JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Asia Tenggara yang mencapai puncak kejayaan pada abad ke-14. Di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.
Namun, meskipun memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan pengaruh yang besar di kawasan Nusantara, nama Majapahit hampir tidak ditemukan dalam catatan sejarah Eropa.
Keterbatasan akses informasi, perbedaan fokus eksplorasi, serta dominansi perspektif dalam penulisan sejarah dunia pada abad pertengahan.
Pada abad ke-13 hingga 15, Majapahit berkembang sebagai kekuatan maritim dan pusat kebudayaan di Asia Tenggara.
Namun pada periode yang sama, Eropa sedang mengalami masa transisi dari Abad Pertengahan menuju Zaman Penjelajahan.
Fokus bangsa-bangsa Eropa saat itu lebih terarah ke wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara sebagai pusat perdagangan dan konflik (seperti Perang Salib), bukan ke Asia Tenggara yang masih jauh dari jangkauan mereka.
Keterbatasan jalur komunikasi dan transportasi juga menjadi faktor utama. Kontak antara Asia Tenggara dan Eropa saat itu hanya terjadi secara tidak langsung, melalui perantara pedagang India, Arab, dan Tiongkok.
Informasi yang sampai ke Eropa tentang kawasan Asia Tenggara sangat terbatas, kabur, dan sering kali tidak akurat atau tidak dianggap penting.
Sumber-sumber yang dimiliki dunia Barat mengenai Asia pada masa itu sebagian besar berasal dari penjelajah seperti Marco Polo atau catatan pedagang Arab dan Persia. Namun, Majapahit tidak banyak disebut, karena:
- Para penjelajah Eropa belum menjelajah Nusantara secara langsung.
- Informasi yang dibawa pedagang Arab dan India lebih terfokus pada Malaka, Gujarat, atau Tiongkok.
- Majapahit tidak secara aktif menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara Eropa.
Selain itu, pusat perhatian dunia Islam sebagai perantara informasi juga lebih tertuju ke kawasan yang lebih dekat seperti India dan Tiongkok.
Dalam historiografi Barat, banyak peradaban non-Barat yang diabaikan atau dipandang sebelah mata karena tidak memiliki hubungan langsung dengan Eropa.
Penulisan sejarah global cenderung menitikberatkan pada wilayah yang berdampak langsung terhadap peradaban Eropa, sehingga banyak peradaban besar lain termasuk Majapahit tidak mendapat tempat dalam narasi sejarah arus utama.
Baru pada masa kolonialisme dan setelah Zaman Penjelajahan, Eropa mulai mendokumentasikan wilayah Asia Tenggara secara lebih intensif.
Namun saat itu, Majapahit telah runtuh, sehingga kejayaannya hanya dapat dikenali melalui naskah lokal seperti Negarakertagama dan Pararaton.
Ketidakhadiran Kerajaan Majapahit dalam catatan sejarah Eropa bukanlah pertanda bahwa kerajaan ini tidak memiliki peran penting dalam sejarah dunia.
Sebaliknya, hal ini mencerminkan keterbatasan jangkauan informasi dan komunikasi pada abad pertengahan, serta bias dalam penulisan sejarah global yang didominasi oleh perspektif Eropa.
Majapahit berjaya dalam lingkup Asia Tenggara dengan jaringan perdagangan dan diplomasi yang luas, namun tidak terhubung langsung dengan dunia Barat hingga masa kolonialisme datang.
Oleh sebab itu, memahami sejarah Majapahit menuntut kita untuk keluar dari kerangka eurosentris dan memberi ruang bagi narasi-narasi lokal yang selama ini terabaikan.
Mempelajari Majapahit bukan hanya menggali masa lalu Nusantara, tetapi juga upaya untuk membangun pemahaman sejarah yang lebih adil, menyeluruh, dan berimbang dalam konteks global. (NIYA)
Editor : Martda Vadetya