JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di balik kisah gemilangnya dalam membawa kerajaan Majapahit menuju kejayaan dengan sumpah palapanya, terdapat banyak kisah tentang Gajah Mada yang juga kerap kali diperbincangkan.
Salah satunya adalah kisah tentang filosofi di balik sebutan legendarisnya, yakni Gajah Mada. Nama Gajah Mada tidak hanya merujuk pada tokoh mahapatih yang tersohor.
Kata Gajah sendiri secara etimologis berarti hewan gajah yang di dunia Hindu Budha merupakan hewan kerajaan yang melambangkan kekuasaan, kestabilan, dan kebijaksanaan.
Hewan gajah juga seringkali dikaitkan dengan gajah kendaraan dewa Indra yang bernama Airavata, dan Ganesa.
Sementara Mada dalam bahasa Jawa kuno atau sansekerta memiliki makna ketinggian gairah atau mabuk.
Kata Mada sendiri dinilai sangat relevan dengan pribadi Gajah Mada yang sangat sulit dihalangi dan membabi buta layaknya orang dalam kondisi mabuk dalam medan perang.
Jadi, gabungan nama Gajah Mada sangat cocok untuk seseorang yang menjadi pendorong utama kerajaan Majapahit agar menjadi kerajaan yang jaya dan memiliki kekuasaan wilayah yang luas.
Di Jawa pra-Islam, ikon gajah hadir sebagai kendaraan dewa, penjaga gerbang utama, dan simbol kedaulatan yang mengisyaratkan kemajuan kerajaan pusat.
Dari situlah penyematan sebutan Gajah pada nama pejabat tinggi memberi makna yang simbolik.
Sebutan Gajah yang menggambarkan sosok pengembang perintah raja yang gagah dan bijak serta Mada yang menggambarkan energi agresif namun dapat mendorong ekspansi.
Beberapa naskah sejarah juga menyebutkan bahwa Gajah Mada memiliki sebutan lain, yakni Jirnnodhara.
Sebutan tersebut secara harfiah memiliki arti pemulih yang muncul dalam pembacaan terkait prasasti Gajah Mada pada tahun 1351 masehi.
Jika sebutan Jirnnodhara dibaca dalam konteks gelar atau julukan, maknanya sejalan dengan sosok yang memulihkan tatanan warisan peninggalan kerajaan Singasari.
Di Indonesia modern, Gajah Mada telah menjadi simbol dari persatuan pulau, teguh politik, dan tata kelola pemerintahan.
Hal tersebut dapat terjadi karena pengabdiannya kepada kerajaan dan pemimpin utama kerajaan yang diabadikan dalam berbagai naskah sejarah Jawa.
Ia muncul di panggung sejarah dalam krisis politik saat terjadinya pemberontakan ra kuti di tahun 1319 masehi.
Gajah Mada hadir sebagai penyelamat raja Jayanegara dan mengevakuasinya ke tempat yang lebih aman serta memulihkan kekuasaan Majapahit di Jawa.
Setelah kejadian tersebut, karier Gajah Mada terus mengalami peningkatan hingga ia diangkat menjadi seorang mahapatih pada era ratu Tribhuwana Tunggadewi dengan masa jabatan sejak tahun 1331-1364 masehi.
Pada hari pengangkatannya sebagai seorang mahapatih, ia juga mengucapkan ikrar legendarisnya yang biasa dikenal sebagai sumpah palapa.
Dalam sumpah tersebut, Gajah Mada menuturkan bahwa ia tidak akan menikmati kenikmatan sebelum berhasil menyatukan beberapa wilayah di bawah kekuasaan Majapahit.
Sejak saat itulah, kerajaan Majapahit terus mengalami perkembangan hingga akhirnya berhasil tampil sebagai pusat kekuasaan maritim yang mengikat banyak wilayah Nusantara dalam jaringan upeti.
Dari makna filosofi yang telah melekat pada nama Gajah Mada, menunjukkan bahwa sebagai seorang pemimpin bukan hanya tentang jabatan yang tinggi.
Melainkan tentang visi, tekad, kebijakan, dan pengorbanan yang tidak ragu untuk dilakukan.
Hal ini juga dapat menjadi jawaban paten mengapa nama Gajah Mada masih tetap hidup hingga saat ini.
Bukan hanya dalam buku sejarah, tetapi juga dalam jiwa dan tekad bangsa untuk selalu dalam satu kesatuan meski memiliki banyak perbedaan. (FANEZA)
Editor : Martda Vadetya