Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Misteri Masa Pudar Majapahit: Ketika Konflik dan Serangan Memecah Kerajaan

Imron Arlado • Minggu, 31 Agustus 2025 | 01:00 WIB
Ilustrasi Kerajaan Majapahit
Ilustrasi Kerajaan Majapahit

Jawa Pos Radar Majapahit – Kerajaan Majapahit adalah salah satu kerajaan yang terbesar dan memiliki kejayaan di Nusantara.

Sayangnya, setelah diteruskan oleh Hayam Wuruk, kerajaan Majapahit memasuki masa surut yang ditandai dengan berhentinya perkembangan masa kerajaan ini.

Wafatnya Wuruk di tahun 1389 menjadi salah satu tanda penting karena ketidakhadiran pemimpin menjadi satu permasalahan yang tidak dapat diakhiri dengan mudah.

Selain itu, terdapat ketidaksepahaman yang cukup signifikan di dalam kabinet kerajaan.

Pada Perang Paregreg tahun 1404-1406, salah satu dinasti dan kelompok di dalam kabinet berperang memperebutkan kekuasaan, dengan kemenangan akhirnya diraih oleh pihak Wikramawardhana melawan Wirabhumi.

Kondisi pusat pemerintahan sebagai vital negara berada dalam ketidakstabilan, tetapi Majapahit tetap mampu mempertahankan keberadaannya di berbagai aspek.

 

 

Selain itu, masalah baru muncul dari pusat pemerintahan dengan ditemukannya batuan yang menjadi persoalan tersendiri.

Kekuatan baru berupa Kesultanan Demak yang berdiri di pesisir Pulau Jawa mulai menghalangi Majapahit dan aktif mengambil peran penting dalam berbagai pertempuran, termasuk di wilayah strategis seperti Jambi dan Palembang.

Tanda-tanda kemunduran Majapahit mulai terlihat, termasuk di pusat perdagangan di Trowulan yang terkena dampak penurunan tersebut.

Akibat situasi ini, pusat pemerintahan khususnya beberapa bagian penting dipindahkan ke Kediri.

Perubahan ini memicu krisis yang mendalam, meningkatkan kerentanan dan menjadi simbol runtuhnya kejayaan Majapahit.

Faktor alam juga memperparah kondisi kerajaan. Erupsi gunung berapi dan banjir besar yang melanda wilayah Trowulan mempercepat kerusakan infrastruktur kerajaan.

Kejadian bencana alam ini mengurangi kapasitas Majapahit untuk pulih dari krisis politik dan militer.

Meski ada upaya pemersatuan wilayah yang dilakukan oleh penguasa seperti Ranawijaya pada pertengahan abad ke-15, kerajaan tidak mampu mencapai masa kejayaannya kembali.

Pertentangan dan perselisihan internal terus berlanjut, yang semakin melemahkan kekuatan Majapahit. Di sisi lain, Kesultanan Demak terus menguat dan perlahan mengambil alih sisa-sisa kekuasaan Majapahit.

 

 

Menjelang pertengahan abad ke-16, Demak secara resmi menaklukkan sisa kekuasaan Majapahit, menandai berakhirnya kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara.

Banyak anggota keluarga kerajaan dan rakyat Majapahit mengungsi ke Bali dan daerah lain demi melindungi budaya dan warisan mereka.

Warisan Majapahit tidak pernah punah, melainkan tetap hidup sebagai simbol persatuan dan kejayaan Nusantara, meskipun kerajaannya sudah tiada.

Masa pudar Majapahit menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana konflik internal dan tekanan eksternal dapat menghancurkan sebuah kerajaan besar.

Pelajaran ini tetap relevan hingga kini, menjadi pengingat bahwa sebuah kerajaan harus mampu menghadapi tantangan baru agar dapat bertahan lama. (Devi/Linda)

Editor : Martda Vadetya
#hayam wuruk #konflik #majapahit #serangan #nusantara #Kerajaan terbesar