JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kejayaan kerajaan- kerajaan besar yang pernah berdiri di Nusantara. Dua di antaranya yang paling berpengaruh adalah Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit.
Keduanya memiliki peran penting dalam membentuk identitas bangsa Indonesia, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun kebudayaan.
Walaupun sama-sama berstatus sebagai kerajaan besar, Sriwijaya dan Majapahit memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan latar belakang geografis dan masanya.
Waktu dan Pusat Kekuasaan
Kerajaan Sriwijaya berdiri sejak abad ke-7 hingga abad ke-13 M, berpusat di Palembang, Sumatera Selatan. Kerajaan ini dikenal sebagai salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara.
Sementara itu, Kerajaan Majapahit berdiri pada tahun 1293 M dan bertahan hingga abad ke-16 M. Pusat pemerintahannya berada di Trowulan, Jawa Timur. Dari sini terlihat bahwa Sriwijaya lebih dulu berjaya sebelum munculnya Majapahit.
Sistem Pemerintahan dan Politik
Sriwijaya lebih berorientasi pada kekuatan maritim. Kekuasaan politiknya dijalankan dengan menguasai pelabuhan-pelabuhan penting dan mengontrol jalur perdagangan internasional. Sebaliknya, Majapahit memiliki sistem pemerintahan yang lebih kompleks.
Baca Juga: Bahasa Kawi dan Sastra Majapahit Jadi Simbol Kejayaan Intelektual Leluhur
Berbagai jabatan administratif diciptakan untuk mengatur kerajaan, misalnya Mapatih, Rakrian, dan pejabat-pejabat lain yang membantu raja.
Majapahit tidak hanya mengandalkan perdagangan, tetapi juga pertanian dan penguasaan wilayah daratan.
Ekonomi dan Perdagangan
Ekonomi Sriwijaya bertumpu pada perdagangan internasional, terutama komoditas rempah-rempah, kapur barus, dan hasil laut.
Letaknya yang strategis di Selat Malaka menjadikan Sriwijaya sebagai pusat transit kapal-kapal dagang dari India, Arab, hingga Tiongkok.
Di sisi lain, Majapahit memiliki ekonomi yang lebih beragam. Selain perdagangan antarpulau dan internasional, kerajaan ini juga mengandalkan hasil pertanian, terutama padi, serta kerajinan yang diproduksi rakyatnya.
Agama dan Kebudayaan
Sriwijaya dikenal sebagai pusat agama Buddha Mahayana. Banyak biksu dari India maupun Tiongkok yang datang untuk belajar, salah satunya adalah I-Tsing dari Tiongkok.
Sedangkan Majapahit dikenal dengan sinkretisme Hindu-Buddha. Dari kerajaan ini lahirlah karya sastra besar seperti Negarakertagama dan Sutasoma yang menjadi warisan budaya hingga kini.
Wilayah Kekuasaan
Wilayah kekuasaan Sriwijaya meliputi sebagian besar Sumatra, Semenanjung Malaya, hingga Thailand bagian Selatan. Sementara itu, Majapahit memiliki wilayah yang jauh lebih luas.
Di Bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, Majapahit berhasil menyatukan hampir seluruh Nusantara, termasuk Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Maluku, hingga Filipina
Peninggalan Sejarah
Sriwijaya meninggalkan sejumlah prasasti seperti Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, dan peninggalan arkeologi berupa Candi Muara Takus.
Majapahit meninggalkan karya sastra dan berbagai peninggalan fisik seperti Candi Penataran, Candi Tikus, serta situs Trowulan yang hingga kini masih menjadi pusat penelitian sejarah.
Runtuhnya Kerajaan
Keruntuhan Sriwijaya disebabkan oleh serangan dari Kerajaan Cola di India Selatan, ditambah dengan bangkitnya kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.
Majapahit mengalami kemunduran akibat perang saudara (Perang Paregreg), lemahnya sistem pemerintahan setelah wafatnya raja-raja besar, serta berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam yang lebih dinamis dalam perdagangan.
Baca Juga: Mengapa Majapahit Hancur? Yuk, Telusuri Akar Keruntuhan Kerajaan Terbesar Nusantara Ini!
Sriwijaya dan Majapahit sama-sama menjadi simbol kejayaan Nusantara pada masanya. Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim dengan dominasi perdagangan dan pusat penyebaran agama Buddha.
Dan sedangkan Majapahit lebih dikenal sebagai kerajaan agraris-maritim dengan cita-cita menyatukan Nusantara. Perbedaan karakteristik ini justru memperlihatkan betapa kayanya sejarah Indonesia yang terbentuk dari berbagai tradisi besar. (AILEEN)
Editor : Martda Vadetya