Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Jejak Kemakmuran Majapahit, Kerajaan Nusantara dengan Sistem Ekonomi Maju

Imron Arlado • Minggu, 31 Agustus 2025 | 23:48 WIB

Ilustrasi masa kejayaan Majapahit
Ilustrasi masa kejayaan Majapahit

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit, yang berdiri pada abad ke-13 hingga 15, tidak hanya dikenal karena kejayaannya dalam menyatukan Nusantara, tetapi juga karena sistem ekonominya yang begitu maju untuk ukuran zamannya. 

Sebagai kerajaan maritim sekaligus agraris, Majapahit berhasil membangun perekonomian yang tangguh, memadukan kekayaan darat dan laut, hingga menjadikannya salah satu kerajaan terkaya dan paling berpengaruh di Asia Tenggara pada abad ke-14. 

Sebagai kerajaan maritim, jalur perdagangan maritim di Nusantara dikuasai oleh Majapahit. Rempah-rempah dari Maluku, beras dari Jawa, garam dari pesisir utara, serta berbagai hasil bumi lain seperti kayu jati, madu, dan gula kelapa merupakan komoditas utama yang diperjualbelikan. 

Pedagang mancanegara sangat meminati barang dagangan ini. Pelabuhan-pelabuhan besar seperti Tuban, Gresik, dan Surabaya (dahulu Hujung Galuh) berfungsi sebagai pusat perdagangan internasional. 

Dari tempat inilah para pedagang dari Tiongkok, India, Arab, bahkan Asia Tenggara bagian lain datang untuk berlabuh dan melakukan transaksi. Kapal-kapal asing tidak hanya membawa barang dagangan, tetapi juga menyebarkan pengaruh budaya, teknologi, dan agama yang semakin memperkaya kehidupan masyarakat Majapahit.

Tidak hanya berdagang dengan wilayah dalam Nusantara, hubungan dagang dengan kerajaan besar lain telah dijalin oleh Majapahit. Hubungan perdagangan dengan Champa, Siam (Thailand), Kamboja, hingga kerajaan Vijayanagara di India selatan telah tercatat dalam sejarah. 

Posisi penting dalam jaringan ekonomi internasional yang dimiliki Majapahit adalah dampak dari perdagangan ini. Meski terkenal sebagai kerajaan maritim, Majapahit juga sangat kuat dalam sektor pertanian.

 

Baca Juga: Jejak Kehidupan dan Peran Seniman Wayang pada Masa Kejayaan Majapahit

 

Tanah vulkanik yang subur di Jawa Timur, terutama di sekitar Sungai Brantas, membuat pertanian menjadi sumber daya utama. Produksi beras begitu melimpah sehingga bisa diekspor ke luar daerah.

Catatan Tiongkok bahkan menyebut bahwa panen beras di Jawa dapat berlangsung dua kali dalam setahun, sebuah prestasi besar di masa itu. Untuk mendukung pertanian, infrastruktur irigasi yang cukup maju telah dibangun oleh Majapahit.

Untuk memastikan sawah-sawah tetap terairi sekaligus mencegah banjir, bendungan, saluran air, waduk, hingga tanggul telah dibangun. Sistem pengairan yang terorganisir ini menjamin pasokan pangan yang stabil, sehingga menopang populasi besar sekaligus menyediakan cadangan pangan bagi perdagangan mampu dilakukan. 

Selain beras, rakyat Majapahit juga menghasilkan tebu, kelapa, pisang, kacang-kacangan, dan umbi-umbian. Garam dari wilayah pesisir pun menjadi komoditas penting, baik untuk kebutuhan domestik maupun perdagangan. 

Pertanian dan perdagangan bukanlah tumpu dari ekonomi Majapahit. Di berbagai wilayah, kerajinan tangan juga berkembang pesat. Ukiran kayu, patung, perhiasan emas, tembikar, keramik, batik, hingga anyaman bambu merupakan kerajinan yang diproduksi oleh pengrajin. 

Untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus menjadi komoditas dagang barang ini digunakan. Selain itu, peternakan juga turut menyumbang dalam perekonomian. Kerbau, sapi, kambing, ayam, dan itik dipelihara secara luas.

Hasilnya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan konsumsi, tetapi juga menjadi bagian dari sistem perdagangan dan bahkan dikenai pajak oleh kerajaan. Sistem pajak merupakan sumber pemasukan terbesar dari Majapahit.

 

Baca Juga: Berikut Daftar 6 Makanan Tradisional Warisan Kuliner Majapahit yang Wajib Dicicipi

 

Hasil pertanian dikenai pajak, perdagangan di pasar dan pelabuhan pun begitu. Membayar bea masuk dan pajak perdagangan khusus bahkan diwajibkan untuk pedagang asing yang menetap di Jawa. 

Kekayaan kas kerajaan pun bertambah karena hal ini. Selain itu, daerah-daerah taklukan Majapahit juga diwajibkan membayar upeti dalam bentuk hasil bumi, ternak, maupun komoditas khas daerah masing-masing. 

Untuk beberapa komoditas strategis, kerajaan menerapkan monopoli sehingga keuntungan sepenuhnya masuk ke kas pusat. Pada masa Majapahit, semakin maju pula sistem pembayarannya.

Menggantikan sistem barter yang sebelumnya lebih dominan, uang logam tembaga dari Tiongkok akhirnya banyak digunakan dalam perdagangan sehari-hari. Betapa aktifnya transaksi ekonomi kala itu telah dibuktikan dengan temuan arkeologis berupa ribuan keping koin Tiongkok di wilayah Jawa Timur. 

Catatan penjelajah asing, termasuk Ma Huan dari Tiongkok dalam bukunya Yingya Shenglan, menggambarkan Jawa sebagai negeri yang makmur dengan perdagangan yang teratur. Pelabuhan Jawa bahkan dianggap lebih lengkap fasilitasnya dibanding pelabuhan lain di Asia Tenggara. 

Hal ini menunjukkan betapa besarnya peran Majapahit dalam arus perdagangan regional maupun internasional. Kombinasi kekuatan agraris dan maritim menghasilkan kemajuan ekonomi Majapahit.

Majapahit salah satu kerajaan terkaya di Asia Tenggara disebabkan oleh pertaniannya yang produktif, sistem irigasi yang canggih, perdagangan internasional yang ramai, pajak yang terstruktur, serta kerajinan dan peternakan yang berkembang. 

 

Baca Juga: Misteri Masa Pudar Majapahit: Ketika Konflik dan Serangan Memecah Kerajaan

 

Sistem ekonomi yang terintegrasi inilah yang membuat Majapahit mampu mempertahankan kejayaan politiknya sekaligus memperkuat posisinya sebagai pusat peradaban di Nusantara. Dengan memanfaatkan potensi darat dan laut secara seimbang, Majapahit meninggalkan warisan bahwa kejayaan sebuah kerajaan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kokohnya fondasi ekonomi.

Tri Yulia Setyoningrum/FADYA

Editor : Imron Arlado
#perdagangan #majapahit #warisan budaya #Ekonomi Sejarah #nusantara