Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Pengaruh Kerajaan Majapahit terhadap Perkembangan Bahasa Jawa di Nusantara

Imron Arlado • Jumat, 22 Agustus 2025 | 18:00 WIB

 

Kerajaan Majapahit (1293-1527 M) merupakan salah satu kerajaan terbesar yang pernah berdiri di Nusantara. sumber foto: pinterest
Kerajaan Majapahit (1293-1527 M) merupakan salah satu kerajaan terbesar yang pernah berdiri di Nusantara. sumber foto: pinterest

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit (1293-1527 M) merupakan salah satu kerajaan terbesar yang pernah berdiri di Nusantara. Di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.

Majapahit berhasil menyatukan berbagai wilayah kepulauan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang terkenal hingga saat ini. Kejayaan Majapahit tidak hanya sekedar aspek politik dan militer, tetapi juga dalam bidang budaya, sastra, dan bahasa.

Salah satu warisan penting dari Majapahit adalah penyebaran bahasa Jawa, yang kala itu digunakan sebagai bahasa administrasi, sastra, hingga komunikasi lintas wilayah. 

Penyebaran ini tidak hanya terbatas di pulau Jawa, tetapi juga mencapai daerah-daerah lain seperti Bali, Sumatra, Kalimantan, hingga sebagian wilayah di Indonesia Timur.

 

Ekspansi Politik dan Penyebaran Bahasa

Majapahit menguasai wilayah yang luas, meliputi hampir seluruh kepulauan Nusantara, termasuk Sumatra, Kalimantan, Bali, Sulawesi, hingga Maluku. Proses ekspansi ini membawa serta bahasa Jawa sebagai bahasa administrasi dan komunikasi antarwilayah. 

 

Baca Juga: Seni Majapahit dan Tari Topeng, Jejak Estetika, Simbol, dan Warisan Budaya yang Hidup Hingga Kini

 

Dalam catatan sejarah, bahasa Jawa Kuno maupun Jawa Tengahan sering digunakan dalam naskah hukum, sastra, serta prasasti. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Jawa memiliki fungsi resmi dalam pemerintahan Majapahit.

 

 

Bahasa Jawa sebagai Bahasa Administrasi dan Sastra

Bahasa Jawa banyak digunakan dalam karya sastra yang berkembang pada masa Majapahit, misalnya kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca dan Sutasoma karya Mpu Tantular. 

Melalui jalur pelayaran dan perdagangan, bahasa Jawa tersebar ke luar Jawa dan digunakan sebagai bahasa komunikasi antar pedagang maupun pejabat kerajaan di wilayah taklukan. Dengan demikian, bahasa Jawa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga media penyebaran nilai budaya Majapahit.

 

Pengaruh di Bali

Salah satu daerah yang paling kuat menerima pengaruh bahasa Jawa adalah Bali. Setelah keruntuhan Majapahit, banyak bangsawan, pujangga, dan masyarakat Jawa yang bermigrasi ke Bali. 

Mereka membawa tradisi sastra, agama Hindu, serta bahasa Jawa Tengahan. Hingga kini, pengaruh bahasa Jawa masih terlihat dalam bahasa dan sastra Bali klasik, seperti dalam kakawin dan naskah lontar.

 

 

Jejak di Sumatra dan Kalimantan

Selain Bali, bahasa Jawa juga meninggalkan jejak di Sumatra dan Kalimantan. Di Sumatra, terutama di daerah Palembang dan sekitarnya, bahasa Jawa bercampur dengan bahasa Melayu yang kemudian menjadi cikal bakal bahasa Melayu Klasik. 

Di Kalimantan, khususnya di wilayah pesisir yang memiliki hubungan dagang dengan Jawa, bahasa Jawa dipakai dalam interaksi sosial dan perdagangan.

Warisan Bahasa Jawa di Masa Kini

Meskipun kekuasaan Majapahit telah runtuh, warisan bahasa Jawa tetap bertahan di luar Jawa, terutama di Bali dan beberapa daerah lain yang pernah menjadi bagian wilayahnya. 

 

Hal ini membuktikan bahwa bahasa Jawa tidak hanya sekedar alat komunikasi, tetapi juga instrumen budaya yang mampu membentuk identitas suatu masyarakat.

 

 

Pengaruh Kerajaan Majapahit terhadap perkembangan bahasa Jawa di luar Pulau Jawa sangat besar, terutama melalui jalur politik, perdagangan, migrasi, dan budaya. Bali menjadi contoh paling nyata bagaimana bahasa Jawa melebur dengan tradisi lokal dan bertahan hingga kini. 

Jejak bahasa Jawa di Sumatra, Kalimantan, hingga wilayah lain menunjukkan bahwa bahasa ini pernah menjadi lingua franca di Nusantara pada masa kejayaan Majapahit. (AILEEN)















Editor : Martda Vadetya
#bangsawan #penyebaran bahasa #Hayam Wuruk Festival #bali #gajah mada #indonesia timur #sastra #kerajaan majapahit #politik #jawa