landasan utama bangsa Indonesia dalam membangun negara dan masyarakat yang adil serta makmur. (Devi/Linda)
Editor : Martda Vadetya